Nabiku Idolaku
Cari Berita

Advertisement

Nabiku Idolaku

Rabu, 29 November 2017

Ilustrasi (foto : Pelatih Indonesia)
Kurang lebih tiga puluh tahun lalu, Arswendo Atmowilopo di bui karena tabloid yang ia pimpin memuat survey tentang posisi Nabi Muhammad saw yang menempati urutan 16 pada sejumlah tokoh yang di-idolakan. Ia disebut telah melecehkan Nabi Muhammad saw, diadili dan dibui untuk waktu tertentu.

Michael Heart seorang peneliti senior dan penulis beberapa buku bermutu memposisikan Nabi Muhammad saw pada urutan nomor satu sebagai tokoh paling berpengaruh mengubah dunia. Heart punya banyak alasan dan bukti otentik kenapa Nabi saw di urut paling atas. 

Arswendo Atmowiloto dan Michael Heart melihat nabi Muhammad saw dari dua sisi berbeda. Dan itu yang sering luput dipahami karena kebiasaan kita selalu memandang sesuatu secara parsial. Dan akibatnya jelas: gagal paham. Lalu memvonis dengan pemahaman yang kita dapat meski pemahaman kita juga belum tentu mutlak benar.

Saat sekarang saya sangat prihatin dengan kondisi sebagian besar masyarakat yang tidak mengenal Nabi Muhamad saw, bahkan cenderung dilupakan kemudian mencari idola baru. Survey Arswendo bagi saya adalah informasi berharga, dengannya kita tahu kemana arah kecenderungan anak muda saat itu. Dan kita prihatin ternyata dakwah kita masih jauh dari kata berhasil.

Survey 30 tahun lalu setidaknya membuat kita semakin giat berdakwah dan berinovasi dalam mengenalkan Nabi saw sebagai panutan umat. Sosok Nabi saw bergantung bagaimana kita memperkenalkan. Apakah seorang pemaaf yang berbudi, atau seseorang yang keras dan suka menghukum atau seorang santun yang suka memberi.

Jika 30 tahun silam Nabi Muhammad saw menempati urutan 16 sebagai tokoh yang di-idola, bagaimana dengan sekarang ? Yang jelas saya tak akan melakukan survey macam itu karena saya takut hasilnya pasti menyedihkan. Lebih baik tidak tahu atau pura-pura tidak tahu itu lebih aman.

Di dunia yang serba hedonis tak gampang merawat ke-imanan. Kita tak tahu pada posisi berapa nabi saw sekarang berada. Dan itu tugas besar yang tidak pernah selesai. Tak heran jika peran keteladan justru bergeser, bukan lagi kepada nabi saw tapi kepada ulama-ulama bahkan tokoh-tokoh yang dianggap memenuhi hasrat sebagai idola. Tidak salah, tapi juga mengkhawatirkan.

Jika keteladanan diambil parsial: karena kerasnya atau karena sikap pemberaninya saja tanpa melihatnya secara utuh, keutuhan nabi saw akan mengalami reduksi dan peng-kerdilan. Bukankah Nabi saw adalah sosok sempurna yang tiada mungkin di kembari.

Dan salah satu tugas kita yang tak pernah bakal selesai adalah: terus mengkampanyekan nabi saw sebagai teladan dan itu perlu cara cerdas. Dan cara dalam ibadah ghairu mahdhah tidak perlu dalil. Fatwa Tarjih MUHAMADIYAH sangat jelas. Maulid adalah soal ijtihadiyah: tidak ada dalil yang memerintahkan juga tak ada dalil yang melarang: artinya boleh dilakukan sepanjang tidak melanggar syar'i seperti sikap berlebihan saat memuji. Jadi laksanakan Maulid dengan cara santun agar nabi Muhammad saw dikenal dan menjadi teladan bagi orang banyak. Sholuu 'alaih..... Wallahu a'lam.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar