Laskar Pembunuh Teman Se-iman
Cari Berita

Advertisement

Laskar Pembunuh Teman Se-iman

Senin, 27 November 2017

Orang-orang duduk di samping jenazah pemuja yang tewas dalam serangan di masjid di kota utara Arish, Semenanjung Sinai, Mesir (foto : republika).
Siapa bisa jelaskan jika Al Quran dapat dijadikan pembenar para monster yang mengaku mujahid Allah melakukan pembunuhan masal usai shalat Jumat di sebuah masjid er Rawda di Mesir. Berkali saya ingatkan itulah bahayanya jika sekelompok mengaku benar sendiri.

Takbir bergema, ayat Al Quran keras dibaca, mayat bergelimpangan. Darah berceceran. Ratusan lainnya menjerit histeris. Bangunan rumah Allah itu luluh lantak. Disusul suara isak tangis dan dada sesak sulit bernapas karena asap mesiu bau anyir darah. Tuhan dimana Engkau.

305 orang tewas seketika. Para penyembah Allah itu dianggap musuh. Layak dibunuh, tak boleh hidup. Inilah keyakinan para mujahid yang mengaku laskar Hizbullah membawa panji-panji kebenaran yang diyakini sendiri.

Kebenaran datangnya dari Tuhanmu maka janganlah kalian ragu (Al haqqu min rabbikum fala takunan na minal munmariin). Tapi siapa kalian merasa membawa kebenaran dari Tuhan. Lantas membunuhi siapapun yang berbeda dengan kebenaran yang kalian yakini. 

Kepada siapa kebenaran berpihak. Atas nama kebenaran dari Tuhan itu pula segala yang berbeda harus ditiadakan. Siapa Tuhan kalian, sehingga Kebenaran mengabdi kepada yang galak. Dan Tuhanpun beringsut diantara kemarahan dan dendam yang dibungkus atas nama agama.

Para pengikut agama tak ubahnya hanya perkumpulan para Paderi yang siap mati pada kebenaran yang diyakininya itu. Di mimbar itu suara takbir heroik bergema. Permusuhan dimulai, dendam dibenam diantara ribuan marah para juru khutbah.

Konon secarik kain hitam bertuliskan syahadat yang diklaim sebagai bendera Rasulullah itu menjadi saksi atas hilangnya ribuan nyawa teman seiman yang mati di sajadah tempat ia meletakkan kening dan bersujud memuji kemuliaan Allah. Mereka terbaring telungkup. Kuyu dan kaku. 

Sejenak puluhan laskar yang mengaku tentara Allah itu tersenyum. Sambil berlari kecil diantara ratusan lainnya yang meregang nyawa. Kebenaran telah ditegakkan katanya lirih bergumam, diantara ratusan nyawa yang bergelimpangan dan jerit yatim yang ditinggal mati bapaknya.

Barisan Abdurrahman Ibnu Muljam Al Maqri' (pembunuh Sayidina Ali ra) itu bangkit berdiri, sekumpulan generasi merasa benar sendiri. Mereka sekelompok yang mengucap takbir dengan kebencian dan amarah. Kumpulan para pembunuh teman seiman dengan ayat-ayat Allah. 

Entah kita berada pada kebenaran yang mana. Saat teman seiman meneriakkan takbir sambil membenamkan belati di ulu hati.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar