Kumpulan Puisi Seorang Hamba Untuk Sang Khalik
Cari Berita

Advertisement

Kumpulan Puisi Seorang Hamba Untuk Sang Khalik

Senin, 13 November 2017

Ilistrasi (foto : Utamiye's Blog - WordPress.com)
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, mantra, rima serta penyusunan larik dan bait; sajak. Puisi juga merupakan sebuah karya sastra yang bahasanya dipadatkan melalui pikiran dan imajinasi penyair sehinggal menghasilkan bahasa yang indah.

Sebagaimana 4 puisi dibawah ini, sebuah puisi tentang tanya, tentang makrifat ilahi, tentang bijak, dan tentang takdir kesemuanya adalah puisi tentang seorang hamba yang rindu akan tuhannya. Berikut 4 puisi karya Ginanjar Kartasasmita : 

Tanyaku

Sering ku terdiam untuk sekedar bertanya, Kini telah sampai di manakah diriku? Apakah aku masih sebatang ranting kering? Ataukah kini menjelma menjadi dahan yang kuat?

Aku bertanya, aku melihat di balik cermin itu apakah semuanya baik baik saja ataukah kutukan tuhan dalam takdirnya menjumpai sedihku

Aku terdiam lalu kutantang cermin itu meski tertampar aku tetap melototi rautku yang makin kusam

Sipu terpampang menyudahi pandangku, kembali aku renung siapakah aku, apakah aku, lalu tanya tanpa wujud menghardik batinku apakah kau terbuang?? tanya yang mampu menggoyahkan yakinku.

Aku jawab dengan lirih aku bukan saja terbuang tapi aku tertindas dan terlindas dalam lumpur kegelapan.

Meraih Makrifat Illahi

Aku rindu dalam sabda yang mempunyai dzat

Aku ingin hidup dalam tegap seperti mereka

Aku ingin kisah ini berakhir dengan indah

Aku ingin dalam lauhil mahfudznya tertulis kisah yang mengharukan semua jiwa

Aku ingin sabdamu begitu indah
Aku yakini ayatmu begitu mempesona aku lakoni

Aku amati setiap lembaran tafsirmu
Aku kisahkan semua kisah kesan dalam episodemu

Semoga dalam meraih makrifatmu selalu diaminkan oleh penghuni surgamu

Menggapai Bijak

Lelah melepuh menempuh jenuh aku pijaki kaki dalam mendaki semua milik

Aku bangkit mengungkit meskipun sulit, meraih sedih dalam perih lalu aku buang dalam kubangan

Sekali lagi aku tersuntuk menjamu majemuk yang kian berkutik melawan arus yang begitu buas
Aku berjalan dalam kesendirian

Himpit mengapit segala picik semua aku lakoni dengan bijak

Akulah sang pengelana
Sang pengelana tak seperti ini
Tak serapuh pikiran kejiku
Tak sesuntuk majemukku
Tak sesempit jalanku
Akulah pejuang dari hidupku
Yahh aku pejuang bagi diriku untuk menggapai bijakku.

Memahami Takdir

Menghardik diri dan yakin ini
Coba aku pahami namun semua tetap tak terbaca

Aku hilang dalam gelap
Merintih di sudut jalan
Aku tak terbaca
Aku terbuang
Aku tak ternilai

Sempatku terdiam dan memahami segala soal ini
Namun semua tetap terlilit dalam kabut yang menganga.

Akankah semua kembali berwarna
Akankah kanvas kusam mampu kembali memekarkan bunga, tanyaku
Aku diam dalam dekapan luka.