(Kisah Nyata) Rantau
Cari Berita

Advertisement

(Kisah Nyata) Rantau

Sabtu, 18 November 2017

Ilustrasi Perantau (foto : Forum Liputan6)
Episode 1

Namaku Ginanjar usiaku saat ini telah berada pada angka 21 Tahun. Aku adalah seorang anak desa yang tak pernah henti untuk bermimpi. Bagiku mimpi itu hak setiap orang. Mau dia bermimpi jadi Ilmuwan, Psikolog, Guru, Pengacara, Presiden, bahkan sama sepertiku yang ingin menjadi seorang Sastrawan. Tapi setelah ayah tiada, segala daya hidupku hilang. Aku harus memendam mimpiku.

Sekian lama setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) aku masih saja menjadi pengangguran dari kepengapan ekonomi desa. Sepi dan pedih menahan diri untuk tetap tinggal di desa, namun aku tak tau apa yang harus kulakukan. Tak ada pekerjaan, tak ada teman, tak ada siapa-siapa selain diam menyendiri.

Bosan dengan keadaanku, aku pun mengumpulkan niat dan keberanian untuk pergi merantau. Namun ibu tidak mengijinkannya karena sudah tidak ada lagi anaknya yang tinggal di rumah selain aku; kakak-kakakku sudah menikah dan tinggal di luar daerah, dan dua adikku merantau menimba ilmu di kota. Aku akhirnya berbohong kepada ibu agar diberikan izin untuk mencari pekerjaan di kota Bima.

Dengan penjelasan dan tuturku yang ingin mengadu nasib di kota Bima, karena alasan dekat dan mudah dijangkau oleh kendaraan, akhirnya ibu mengijinkan aku untuk pergi.

“Nak ibu sudah tak lagi punya uang, uang simpanan ibu cuma segini adanya.” Ungkapnya pilu sambil diperlihatkannya pecahan 50 ribu dua lembar.

Setelah mendapat restu dari ibu, aku berangkat di antar oleh teman sekampungku dengan menggunakan motor pribadinya. Butuh waktu tiga jam perjalanan untukku bisa sampai ke kota. Sesampai di sana aku mencari pekerjaan dan kebetulan aku bertemu dengan teman lamaku yang punya usaha di bidang server listrik. Aku pun mulai bekerja di sana sebagai buruh kabel listrik (instlatir) kabel jaringan dengam gaji harian 40 ribu rupiah.
Aku bekerja dari daerah ke daerah dari kabupaten ke kota (bima-dompu), karena memang pekerjaanku sebagai buruh mitra kerja PLN. Aku bekerja di setiap desa-desa terpencil yang belum mempunyai listrik. 

Setelah enam bulan bekerja sebagai buruh kabel, aku akhirnya keluar dari pekerjaan tersebut dengan alasan ingin mencari sesuatu yang lebih menantang. Aku keluar dengan gaji yang tidak sesuai keringat. Bagaimana tidak, upah yang seharusnya dibayar enam bulan hanya dibayar setengah bulan kerja saja karena aku memutuskan kontrak kerja yang belum selesai masa kontraknya.

Aku mencoba mencari pekerjaan lain di toko-toko seputaran kota Bima. Namun tak ada satu pun lowongan yang sesuai dengan keahlianku. Berangkat dari itu aku memutuskan untuk merantau keluar dari daerah Bima dan berencana ke kota Makassar. Dengan sisa uang yang ada di dompetku sejumlah Rp. 250.000, kubulatkan tekad untuk membeli tiket dengan harga Rp. 225.000,- (Bima-Makasar). Dan hanya dengan sisa uang Rp. 25.000,- aku meninggalkan kota kesayanganku. 

Namun sebelumnya, aku terlambat tiba di pelabuhan. Aku datang tidak sesuai dengan jadwal jam yang tertera di tiket. Aku kecewa karena kapal sudah mengangkat semua tangganya dan akan meninggalkan pelabuhan. Namun keajaiban datang, tiba-tiba seorang buruh menarikku, “kamu naik saja di kepalanya kapal, aku akan menghubungi petugas” katanya sambil bergegas menuju kapal. Setelah itu aku naik lewat kepala depan kapal dan dibantu dorong oleh buruh kapal untuk meloncat ke atas tubuh kapal.

Usai mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada buruh kapal yang telah membantuku, aku bergegas masuk dalam kamar yang berada di dek kelima dan mencari tempat yang kosong. Setelah mendapatkannya kusimpan semua barangku di atas rak tempat tidur. Belum sempat hilang penatku tiba-tiba seorang wanita setengah tua mendekat ke arahku, “kamu yang tadi naik lewat kepalanya kapal?” tanyanya penasaran.

“Iya tante” Jawabku

Kemudian wanita itu berkata lagi

“kamu adalah sejarah kedua dari titanic sepanjang hidup tante. Kamu orang kedua dari Jhon sosok laki-laki yang diceritakan Rose dalam film titanic.”

“Lalu, apakah kita juga akan berakhir seperti kisahnya Titanic? Apakah kita akan tenggelam bersama di lautan lepas ini?” 

“Kamu tuh ngawur yah kalau ngomong” cetusnya geram diiringi tertawa bahak para penghuni kamar yang lain.

Dalam perjalanan di tengah samudera, kusempatkan mencoret kertas dengan penaku.

Dalam perjalanan melewati laut buas yang begitu ganas. langit menitikan air mata yang melebur dalam gemerciknya air laut. Petir sesekali menyambar menunjukan keangkuhan dan kemilau cahayanya. Kubersimpuh dalam dekapan doa ibuku; wahai Allah yang maha bijaksana tolong bimbinglah langkahku untuk tujuan yang lebih mulia, mencari ridhomu dalam melewati samudera yang telah Engkau ciptakan.

Kudengar lantunan adzan berkumandang di bawah hitamnya langit malam dan gelapnya cakrawala yang terpampang makin menggetarkan hati yang memang sudah bimbang. Tuhanku Allah yakinku bersamamu, di tepian aku akan menepi.

Bersambung......

Penulis : Ginanjar
Editor   : Ell Al Khaytam