Kisah Nyata : Berawal Dari Facebook Berakhir Dengan Pernikahan "Fabiayyi ala Irobbikuma Tukadziban"
Cari Berita

Advertisement

Kisah Nyata : Berawal Dari Facebook Berakhir Dengan Pernikahan "Fabiayyi ala Irobbikuma Tukadziban"

Rabu, 22 November 2017

Ilustrasi (foto : goriau.com)
Assalamualaikum untuk pembaca goresan kisah ini.

Sebelumnya, ini adalah kisah dari seorang teman yang meminta saya menuliskannya. Entah bagaimana memulai cerita ini, sadar atau tidak saya tetap menuliskan cerita ini sekalipun berat untuk dituangkan.

Hati sempat menarik diri dari pena, namun ganjalan lain memaksakan tangan untuk tetap meggenggam pena itu, tangan menari seiring irama hati seakan tak ingi berhenti untuk tetap terus mencurahkan semuanya, dan akan terheti jikalah tinta tak tersisa lagi di dunia. Heheh. Sedikit pengantar untuk lebih memahami cerita.

Marilah memulai cerita ini, anggap saja ini hanya gurauan kebodohan pribadi saya. Tapi tetap saya peruntukan kepada para pembaca yang budiman khususnya teman yang memiliki kisah ini.

Saya memulai tulisan ini serasa berada di persimpangan. Kira-kira apa kalian mengerti apa itu persimpangan? ibaratnya seperti ini! Kita berada pada pilihan di mana pilihannya memiliki kualitas yang berbeda dan itupun semuanya kita butuhkan.

Jalan lurus kepada “Tuhan”, berjalan pada persimpangan kiri “Wanita”, atau persimpangan kanan pada “Harta”. Nah...kira-kira seperti itulah pihannya. Sesuatu yang sulit bukan? sayapun mengira kalian akan seperti ini jika beada pada posisi saya.

Perjalan itupun dimulai tepatnya pada tahun 2011, pertama kali menginjakan kaki di kota Daeng (Makassar) dengan muka masam, polos dan bisa dikatakan kelihatan bodoh. Jalan hidup pada saat itu masih berjalan pada taraf yang normal, iya masih seperti orang yang tidak memiliki beban, dan belum juga memiliki ketertarikan kepada sesuatu, kecuali yang namanya menuntut ilmu. Kurang lebih seperti itu prinsip awal saya selaku mahasiswa baru dulu. Iya itu dulu!

Kuliah dan organisasi menjadi rutinitas yang tidak bisa saya tinggalkan, tiga semester bisa dikatakan sebagai ajang pencarian jati diri. Saya selaku pribadi yang aktif dalam setiap forum dan masih suka sekali dengan sebuah perkumpulan yang namanya organisasi, entah itu intra maupun ekstra. Suka sekali pada tantangan tanpa harus berpikir apa yang akan terjadi dikemudian hari sebagai akibat dari sebuah tindakan yang salah. Rasanya akibat itu masih terlalu jauh untuk dipikirkan, yang penting saya suka, senang, dan puas bahkan orang lainpun tidak saya perdulikan. Kadang merasa diri egois, kadang pula merasa terlalu berambisi, terlalu berharap pada sebuah pujian dan sayapun mengatakan bahwa harta itu adalah sebuah pujian dari orang lain sebagai bentuk pengakuan bahwa kita bisa, dan kita mampu. Itulah yang saya kejar dulu, dan sayapun menyadari bahwa itu adalah suatu kesalahan.

Rotasi kehidupan begitu cepat berputar, rona-rona kehidupan mengajarkan kepada saya bahwa kehidupan tidak melulu stagnan. Seiring berjalan waktu sayapun merasa apa yang saya lakukan itu begitu monoton dan sudah mulai saya tinggalkan, sayapun bingung harus apa lagi, kejenuhan itu sudah mulai memanggil, disitu pula saya mulai melirik mahluk halus yang orang kenal dengan sebutan “Wanita”. Iyaaa, wanita itu barat magnet memiliki daya tarik tersendiri, seberapa jauhpun engkau tarikan itu akan tetap terasa, seakan menarik untuk lebih dekat dan mendekapnya.

Sebut saja namanya Sintia, wanita inilah yang mampu membuat saya tertawa sendiri, sakit sendiri, dan gila sendiri, suatu ironi bukan? Pertanyaan saya apakah ini yang orang rasakan ketika jatuh cinta? Awal pertemuan dimedia sosial yang memang sangat ngetren dikalangan anak muda, yaitu Facebook. Saya yang memulai semuanya. Menyapanya dengan kata yang saya anggap sangat sopan. Assalamualaikum, memulai percakapan dengan dia. Selang beberapa menit iyapun menjawab salam itu. Kurang lebih seperti ini.

Saya: Assalamualaiku..?
Sintia: walaikumsalam..Kenapa..? dia bertanya dengan nada mengadili.
Saya : gak, kenapa-kenapa, tidak salahkan saya berteman denganmu.? spekulasi rasanya jawaban saya.

Setelah itu tidak dijawab begitupun seterusnya. Lebih kurang 10 hari saya memberinya salam semuanya tidak dibalas, sayapun memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi dan mencoba menghapusnya dalam pikiran. Namun tiba suatu ketika iya menchat saya dulu dengan kata yang membuat saya jungkir balik diatas tempat tidur. Dia bilang tumben tidak memberi salam..! Di situ saya merasa sangat senang dan menjadi orang paling bahagia pada saat itu. Kalau kalian pernah jatuh cinta pasti kalian mengerti yang saya rasaka.

Setelah itu saya memulai kembali chat, saling bertanya satu sama lain dan kami mulai merasa nyaman dengan itu semua, saling bertukar cerita satu sama lain, serta memulai untuk bertemu, iya itu saya yang mengajaknya bertemu, kamipun bertemu disalah satu cafe di Kota Daeng.

Tentu kalian tahu bagaimana pertama kali bertemu dengan sang dambaan hati. Keringat mambasasi seleuruh tubuh, bahkan detak jantung begitu terasa cepatnya. Ibarat ingin melihat tapi bersembunyi, pokonya segala yang menghambat pertemuan istimewa itu saya jaga, mulai dari duduk hingga bagaimana memulai percakapan. Malu rasanya, saya memulai pertemuan itu dengan ngobrol seputar dunia masing-masing, tapi sayang jarum jam terlalu cepat berlalu. Akhirnya kami menyelesaikan pertemuan yang berkesan itu. Diri ini begitu terlena dengan sosoknya.

Singkat, tapi kesan yang begitu luar biasa saya dapatkan. Pertemuan itu kira-kira lebih kurang tiga jam dan sayapun pulang dan mengantarnya kembali kerumahnya, begitupun saya kembali pula ke kos. Rasa ngantuk saya tahan, sebab wajah manis nan anggun selalu menghampiri. Terima kasih Tuhan engkau telah mempertemukan sosok bidadari malam ini.

Berawal dari pertemuan malam itu, akhirnya kami selalu ingin bertemu. Sejak kejadian tersebut saya mengabaikan semuanya, kuliah terbengkalai, hubungan dengan Tuhan pun saya lupakan. Disaat saya mendapat nilai ujian tidak bagus (ini salah satu masalah halusnya, masih ada yang lain) saya mulai berpikir ini adalah suatu kesalahan, saya mulai menyalahkan pujaan saya, karena dia saya begini, egois sekali kelihatannya, saya begitu cepat melupakan Tuhan. Melaksanakan kewajibanpun sebagai manusia beragama tidak sempat. Di situ saya mencoba memulai untuk kembali beribadah kepada Tuhan, serasa saya punya Tuhan ketika bermasalah aja, saya berdo,a agar semuanya tidak terjadi, dan masalahpun justru tambah datang lagi, saya dikabarkan akan di DO (drop out) kalau tidak mencapai Sistem Kredit Semester (SKS). Sayapun sempat berfikir Tuhan tidak bisa membatu saya, sungguh sangat picik pemikiran saya pada saat itu.

Saya selalu menyalahkan Sintia, sungguh sangat egois, saya mulai mengabaikan panggilannya, saya merasa dia menjadi pengganggu saja padahal sayalah yang tidak dewasa menyikapi itu hingga Sintia pun mualai merasa tidak nyaman dengan hal itu dan diapun memutuskan untuk menyudahi semuanya, kamipun berpisah. 

Saya mulai merasa tidak terbebani, di lain sisi saya butuh akan dirinya. Saya memulai kembali penjelajahan hidup ini. mulai mendekatkan diri kepada sang pencipta, dan berusaha untuk tidak meninggalkan ibadah. Seiring berjalanya waktu saya senantiasa melaksanakan kewajiban terhadap sang Khalik. Menghadiri pengajian dan forum-forum yang membahas tentang islam. Saya jadi ingat tema pengajian pada saat itu, akhirnya membuat saya berpikir kembali kesalahan saya, yaitu dilarangnya pacaran dalam hukum islam. Di situ saya merasa baru menemukan jati diri. Terus memperbaiki hubungan dengan Tuhan maupun berurusan dengan kuliah menjadi prioritas utama saat ini. Sampai pada akhirnya dunia perkuliahan dapat selesai meskipun dalam waktu 7 tahun. Waktu selalu mengajarkan saya untuk selaku berbuat baik. Akhirnya tanpa terasa masalahpun selesai, namun kesalahan saya pada Sintia masih tertata dalam pikiran.

lebih kurang setengah tahun setelah wisuda saya mendapat pekerjaan menjadi pegawai di kantor swasta, namun tidak disangka Sintia juga telah lebih dulu bekerja di situ. Dalam hati saya berkata apakah ini jalan Tuhan? Saya berpapasan denganya dan ingin sekali menyapanya, namun rasa malu masih begitu kuat membendung semuanya, berpapasan seolah tak saling kenal, namun setiap hari saya selalu memikirkannya hingga suatu waktu menghubunginya kembali untuk meminta maaf.
Ilustrasi (foto : Rumah Zakat)
Sungguh Tuhan mempermudahkan semuanya, saya di maafkan olehnya. Kamipun memulai hubungan, pertemanan, sayapun mulai iseng bertanya apakah dirinya sudah memiliki pasangan, dia menjawab belum, dan dia lanjut bertanya kenapa? Dalam hati saya berkata dia masih seperti yang dulu. Saat itu pula saya menyatakan kepadanya maukah kamu ta'aruf dengan saya. seketika iya menjawab Insya Allah saya siap ketika memang engkau meniatkanya karna Allah. Di situ pula saya memulainya, lebih kurang tiga bulan ta'aruf saya memutuskan untuk melamarnya, sungguh bahagia saat itu sambutan hangat keluarga menerima lamaran itu. Tiada kata yang lebih indah selain ucapan syukur kepadah Tuhan yang telah mempertemukanku denganya tulang rusukku. Lebih bahagianya lagi setelah 1 tahun umur pernikahan kami ditipkanya seorang generasi penerus yaitu dikaruniainya seorang anak laki- laki.

Alhamdulillah, kata syukur itulah yang selalu terucap dibirku. Fabiayyi ala Irobbikuma Tukadziban (maka nikmat tuhan manakah yang kamu dutakan)

Sekian catatan kecil dari penulis. “Jika ingin memiliki cinta yang berkualitas, maka dekatilah penciptanya sebelum ciptaannya”.

Sampai jumpa di cerita selanjutnya. Semoga bermanfaat.

Penulis : Muhaimin
Editor : Muh. Ainul B