Ketika Mubahalah Ditolak Buni Yani pun Melawan : Saya Rela Mati!
Cari Berita

Advertisement

Ketika Mubahalah Ditolak Buni Yani pun Melawan : Saya Rela Mati!

Rabu, 15 November 2017

Ketika Buni Yani meneriakan Takbir (foto : nasional.tempo.co)
Indikatorbima.com - Buni Yani tidak pernah merubah pernyataanya. Ia tetap pada pendiriannya, bahwa dirinya tidak pernah memotong video pidato Ahok. Meski pada akhirnya ia dinyatakan bersalah dan divonis 1,6 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bandung, namun Buni Yani tetap akan Melawan, bahkan rela mati demi kebenaran. Rabu, (15/11/17).

Sejak awal kasus dugaan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) tersebut bergulir sampai divonis bersalah, Buni Yani tetap bersikeras menyatakan bahwa dirinya tidak pernah memotong video pidato Ahok. Dirinya hanya meneruskan atau membagikan video dari orang lain.

"Saya bukan pertama kali meng-upload video. Sama sekali bukan saya. Ini kan dari pemda kemudian dari media NKRI. Saya dituduh memotong yang dari 1 jam ke 31 detik. Itu tidak benar," ucap Buni di Jakarta, Senin 7 November 2016 lalu sebagaimana dikutip pada Liputan6.com. 

"Saya tidak punya kemampuan editing. Saya tak punya alatnya. Saya tidak ada waktu, karena saya mengajar. Saya enggak ada kepentingan," ucap Buni Yani lagi kala itu.

Tidak kurang dari 19 kali Buni Yani menjalani sidang, pada setiap sidang itu pun Buni Yani tetap pada pendirian awalnya bahwa dia tidak melakukan perbuatan sebagaimana dituduhkan oleh pihak jaksa, bahkan sumpah mubahalah pun dilontarkannya berulang kali demi menegakan kebenaran dan keadilan. 

"Dalam persidangan yang mulia ini saya berulang kali menyampaikan mubahalah saya, sumpah paling tinggi dalam agama Islam. Saya tidak pernah memotong video," ucap Buni Yani dalam persidangan sebagaimana dikutip pada Kompas.com. 

"Dan, apabila hari ini saya diputus bahwa saya dinyatakan bersalah dalam perkara ini, orang yang menuduh dan orang yang memutuskan perkara ini karena telah menuduh saya memotong video mudah-mudahan orang tersebut kelak akan dilaknat oleh Allah." Lanjutnya dengan tegas, Selasa 14 November 2017.

Tak segan-segan Buni Yani menantang kejaksaan menaruh Al Quran diatas kepalanya untuk disumpah bahwa dirinya akan dilaknat oleh Allah jika dirinya benar melakukan perbuatan memotong video itu. 

"Kalau Saudara ingin memastikan kalau betul-betul saya yang memotong (video). Kalau saya memotong video itu, taruh Al Quran, saya bersumpah langsung, saya dilaknat Allah saat ini juga. Tetapi, kalau saya tidak melakukan (memotong atau mengedit video), kalian yang dilaknat Allah," kata Buni sambil memukulkan lembaran berkas ke meja.

Namun demikian, Majelis hakim yang diketuai M Saptono itu tetap menilai bahwa, Buni Yani secara sah dan meyakinkan bersalah atas perbuatannya. Majelis hakim pun menjatuhkan vonisnya. 

"Menjatuhkan pidana oleh karena itu kepada terdakwa dengan pidana selama 1 tahun dan enam bulan," tutur Saptono sebagaimana dikutip pada kompas.com. 

Mendengar putusan majelis hakim tersebut, Buni Yani tak sedikit pun gentar apalagi takut. Ia bahkan rela mati demi menegakan kebenaran dan keadilan. 

"Jangankan penjara, saya rela mati," kata Buni Yani sebagaimana dikutip pada kompas.com.

"ini bukan gertak sambal, saya memperjuangkan kebenaran, jadi saya siap mati," ujar dia lagi.

Mempertegas ucapannya, Buni Yani bersama kuasa hukumnya akan mengajukan banding. Menurutnya, fakta-fakta dalam persidangan tersebut diduga tidaklah sesuai.

"Kami akan banding karena fakta-fakta persidangan tidak sesuai, karena tadi ribut, saya tidak mendengar perintah apapun soal eksekusi," ujar pengacara Buni Yani, Aldwin Rahadian sebagiaman dikutip pada Liputan6.com.

Perbuatan Buni Yani dinilai memenuhi unsur Pasal 32 Ayat 1 dan Pasal 28 Ayat 2 UU ITE dengan melakukan ujaran kebencian dan mengedit isi video pidato Ahok.

Diketahui, vonis yang diterima oleh Buni Yani tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa. Sebelumnya tim jaksa yang dipimpin Andi M Taufik menuntut Buni Yani 2 tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsider 3 bulan kurungan.


Reporter : Furkan
Editor      : Ell Al Khaytam