Kerumuman Mengaku Bertuhan Tapi Tidak Beragama
Cari Berita

Advertisement

Kerumuman Mengaku Bertuhan Tapi Tidak Beragama

Selasa, 21 November 2017

Ilustrasi (foto : WinNetNews.com)
Polemik keputusan Mahkamah Konstitusi tentang isian kolom agama pada KTP untuk aliran kepercayaan dan penghayat menjadi bincang menarik. Semoga saya tak larut dalam debat kusir dan mengumbar pendapat emosional tanpa mengindahkan kaidah berpikir ilmiah. Dengan mengedepankan pendekatan teologis-substantif.

Sejarah kemanusiaan memang tak pernah selesai. Tugas para nabi juga belum purna, karenanya tugas mulia itu kemudian diwarisi para ulama untuk melanjutkan sisa-sisa risalah yang belum kelar. Setiap nabi saling melengkapi satu sama lain. Mereka dari bapak yang sama lain ibu demikian Nabi saw berujar.

Islam sempurna sebagai ajaran, tak perlu penambahan atau pengurangan, tapi tugas kerisalahan menyampaikan ajaran Islam kepada semua umat tak akan pernah final hingga matahari terbit dari barat.

Semua Nabi sejak Adam as hingga Muhammad saw beragama sama yaitu Islam. Mereka juga membawa syahadat sama: syahadat tauhid. Meng-Esakan Allah tanpa syarat. Kaum yang mengakui bahwa Allah Tunggal tidak berbagi. Pencipta semesta raya tanpa sekutu disebut kaum Muwahidun. Mungkin dengan rasul, nabi atau syariat yang berbeda tapi memiliki akar tauhid yang satu.

Setiap kaum diberi seorang Nabi. Setiap nabi diutus dengan bahasa kaumnya. Begitu Allah berfirman. Jadi tak ada alasan bagi suatu umat atau kaum mengelak. Semua bakal dipersaksikan dengan cermat dan teliti. Kita akan pertanggungjawabkan pada hari pembalasan.

Artinya tak ada ruang bagi sekumpulan yang mengaku berTuhan tapi menampik kenabian sebab keduanya satu paket yang tak mungkin dipilah. Hanya Nabi yang diberi hak prerogratif untuk menjelaskan berita langit (wahyu). Nabi berfungsi sebagai utusan resmi. Menolak segala keterangan berdasar 'karangan' atau wangsit lewat mimpi atau intuisi.

Inilah soal besarnya. Sebab manusia tak semuanya mengakui ke-nabi an. Penolakan itu kemudian berdampak pada de-legitimasi iman dan de-sakralisasi ajaran. Yang berujung pada penolakan, ironisnya kemudian memproduksi ajaran sendiri tanpa tuntunan.

Penolakan ke-Nabian sesungguhnya juga penolakan terhadap ke-Tuhanan. Keduanya berkait erat, jadi imposible membenarkan keberadaan Tuhan tapi menampik ke-Nabi an. Atau sebaliknya menerima ke-Nabian tapi menolak ke-Tuhanan.

Bagaimana mungkin mengakui keberadaan Tuhan tapi menafikkan syariat. Percaya saja tak cukup. Seperti rumah tanpa atap, tubuh tanpa busana, perahu tanpa nahkoda, akan berlayar kemanapun angin bertiup.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar