Keluar Dari Keterpurukan "Bima Hijrah"
Cari Berita

Advertisement

Keluar Dari Keterpurukan "Bima Hijrah"

Selasa, 14 November 2017

Situasi perang antar kampung beberapa waktu yang lalu (foto : Kabar Harian Bima)
Melihat berbagai problematika yang melanda daerah Bima rasanya tak terhitung lagi jumlahnya, dapat kita lihat di berbagai media cetak maupun pemberitaan elekronik yang semakin hari tidak ada habisnya. Problematika tersebut di mulai dari masalah kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, kesenjangan sosial, pendidikan, Sumber Daya Manusia (SDM) yang rendah, politik hingga agama.

Setiap problematika yang muncul dilatarbelakangi oleh situasi dan kondisi yang ada di dalam tatanan kehidupan masyarakat Bima itu sendiri. Dimulai dari masalah ekonomi masyarakat yang rata-rata menengah kebawah dan lapangan pekerjaan yang begitu sempit. Sehingga membuat masyarakat hanya bergantung pada Sumber Daya Alam (SDA) yang ada. Maka tidak jarang ditemukan masyarakat di daerah Bima yang berprofesi sebagai petani dan nelayan, karena hanya ini salah satu alternatif penyambung hidup keluarga dan anak-anaknya.

Pendapatan masyarakat yang tidak menentu dan bergantung pada setiap hasil panennya juga dipengaruhi oleh musim, misalnya pada saat musim kemarau para petani yang bergantung pada pengairan air hujan tidak dapat bercocok tanam dan hanya sebagian petani yang dapat bercocok tanam, seperti wilayah pertanian di dekat Waduk. Dari hal ini maka pada musim kemarau angka pengangguran akan semakin meningkat.

Tidak hanya sampai pada probelematika pengangguran dan kemiskinan saja tetapi problem-problem lainya ikut melengkapi problematika di atas sehingga menambah beban dalam kehidupan masyarakat. Tingginya angka pengangguran dan kemiskinan memicu permasalahan baru seperti marak terjadinya kriminalitas di tengah kehidupan masyarakat seperti pencurian, begal, pembunuhan, pembacokan, dan lain-lain. Problem tersebut bukanlah muncul dengan sendirinya melainkan karena sebab yang mendasar yaitu adanya angka pengangguran dan kemiskinan yang tinggi sehingga memicu adanya kriminalitas. 

Lapangan pekerjaan yang sempit dan tidak memadai melahirkan tindak kriminalitas seperti disebutkan di atas. Angka pengangguran dan kemiskinan yang tinggi dapat menganggu stabilitas, seperti keamanan, kedamaian, dan ketentraman daerah Bima itu sendiri. Pada umumnya, tindak kriminalitas itu tidak hanya dilakukan oleh masyarakat awam, tetapi yang menjadi perhatian khusus adalah para pelajar juga menjadi aktor yang terlibat di dalamnya.

Selain problematika kriminalitas yang muncul, masalah pendidikan menjadi hal yang urgent untuk diperhatikan oleh orang tua, masyarakat bahkan pemerintah. Masalah pendidikan membutuhkan perhatian yang serius, lihat saja masih banyak yang tidak sekolah atau putus sekolah dikarenakan berbagai problem, seperti angka kemiskinan itu sendiri yang membuat mereka putus sekolah dan memilih untuk membantu orang tuanya untuk mencari nafkah. Selain itu, kepercayaan masyarakat akan mutu serta jaminan pendidikan yang dapat mengantarkan peserta didik siap kerja dan memperoleh kehidupan yang lebih layak di masa depan membuat para orang tua ragu karena melihat banyaknya pengangguran dari kaum yang berpendidikan atau yang bergelar sarjana.

Mindset masyarakat ini terbukti dengan banyaknya pengangguran yang telah lulus dari perguruan tinggi swasta maupun negeri dan ujung-ujungnya kembali menjadi petani dan nelayan. Hal ini membutuhkan solusi untuk meluruskan pikiran masyarakat akan eksistensi pendidikan itu sendiri, karena akan banyak generasi yang buta ilmu pengetahuan kelak. Jika hal itu terjadi maka kualitas kehidupan masyarakat akan semakin merosot dan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Akibatnya kesadaran akan hukum rendah serta penertiban menjadi terhambat, termasuk pembangunan daerah dalam jangka panjang akan terhenti di tengah jalan karna tidak didukung oleh SDM yang mempuni.

Tidak hanya berhenti pada mutu pendidikan saja, masalah lainya juga muncul yaitu SDM yang rendah yang diakibatkan oleh mutu pendidikan yang tidak memadai dalam menunjang lulusan terbaik seperti apa yang diharapkan. Selain itu, adanya SDM yang rendah mengakibatkan masyarakat tidak mampu bersaing dalam kompetisi global dan tertinggal dari daerah lainya yang sudah maju pesat di bidang IPTEK, sehingga mereka sudah siap mengahadapi tantangan zaman yang terus mengalami kemajuan. Kemiskinan, pengangguran, dan SDM yang rendah serta sempitnya lapangan pekerjaan menambah beban untuk memajukan daerah Bima.

Masalah sosial lainya yaitu ditambah lagi dengan tingkat kriminalitas yang tinggi bahkan daerah Bima sudah dilingkari tinta merah sebagai zona atau wilayah rawan konflik, seperti perang antar kampung yang silih berganti terjadi dari daerah satu ke daerah yang lainnya, seperti yang sering diberitakan di media cetak maupun elektronik tingkat daerah bahkan nasional. Pada dasarnya ini bukanlah sebuah hal yang membanggakan bagi masyarakat di daerah Bima. Jika hal tersebut terus berlangsung maka masyarakat kita bukan hanya fokus untuk mensejahterakan kehidupanya, akan tetapi disibukkan dengan hal yang semacam itu. Pemerintah juga tidak lagi fokus membangun daerah yang lebih baik tetapi disibukkan untuk melerai kedua kubu yang sedang konflik. 

Rasanya "Hijrah" harus segera disorakkan kepada masyarakat kita untuk merubah tatanan kehidupan yang lebih baik, karena memang jika tidak maka akan membawa dampak yang buruk tehadap generasi yang akan datang. Jadi jangan sampai mereka dilahirkan dan dibesarkan pada kondisi yang carut-marut seperti hal tersebut. Timbul pertanyaan jika tidak sekarang, kapan lagi? pertanyaan ini diharapkan dapat membawa angin segar dalam menjawab problematika yang muncul serta cahaya untuk membuka mata, hati dan pikiran masyarakat kita pada arah kemajuan. Timbul pertanyaan kedua, jika bukan kita, siapa lagi? pertanyaan ini setidaknya mengarah kepada individu, masyarakat bahkan pemerintah dalam membendung segala problem yang muncul sekaligus menawarakan solusi untuk memecahkan semua problem di atas. Hal yang harus diingat adalah masa depan anak-anak kita kelak berada di pundak kita.
Kesadaran masyarakat akan pentingnya regenerasi kehidupan harus mulai ditumbuhkan, karena sudah lama masyarakat kita tidur dalam keresahan dan keterpurukan. Pada kenyataannya masyarakat kita masih banyak yang tidak peduli terhadap segala problematika yang ada dan pemerintahan kita yang masih terlihat hanya duduk pangku tangan di atas meja jabatanya.

Permasalahan lainya ialah politik yang masih dikait-kaitkan dengan pendidikan. Mengapa demikian? hal itu dapat kita lihat ketika memasuki arena panasnya PILKADA, dimana para tenaga pendidikan di daerah kita seperti guru, kepala sekolah, pengawas dan lain-lain. Dirisaukan dengan paslon mana yang akan di dukung dan di pilihnya, karena jika paslon yang di dukung itu tidak menang maka akan dipindahkan ke daerah pelosok, seperti Tambora, dan daerah terpencil lainnya. Hal ini sangat memprihatinkan bagi tenaga kependidikan kita karena mereka di atur oleh pemerintahan yang menjabat atau yang mempunyai wewenang dan kekuasaan tinggi. Seharusnya tugas dan kewajiban tenaga pendidikan ini fokus pada peningkatan mutu pendidikan di setiap instansi, sehingga dapat menghasilkan lulusan yang memiliki SDM yang siap bersaing di kancah regional, nasional bahkan internasional.

Salah satu metode yang dapat digunakan dalam meningkatkan kualitas masyarakat kita selain pendidikan adalah pendekatan religius. Kualitas mayoritas yang masih awam ikut mepengaruhi tatanan kehidupan masyarakat. Misalnya, karakter masyarakat kita yang dapat dikatakan keras, karena memang tidak dapat dipungkiri letak geografis daerah Bima yang dekat dengan pantai dan di apit oleh pegunungan dan iklim yang begitu panas mempengaruhi jiwa dan emosional masyarakat pada umumnya. Masyarakat lebih aktif menanggapi suatu masalah yang terjadi sehingga adanya tindakan main hakim sendiri bahkan pada skala yang lebih besar yaitu perang antar kampung yang hampir terjadi setiap tahunnya.

Jadi kualitas keimanan dan ketakwaan masyarakat harus ditingkatkan untuk membendung hal tersebut. Misalnya ajaran agama tentang kesabaran harus mulai ditumbuhkan dan diamalkan. Selain itu, solusi lainya adalah dengan menghidupkan kembali slogan Bima yaitu "Lembo Ade dan Kasabua Ade".

Penulis : Mubin
Editor   : Misbah