Kapitalisme di Negeri Junjungan
Cari Berita

Advertisement

Kapitalisme di Negeri Junjungan

Kamis, 09 November 2017

Ilustrasi (foto : Fajar Sumatera)
Bait Suci pun menjerit dihimpit bangunan-bangunan menjulang, menara dan tower. Masjidil Haram tenggelam tak terlihat. Situs-situs tapak kaki telanjang para nabi dibabat habis atas nama penegakkan tauhid. Purifikasi menjadi alat paling ampuh untuk menghacurkan semua situs religius. Tak ada yang selamat semua harus ditebas habis.

Apakah rumah Nabi salah. Apakah rumah ibunda Khadijah salah. Apakah Gua Hira salah. Apakah Jabal Rahmah juga salah. Dan layak untuk dihancurkan ? Seperti situs-situs lainnya yang sudah dihancurkan duluan. Apakah Ka'bah juga.

Atas nama purifikasi semua yang dianggap berpeluang di puja di luluh-lantak. Kemudian diganti beton, marmer dan ac. Sama saja ternyata, mereka juga membangun tempat pemujaan baru. Kawatir batu di puja mereka buat tempat pemujaan yang baru: marmer. Kawatir rumah nabi dan para sahabat dipuja mereka buat pemujaan baru: hotel berbintang.

Siapa bisa tahan dengan gempuran kapitalisme dan liberalisasi. Saudi pun menyerah. Pesisir pantai sepanjang 56 km berpindah tangan. Atas nama reformasi ekonomi dan modernisasi. Di pantai itu perempuan pengunjung boleh pakai bikini dan berjemur. Keputusan berani, ketika sebelumnya menampakkan wajah saja tak boleh.

Reformasi ekonomi dan sosial hanya cara untuk mengulur tuntutan reformasi politik. Sebagian rakyat sudah jengah dengan sistem monarchy absolut. Demokrasi menjadi pilihan dan alternatif meski tak sepenuhnya baik. Kehati-hatian diperlukan agar reformasi tak belok arah.

Saudi boleh dibilang terlambat dibanding negara-negara teluk yang telah lebih dulu melakukan reformasi. Sebut saja Iran, Iraq, Libya, Lebanon, Mesir dan negara-negara UEA. Ketika sudah tak bisa lagi mengandalkan minyak Saudi harus berpikir keras untuk menjaga wibawa kerajaan dengan mengais pendapatan lain yang kurang lebih sama.

Ada banyak pilihan untuk mendapatkan pendapatan, salah satunya dengan membuka investasi perdagangan dan wisata. Saudi punya banyak tempat untuk itu. Pantai menjadi pilihan. Kapitalisasi dan liberalisasi sosial dan ekonomi mulai dibuka kemudian paham keberagamaan sebagaimana dinyatakan pangeran Muhammad bin Salman putra mahkota. 

Saudi mungkin telah bisa bertahan selama puluhan tahun, saatnya lelah atau godaan modernisasi memang benar-benar menggiurkan. Dan kapitalisme pun meruak. Idelogi Wahabi yang selama ini di kenal kukuh pun rubuh tergilas kapitalisasi dan liberalisasi ekonomi dan sosial.

Pangeran Muhammad bin Salman menjadi ikon perubahan itu kalau tak boleh dibilang pembuka kran bagi berkembangnya modernisasi atau westernisasi di Saudi. Setidaknya ada dua implikasi serius akibat kebijakan itu.

Pertama ideologi wahabi ditagih melakukan perombakan dan perubahan wajah yang semula eksklusif menjadi inklusif, mulai membuka diri terhadap perubahan sosial masyarakat sekitar dan dunia Kedua, ideologi wahabi menghadapi ancaman internal di rumah sendiri terlihat mulai tidak kerasan dan mungkin akan mencari rumah baru. Inilah yang kemudian menjadi picu ekspor ideologi ke negeri negeri Islam.

Jadi 'ekspor' ideologi wahabi dilakukan atas dasar lebih kepada ulama-ulama wahabi yang mulai kehilangan legitimasi dan berebut lahan mencoba mencari tanjung harapan atau pengikut baru di negeri sebelah.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar