Ideologi Tak Pernah Mati
Cari Berita

Advertisement

Ideologi Tak Pernah Mati

Kamis, 09 November 2017

Daniel Bell (foto : Harvard University Press Blog)
Daniel Bell bersusah payah meyakinkan dalam berbagai riset yang dikembangkan. Ideologi telah berakhir, katanya pendek setelah berbagai argumen dia kemukakan dalam sebuah seminar tentang perang ideologi.

Sayangnya, saya tak pernah percaya, nyatanya ideologi makin mengental dan menggurita. Berbagai varian ideologi makin menguat. Bahkan agama-agama juga telah merubah wajahnya menjadi ideologi dengan varian kecil fanatik yang beringas. 

Sebut saja Islam. Lahir Islam moderat, Islam garis lurus, dan Islam garis keras. Kemudian ditarik lagi dalam ranah politik praktis. Menjelma menjadi parpol, baik yang ikut pemilu atau hanya sebatas organisasi politik tanpa bentuk semacam HTI dan Salafi. Meski kita tahu keduanya hanya menunggu menjadi besar dan momen tepat untuk merebut kekuasaan. Masing-masing punya pengikut militan. Dan jangan tanya bila mereka bertemu di lapangan.

Daniel Bell bisa saja khilaf, atau terlewat mencermati, bahwa agama-agama pada dasarnya adalah ideologi, jika ideologi diartikan sebagai way of life. Sebuah Pandangan hidup yang diperjuangkan. Dengan pengertian ini maka ideologi tak akan pernah bisa mati bahkan mungkin saja bisa makin menguat ketika agama-agama berikhtiar menjaga eksistensinya. 

Agama-agama mengalami pengerasan atau bisa jadi karena telah masuk babak baru, agama ideologi. Melahirkan fanatisme, ekstrimisme dan radikalisme. Ideologi yang lahir dari agama pasti lebih mengerikan karena punya kekuatan dahsyat dibanding ideologi generik, yang lahir dari dinamika sosial masyarakat: kapitalisme, liberalisme, marxisme atau sosialisme.

Taliban dan Mujahidin di Afghan. ISIS di kawasan teluk. Hamas, Hizbullah dan Fattah di sekitaran Palestina, Ikhwan di Mesir. Salafi atau Wahhabi di Saudi. Varian Syiah di Iran. Boko Haran di Afrika. Syikh di India. Macan Tamil di Sri Lanka. Persekutuan Anglikan, Lutherian dan Calvinis dan beberapa aliran ortodox di Eropa dan Amerika. Adalah contoh bagaimana ketika agama berubah menjadi sebuah ideologi mengeras dan ofensif.

Dan tak terbayang jika kemudian Muhammadiyah dan NU berubah menjadi ideologi yang saling meniadakan. Bermula dari saling ledek dan sindir. Karena selisih kecil-kecil yang terus dirawat dan di besar-besarkan untuk kepentingan jangka pendek.

Berawal dari meme yang disebar, berubah menjadi jargon : Indoenesia darurat banser. Indonesia aman tanpa banser. Atau sebaliknya: "bakar habis wahabi. Enyahlah kaum intoleran", Bisa ditebak kira kira apa yang bakal dilakukan dua kelompok itu.

Semua berubah menjadi ideologi baik yang lunak, keras atau sedang. Masing-masing punya pengikut dan kerap terjadi persinggungan. Dan perang ideologi agama sangat mengerikan dan lebih awet dengan semangat dan tenaga yang selalu terbarukan.

Sesaat Yudhistira terpekur melihat istana Hastina yang barusan ia rebut dengan darah, pada pendar lampu yang sayup dan tiang-tiang yang bergetar karena ketakutan dengan kekuasaan dan kejayaan.

Babak baru ideologi dimulai dan agama pegang peran signifikan. Agama berubah menjadi sedikit menyeramkan. Membawa banyak kepentingan para pengikutnya. Riuh dengan simbol dan atribut. Islam sendiri perlahan terbenam di dasar. Sebab yang tampak hanya kepentingan para pemimpinnya.

Penulis :@nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar