Guru dan Hilangnya Spiritualitas
Cari Berita

Advertisement

Guru dan Hilangnya Spiritualitas

Minggu, 26 November 2017

Ilustrasi (foto : Shabestan)
Adalah Anthony Lewandhosky penggagas agama masa depan (way of the future) meramu tentang kecerdasan buatan atau artificial intellegence. Mencoba mengisi peran spiritualitas guru yang sejenak ditinggal karena sibuk urusan administrasi. Kecerdasan buatan (AI) hanyalah mesin cerdas untuk mengganti ruang kosong yang ditanggalkan. Semoga tidak terlalu lama.

Bukannya tak sengaja Jibril as memaksa nabi yang ummi membaca deretan huruf. Berkali kali nabi berkata: maa ana bi qari' tapi Jibril tak peduli dan terus memaksa. Bukannya Jibril alpa bahwa manusia terpilih itu buta huruf, Jibril hanya ingin memberi tekanan bahwa membaca tidak hanya dengan huruf dan deret hitung.

Jibril as hanya ingin berpesan dalam surah berikutnya: "Bacalah dengan menyebut asma Tuhanmu yang menciptakan". Membaca dengan kalam Allah bukan dengan deret huruf atau angka.

Tak perlu antipati dengan gagasan artficial intellegence (AI), sebaliknya kita jadikan sebagai ibrah bahwa ada peran guru yang kita tanggalkan. Akhirnya peran itu kemudian diambil yang lain sebab kita hanya sibuk dengan urusan 'birokrasi pengajaran' abai pada yang substantif.

Pekerjaan guru. Profesi seperti yang lainnya. Berangkat pagi pulang petang dengan sederet pekerjaan menumpuk hingga rumah. Guru sebagai profesi telah menabalkan banyak beban terutama administrasi. Termasuk mengoperasikan peralatan elektronik yang selama ini tidak mereka pahami. Administrasi dan birokrasi telah mengubah pribadi guru menjadi orang lain.

Di lain tempat dengan jenis pekerjaan sama mengajarkan tentang membaca dan deret hitung. Tutor di berbagai tempat kursus. Tak ada RPP, atau tuntutan administrasi layaknya seorang guru. Mereka mengajar dengan materi yang sama pada mata pelajaran yang sama dengan target mendapat nilai 100. Itu saja.

Saya tidak tahu apa beda kedua profesi itu dan tidak perlu dikomparasi apalagi dicari siapa benar siapa salah. Bukankah keduanya hanya profesi dan pekerjaan meski dengan ukuran dan keahlian berbeda tapi apa pentingnya jika keduanya melakukan pekerjaan yang sama di ruang yang sama dan materi yang sama. Ahhh klise.

Abu Hurairah ra salah seorang sahabat dengan periwayatan hadits paling banyak dan akurat, pernah mengeluh kepada Rasulullah saw. Bahwa ia sering lupa dan tidak teliti. Maka Rasulullah berkata:"bentangkan jubahmu .. ". Kemudian Rasulullah berdoa untuk waktu yang cukup. Tutuplah ..! kata Rasulullah. Sejak saat itu aku tak pernah lupa meski hanya satu huruf pada setiap apa yang disabdakan Kanjeng Nabi saw.

Perbedaan besar pengajaran modern adalah catatan pada kertas. Para sahabat tidak pernah mencatat pengajaran nabi saw. Tapi disitulah letak istimewanya tanpa kertas dan pena, pun dengan metode pembelajarannya yang sederhana, Para sahabat bisa dengan mudah menerima, memahami, menganalisis bahkan mereka terus bisa menghafal ucapan nabi saw per-harakat tanpa lupa.

Kenapa bisa begitu? Spiritualitas jawabnya. Quran surah Muzzamil memberi resep bagaimana agar ucapan yang keluar dari lisan kita berat berkesan, tak gampang dilupa, menghunjam dalam di dada para siswa dan murid kita. Bukankah tak perlu menghafal semua materi. Dan tak perlu pula bagi seorang guru menuntut siswanya menghafal semua tulisan dalam power point nya.

Ada 'tuhan-tuhan' baru dalam dunia pengajaran kita. Maaf saya sebut pengajaran karena disitulah sebenarnya kita hari ini berada . Bukankah guru hari ini adalah sekumpulan para pengajar dengan sederet kertas dan pekerjaan administrasi tak pernah habis. Lalu apa yang murid dapatkan selain pekerjaan rumah dan harapan mendapat nilai 10 di akhir semester.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar