Disparitas Ideologi Wahabi
Cari Berita

Advertisement

Disparitas Ideologi Wahabi

Kamis, 09 November 2017

Ilustrasi (foto : Duta Islam)
Kitab tipis bertajuk Risalah Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, tiga puluh tahun silam kerap saya baca dan jadikan rujukan bagaimana ber-tauhid yang benar. Menjaga iman dari unsur syirk, tahayul dan bid'ah. Semangat inilah yang terus dirawat dan diwarisi dengan berbagai varian yang menyertai.

Meski tipis, kitab Risalah Tauhid memiliki daya dobrak yang kuat. Terpenting dapat menginspirasi dan manggugah semangat baru para ulama di negara-negara Islam untuk bergiat kembali memurnikan iman yang terselubung dengan berbagai kepercayaan lainnya.

Itulah yang saya pahami dari penggalan konsep idelogi wahabi. Sejak mula pertama mengenal dan membaca beberapa risalahnya tentang purifikasi. Sangat menarik ketika umat Islam berkubang pada lumpur tahayul dan berbagai varian baru kemusyrikan.

Mereka menyebut dirinya Al Muwahiduun sedang wahabi adalah sebutan dari mereka yang kebetulan tidak suka. Demikian Fazlur Rahman menulis dalam bukunya yang berjudul Islam.

Purifikasi ajaran Islam dari segala bentuk yang menyimpang itulah semangat wahabi di awal. Ada semangat ofensif dan war yang menyatu. Maka tak heran wahabi melakukan penyisiran terhadap segala sesuatu yang dianggap berhala atau thaghuts. Mereka menghancurkan semuanya tanpa sisa. Mereka juga tak segan membakar masjid dan kitab yang dianggap menyimpang.

Dalam perkembangannya wahabi juga melakukan pemetaan paham keberagamaan. Stigma ahli bid'ah menjadi alat ampuh untuk mendekonstruksi pemikiran umat Islam. Bahkan dalam beberapa kasus tak segan membuat pernyataan kafir atau sesat kepada ajaran atau guru yang dianggapnya melanggar.

Dr Abdullah Muhammad Sind setidaknya memberi catatan khusus tentang ideologi wahabi. Dua sisi ideologi wahabi : wajah politik untuk menggaruk kekuasaan dan wajah purifikasi untuk pemurnian ajaran Islam. Keduanya berkelindan. Kolaborasi antara Ibnu Suud dan Abdl Wahab terus menguat hingga berdirinya sebuah kerajaan Saudi-Arabiya. Keduanya saling menyokong dan menguati.

Disparitas ideologi Wahabi sebagai gerakan politik dan gerakan pemikiran Islam kerap tumpang tindih. Dan beberapa dibuat ambigu apakah yang dilakukannya itu politik atau agama. Atau keduanya sekaligus secara berbarengan.

Tak dipungkiri bahwa kehadiran wahabi juga dimanfaatkan oleh koloni Inggris untuk memecah kekuatan umat Islam dari dalam. Sebagaimana Inggris memecah Islam di India dengan Ahmadiyah Lahore dan Ahmadiyah Qadian.

Adalah Mr Hampher yang menyamar memeluk Islam dan menjadi sahabat Abdul Wahab ikut memberi warna dan corak gerakan wahabi yang belakangan dikenal kaku bahkan tidak jarang melakukan kekerasan terhadap sesama Islam. Mr Hampher juga membuat pernyataan mengejutkan tentang sahabatnya itu, bahwa Muhamad bin Abdul Wahab sering nervous, gampang panik, temperamen dan ignorant atau dungu tapi ia punya semangat tinggi.

Bagaimanapun wahabi adalah gerakan politik. Meski kemudian tersamarkan, antara gerakan politik dan gerakan agama saling berebut dominan. Sebagai-mana lazimnya, hampir semua pergerakan dari timur tengah selalu kental dengan nuansa politik yang menyertai.

Semangat para pengikut wahabi adalah kumpulan Paderi dari padang pasir yang rela mati untuk penegakan keyakinan yang mereka anuti dengan cara yang mereka halalkan. Ada ofensif dan war. Itu yang kita waspadai, setidaknya telah terjadi perang saudara di tanah Minang yang dipengaruhi paham wahabi: Haji Miskin, Haji Piabang dan Haji Sumanik.

Dan saya tak tahu, bagian ideologi wahabi mana yang di ambil.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar