Cinta Nabi Untuk Ahli Khamar
Cari Berita

Advertisement

Cinta Nabi Untuk Ahli Khamar

Rabu, 08 November 2017

Ilustrasi (foto : Waktuku.com)
Abdullah demikian sahabat itu biasa dipanggil, diberitakan oleh Imam Ahmad dalam kitab Musnad, Ia adalah seorang sahabat yang dikenal lucu dan kerap membuat Nabi tersenyum. Perawakannya gembul dan botak, rajin shalat dan beberapa kali ikut perang bersama Nabi saw.

Sayangnya ia punya kebiasaan buruk: minum khamer. Kebiasaan jahiliyah yang terus ia bawa hingga masuk Islam. Ia kerap kedapatan mabuk di saat shalat. Dan itu yang membuat sebagian sahabat yang lain tidak berkenan.

Berulang kali sudah ia berusaha. Dan khamer menjadi menu harian yang belum bisa ia tinggalkan. Meski begitu ia tak putus asa. Berbagai cara ia lakukan untuk menjauh meski tetap saja gagal.

Hingga pada suatu Jumat. Ia kembali ketangkap basah menenggak khamer, ia dibawa ke pelataran masjid untuk menerima hukuman 40 kali cambuk. Para sahabat mengumumkan bahwa nanti usai shalat Jumat hukuman 40 kali cambuk atas Abdullah dijatuhkan.

Abdullah hanya pasrah. Usai menunaikan shalat para jamaah bergiliran mencambuk. Ada yang dengan sendal ada yang dengan tangan ada yang dengan sapu lidi dan beberapa dengan kayu hingga ia berdarah ada juga yang dengan tali rami halus yang tydak menyakitkan semua mencambuk dan bergantung masing-masing.

Hingga ada salah seorang bernama Abu Dzar Al Ghifari ia mencambuk dengan sebatang kayu ia mencambuk dengan sangat keras sambil melaknat terkutuk lah engkau wahai peminum khamer. Nabi saw mendengar dan terkejut kemudian beliau berkata siapa yang mencambuk dengan melaknat tadi. Saya wahai Rasulullah jawab Abu Dzar pendek. Kemudian nabi bersumpah: Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya Abdullah ini mencintai Allah dan rasul-Nya maka janganlah kalian melaknat nya".

Para sahabat tersentak kaget, betapa Rasulullah adalah orang yang penuh kasih tak gampang melaknat dan mencela kepada yang khilaf melakukan kesalahan. Hukum tetap ditegakkan. Hak mencambuk diberikan. Abdullah tetap mendapat perlakuan santun dan kasih sayang sebagai sesama muslim.

Di semesta raya tak ada yang cintanya kepada kita melebihi Allah dan Nabi saw. Walau kita tak bersyukur sekalipun tapi cinta-Nya tak pernah putus. Di saat semua membiarkan dan meninggalkan kita, Allah setia bersama. Disaat Allah kita lupakan, Dia malah menyebut-nyebut nama kita pada majelis yang lebih mulia.

Lalu apalagi yang kita pertanyakan bukankah sudah jelas bahwa Allah mencintai kita lebih dari apapun. Rasulullah memberikan pembelaan atas ucapan dan semua prilaku kita layaknya pengacara di hari pembalasan kelak lantas apalagi yang kita ragukan?

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar