(Cerpen) Senja Yang Memilukan
Cari Berita

Advertisement

(Cerpen) Senja Yang Memilukan

Rabu, 22 November 2017

Iluatrasi (foto : katak dalam tempurung - blogger)
Di ujung senja tanggal 11 Desember. Setelah sekian aktivitas kampus yang cukup meliuk lelah, saya pun bergegas untuk kembali ke tempat kontrakan. Kontrakan yang mungkin merupakan tabib untuk menyelesaikan semua perkara lelah.

Diperjalanan pulang, saya melihat seorang wanita yang sepertinya tidak lagi berbadan satu sedang duduk termenung di bawah tugu perbatasan Kota Makassar dengan Kabupaten Gowa.

Wanita tersebut bahkan tidak asing di penglihatanku, sebab sesering saya melintasi tugu itu, sesering itu pula saya melihat ia bermata kosong di antara bising dan silaunya lampu-lampu kendaraan. Maka tak heran jikalau kedua bola mata saya seakan bersahabat dengan wajah tak berbengis wanita tersebut. Untuk menuruti rasa penasaran yang tidak lagi dikatakan sebagai hal biasa-biasa saja, saya mematikan mesin motor dan menghampiri wanita si paruh baya yang sedang berusaha menghentikan gelak tangis anaknya.

"Ibu.... kenapa anaknya menangis?" tanyaku. Dengan bibir pucat yang sedikit bergetar sambil menepuk pundak anaknya, ia mejawab cukup ragu

"Anuu... Inii, anak saya sedang sakit nak." Mata wanita tersebut sangat berkaca-kaca dan mulut saya pun menjadi kaku seakan ingin meneriaki keadaan.

"mengapa tempat yang sangat tidak layak untuk di jadikan teduhan, kini benar-benar harus mengasihi nasib mereka" ucapku dalam hati.

"Loh... sakit apa, bu ? dan kenapa tidak di bawa kerumah sakit?" lanjutku bertanya.

"Jangankan untuk kerumah sakit, buat makan saja tidak ada, nak..." jawabnya, sambil menunduk.

Mendengar jawaban wanita tersebut, saya pun semakin merasa terpukul dan bersedih, sedangkan waktu maghrib telah tiba, suara adzan pun memecah langit dalam kepedihan. Saya menghentikan obrolan singkat dengan beliau dan meninggalkan tempat tersebut dengan menundukkan kepala kearahnya sebagai sapaan pamit penghormatan padanya.

Saya bergegas untuk mencari warung makan disekitaran Tugu, dan saya melihat salah satu warung nasi disamping kiri jalan, saya masuk dan memesan tiga porsi nasi untuk dibungkuskan.

Setelah membeli nasi, dengan cepat saya kembali ketempat wanita tadi. Sesampainya ditempat itu saya berikan nasi yang saya beli kepadanya. Wanita itupun mengambil dan memberikan kepada kedua anaknya, dan berharap dapat menyogok tangisan anaknya dengan sebungkus nasi yang diberikan. Ternyata mereka amat kelaparan seharian.

Sembari menunggu mereka selesai makan, saya mencoba bertanya tentang wanita tersebut. Kenapa bisa terjadi hal demikian kepadanya dan juga kedua anaknya. Wanita itu menjawab, karna ia telah lama ditinggal mati oleh suaminya, dan bahkan tempat tinggalpun tidak ada untuk mereka tempati. Sehingga mau tidak mau merekapun harus tinggal dan tidur dibawah tugu tersebut. Saya mengelus-elus kepala anak nya yang pertama, dan bertanya.
"siapa nama mu?"
"Nama ku Amir."
"kenapa Amir tidak sekolah?"
"Tidak ada uang, kak", singkat jawabnya. "Amir cita-citanya mau jadi apa?"
"Mau jadi guru, kak." Ucapnya pelan. "Kalau Amir sudah jadi guru, Amir mau berikan apa untuk ibu dan adiknya Amir?" Sedikit terdiam lalu dia menjawab.
"Amir mau buat mereka bahagia, kak." 

Mendengar perkataan anak itu, hati saya benar-benar tersentuh oleh apa yang dirasakan oleh Amir dan keluarganya ini. Saya selalu memperhatikan Amir dan ibunya, dan saya coba membayangkan sekejam apa pemimpin di bangsa yg besar seperti Indonesia ini, sehingga wanita dan kedua anaknya ini tidak mampu diberikan penangguhan, baik itu bantuan yang berupa makanan, fasilitas atau biaya untuk mereka melanjutkan kehidupannya, sehingga ibu ini bisa menyekolahkan Amir anaknya yang sudah cukup umur untuk menduduki bangku kelas satu SD. Dan sebesar apasih biaya yg akan dikeluarkan oleh bangsa untuk seorang ibu yang tidak memiliki rumah dan tempat tinggal, dibandingkan membangun gedung-gedung mewah serta proyek-proyek besar diluar sana.

Dari cerita Amir dan keluarganya ini, saya termotivasi untuk terus berusaha dan belajar untuk membahagiakan kedua orang tua saya, keluarga dan juga orang lain. Tak lama setelah Amir dan keluarganya selesai makan, saya mengambil tangan ibunya Amir dan menjabat tangan nya untuk pamit pulang ke kontrakan.

Dengan senyuman manis bercampur pahit, ibunya Amir mengambil tangan saya. "Terimakasih atas makanannya," ucapnya pelan. Saya tersenyum.
"Itu bukanlah apa-apa, Bu." Berterimakasilah kepada Allah yang maha kuasa, dan semoga ibu dan anak-anak ibu selalu sehat wal ‘afiat."

Penulis : Abang_Jebra