(Cerpen) Mencandui Rindumu
Cari Berita

Advertisement

(Cerpen) Mencandui Rindumu

Rabu, 29 November 2017

Foto : Penulis
Ada yang lucu dari secangkir kopi. Mulai dari rasa pahitnya yang terselipkan dalam manisnya gula atau bahkan ada rasa sepat yang masih tertinggal di dalam lidah yang kelu. Pahitnya itu terasa kaku, namun dapat menjadi candu. Yang tak suka kopi mungkin akan berkata bahwa kopi hanya sekedar penghangat di hari yang dingin. Ketika kopi berubah menjadi dingin itu artinya suasana akan berubah menjadi hangat. Ada percakapan-percakapan yang semakin menarik dan tak mudah dicerna oleh akal. Menciptakan suasana-suasana nyaman ala pengangguran dan mahasiswa-mahasiswa yang doyan pulang malam.

Secangkir kopi menghiasi meja kotor yang dipenuhi dengan bercak-bercak air kopi semalam. Menghitam dan membekas di tiap-tiap sudut meja. Menciptakan arsitektur khas warung kopi 24 jam. Mungkin Empunya belum sempat membereskan lantaran masih sibuk menghitung hasil kerja keras semalam di belakang meja kasirnya. Kepulan asap juga memenuhi ruangan dan segala sudut warung.

“Ah! Sudah biasa itu. Kopi tanpa asap yang mengepul di mulut itu bagaikan makan gorengan tanpa petis dan sambal tanpa terasi, hambar” celetuk salah satu pemuda yang memakai celana belel dan rambut gondrong.

Diputarnya cangkir itu sambil menilik jam tangan. Seharian ini ia telah dibuat penasaran oleh sesuatu. Yang tak mampu dijamahnya dan di luar nalar pemikirannya. Sebelumnya ia adalah orang yang pendiam dan pemalu. Ia memang seperti itu dulu. Selalu memakai rok selutut dengan atasan kaos lengan panjang. Pikirannya lalu mulai menajam, menembus sebagian dari memori terdalamnya yang sudah tertutupi oleh sel-sel otak memori yang baru. Ditembusnya tembok pembatasnya itu dan ia menemukan sesuatu yang ganjal di memori lamanya. Sesuatu yang telah mengubahnya menjadi sekarang.

“Brak!” tiba-tiba sebuah tas dihantam dengan keras di depan mejanya dan membuatnya kembali ke sadarnya.

“Kenapa?” tanya laki-laki itu kepadanya.

“Bukan apa-apa.”

“Kenapa diam?” sambil mengeluarkan beberapa putung rokok di dalam sakunya.

Ia hanya menggelengkan kepalanya berkali-kali. Dilihatnya laki-laki itu melinting dan menepuk puntung rokoknnya. Agar tembakaunya menjadi lebih padat dan mentholnya lebih terasa ditenggorokan. Ia juga suka dengan rokok menthol tapi akhir-akhir ini agak dikurangi karena lidahnya sudah gatal ketika asap bercampur menthol itu menyentuh dinding mulutnya. Bukan tanpa sebab ia menyulutkan kertas tembakau itu ke dalam mulutnya. Ia masih ingat jelas ketika pertama kali ia mencobanya. Rasanya aneh dan terkadang ia tersedak ketika kepulan asap masuk ke saluran pernapasannya itu. Satu kali ia coba ketika berteduh di sebuah warung makan.

Waktu itu matanya masih sembab lantaran menangis semalaman. Pipinya lebam dan ada beberapa luka cakaran di lehernya. Ia melihat sekelilingnya mengepulkan asap-asap yang baunya sangat mengganggu penciumannya. Tapi kemudian semakin ia perhatikan semakin ia mengerti ada sebuah kebutuhan dalam setiap hisapannya. Ia menarik sebungkus rokok dari saku temannya itu dan mengambil seputung rokok lalu menyulutnya. Ia terbatuk dan bertanya.

"Apakah memang seperti ini rasanya? seperti tersedak air ketika minum, namun kali ini menusuk ke hidung.

“Memang begitu kalau baru pertama kali” kata seseorang sambil menghisap bekas putung rokok darinya.

“Begini nih caranya” sambil mempraktekannya. Hari itu ia bukan hanya diperkenalkan dengan kertas berasap melainkan sesuatu yang sering ia lihat namun pernah ia rasakan sebelumnya. Kopi.

Pikirannya kembali ke ruangan yang berasap itu. Dilihatnya cangkir kopi itu dengan teliti dan dengan pikiran jernih. Ada beberapa noda kopi di pinggir cangkir dan bekas bibirnya yang samar-samar terlihat jika ia menundukkan kepalanya ke bawah. “Kopi. Ah, sesuatu yang sangat nikmat dan membuat ku rindu akan pahitnya. Dan kopi itu siapa?” pikirnya lagi. Ia suka kopi original tapi ia juga sering mencicipi kopi yang sudah dikombinasikan dengan cream atau susu bahkan buah-buahan.

Ia paling suka kopi dengan alpukat. “tambah pahit, tapi segar” begitu katanya. Tapi ia tahu, ia menyukainya bukan tanpa alasan atau hanya sekadar ingin mencicipi rasa pahitnya lagi. Ia ingin mencari ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu tentang laki-laki. tentang hasrat dan tentang nafsu. Ia tiba-tiba berdiri. Padahal cangkir kopinya masih setengah terisi tapi memang sudah dingin. Ada yang berbeda dari dirinya akhir-akhir ini. ada rasa mencekam dari balik punggungnya. Sesuatu yang sering membayanginya. Seseorang bicara bahwa itu adalah kematian. Ia bergidik sendiri jika mengingatnya.

“Lho, sudah mau pulang? Kenapa? Tidak enak badan kah?” kata seorang perempuan yang berdandan seperti preman.

“Tidak, besok ada hal yang harus aku kerjakan jadi harus pulang cepat” ia berbohong lagi untuk menutupinya. Ia terpaksa melakukannya karena sedari tadi telepon genggamnya bergetar.

“Tidak nanti saja? Sebentar lagi kami pulang” kata perempuan berdandan preman itu.

“Aku juga harus pergi ke suatu tempat. Kalau tidak sekarang nanti tempatnya tutup.” Ia sesegera mungkin mengambil tasnya dan pergi dari tempat itu. Setelah sebelumnya berpamitan dengan teman-temannya.

Dibukanya telepon genggamnya. Ada beberapa pesan masuk secara bertubi-tubi. Ia tahu harus apa. Dinyalakannya mesin motornya dan bergegas pergi ke sebuah tempat. Berkali-kali telepon genggamnya bergetar dan tasnya juga ikut bergetar karenanya. Sekali lagi ia tahu harus apa dan segera bergegas. Dikebutnya motor maticnya itu dengan kecepatan 70 km per-jam. Hingga ia sampai disebuah gedung besar dan bertingkat. Ada lambang vertical dan horizontal di atap gedungnya. Menyala terang seperti lampu neon. Ada beberapa orang yang lalu lalang sibuk sendiri, ada mobil putih yang mengantarkan korban bahkan mayat yang parkir di depan pintu masuk.

“Aku sudah sampai” tulisnya dalam sebuah pesan elektronik.

“Ke ruangan ku, ada hal yang penting yang harus ku bicarakan pada mu” balasnya cepat seakan tidak ingin membuatnya menunggu terlalu lama diparkiran.

Ia berjalan pelan di koridor sambil terbatuk-batuk. Wajahnya sudah pucat pasi sejak kemarin. Tubuhnya semakin kurus hingga tengkuk dilehernya terlihat dengan jelas. Sudah berkali-kali ia bolak-balik ke ruangan itu. Memang ada yang tidak beres dari pertama ia datang. Katanya hanya kecapekan tapi berubah menjadi sesuatu yang serius. Napasnya sering sesak dan bahkan tak mampu beranjak dari tempat tidunya yang bahkan tidak terlalu tinggi dari lantai. Ruangan itu penuh dengan orang-orang yang mengantri. Ia menuju ruang antrian dan mengambil kartu antrian bernomorkan 213. Antrian baru sampai 201 itu artinya ia harus sabar dan menahan nyeri disekujur tubuhnya yang bahkan sudah terlihat seperti tulang dan kulit saja.

“Tidak usah mengantri” sapa seseorang dari belakang tubuhnya. Ia yang mengirim pesan dan meneleponnya berkali-kali.

“Ini sudah darurat. Kita ke kantor ku saja.” lanjutnya Sampai saat ini ia masih belum mengerti maksud darurat itu. Yang ia tahu ia harus bergegas mengikuti dokternya kalau tidak, bisa-bisa ia tersesat karena jalannya terlalu lamban.

Sesampainya di ruangan itu, ia di dudukkan di kasur pemeriksaan. Kasurnya tidak empuk bahkan hampir keras. Terasa tidak nyaman ketika pantatnya menyentuh kasur yang dilapisi sprei hijau. Jantungnya tiba-tiba berdebar.

“Apa ini akan lama Ron?” tanyanya kepada dokter yang sibuk mencari-cari berkas pasiennya.

“Mungkin” jawabnya singkat dan serius.

“Ini tentang apa?” tanyanya penasaran.

“Bukan kah sudah ku bilang padamu untuk berhenti merokok? Kenapa kamu selalu tidak mendengarkanku?” tanyanya dengan ketus.

“Ngopi tanpa rokok itu tidak enak Ron. Ayolah, kamu tahu itu kan?” jawabnya Santai.

“Apa kamu tahu apa yang sudah dialami oleh tubuh mu sekarang?” tanggapnya dengan tatapan yang tajam.

“Jadi apa?” tanyanya lagi.

Suasana berubah menjadi serius ketika Roni mendekatinya dengan sebuah berkas dan hasil Rontgen yang kemarin. Ia menjelaskan beberapa hal ilmiah yang tak ia pahami maksudnya namun ia tahu apa yang telah dan sedang terjadi. beberapa flek terkumpul di saluran pernapasannya. Roni berkata bahwa ada benjolan sebesar biji jagung yang bersarang di paru-parunya dan itu yang membuatnya susah untuk bernapas. Seketika itu ia tercekat dan berpikir dalam kebisuan. Tak mudah baginya untuk melepaskan sebagian yang sudah membuatnya candu. Tapi dirinya yang lain memang sudah menolaknya. Hanya saja nafsunya jauh lebih mendominasi alam pikirannya. Bahkan ia sampai lupa diri sudah berapa abu yang terkumpul di dalam asbak buatannya sendiri itu.

Sekotak rokok dunhill ia keluarkan dan ia lihat dengan jeli. “Kamu itu adalah sebuah kenikmatan yang tak ku mengerti dari mana asalnya. Membuatku selalu ingin kamu dan tak ingin melepaskan mu begitu saja. Tapi kamu akan membunuhku dengan segala kenikmatan hampa mu. Ada iblis yang kau tanamkan dalam tiap-tiap hisapan hingga ke ujung manis yang bersepah. Aku tahu itu, tapi kamu sudah membuat ku selalu rindu kamu.” kata hatinya yang berkecamuk. Dilihatnya tempat sampah di hadapannya dan tampak ragu menggerakkan tangannya. “Jangan” pikirnya. Ia melewati tempat sampah itu dengan santai. Bahkan ia tak ingin menoleh sekalipun pada tempat sampah yang ada di tiap-tiap koridor ruangan. Ia berhenti di sebuah bangku panjang di ruangan bebas rokok.

Ia sulut seputung rokoknya sambil berpikir apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ia melihat sekeliling ruangan itu. Ia duduk di sebuah bangku panjang yang diapit dua ruangan yang berbeda. Sebelah kanannya adalah gudang yang mungkin tak pernah dibuka sama sekali. Sebelah kirinya adalah ruang mayat. Tempat tubuh-tubuh kaku yang dingin menginap. Tubuh-tubuh bekas orang-orang kecelakaan dan ada beberapa yang tanpa identitas yang akhirnya akan jadi bahan praktikum mahasiswa kedokteran yang haus akan organ-organ tubuh manusia. Itu tempatku selanjutnya. Pikirnya dalam-dalam. Di depannya terdapat sebuah ruangan besar dengan pagar besi. Dilihatnya dengan teliti sebuah tulisan di atasnya. “Ruang Rehabilitasi”. Oh ya, dia masih ingat itu. Ketika ia menemukan laki-laki itu dengan senyuman termanisnya, menatapnya dalam. Di ruangan itu mereka bercumbu. Bukan tubuh tapi rindu. Ya, rindu mereka yang bercumbu. Dan sekarang ia jadi rindu masa itu. Masih jelas dalam ingatannya masa-masa yang paling membahagiakan dalam hidupnya.

“Kau tahu? Aku tidak akan menyesali pertemuan ini. daun-daun yang tahu kapan ia jatuh masih tetap bahagia dalam mimpinya meskipun fajar sebentar lagi akan menyambutnya. Itu aku. Sebentar lagi aku akan jatuh. Tapi percayalah, hati ini masih untukmu dan tetap menjadi milikmu. Tapi kamu jangan pelit-pelit. Berbagilah dengan Tuhan karena aku juga mencintai Tuhan. Kau pun begitu bukan?” katanya waktu itu.

Pertemuannya terlalu singkat. Bukan menyalahkan waktu. Ia menyalahkan dirinya yang terlalu bodoh untuk mengumbar-ngumbar waktu. Padahal ia tahu bahwa waktunya itu tak terlalu cukup untuk mereka yang selalu ingin bertemu. Di sebuah halte Bus ia mengenakan rok selututnya dengan sweater panjang dan tas selempang kuning kesayangannya. Ia selalu berdiri dekat tiang penyanggah halte, agar bisa berebut tempat duduk dengan cepat. Ia tidak sendiri. ada seseorang yang menunggu bus yang sama dengannya. Ini sudah seminggu mereka bertemu di waktu yang sama dan situasi yang sama. Mulut mereka sama-sama membungkam. Laki-laki itu terlihat seperti berandalan. Tak cocok dengannya yang terlihat sangat feminim. Cukup lama mereka menunggu dan akhirnya bus itu sampai. Dari luar nampak beberapa penumpang tengah berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk. Sesaat setelah pintu terbuka ia langsung berlari dan mencari celah agar ia dapat masuk ke dalam bus. Dilihat dan diperhatikannya dengan seksama tempat kosong yang aman dari senggolan pria-pria yang sengaja menyentuh tubuhnya.

Laki-laki itu mengikutinya masuk ke dalam bus. Jelas saja karena sedari tadi mereka memang menunggu bus yang sama. Tiga menit kemudian bus berjalan dengan pelan, namun karena terasa sesak, lajunya membuat para penumpang terdorong ke depan. Tak sengaja salah satu penumpang pria menyentuh pinggulnya dan seketika itu laki-laki itu berpindah ke belakangnya dan memunggunginya. Kedua tangannya diletakkan di samping kanan dan kiri kursi. Ini bukan kali pertama laki-laki itu melakukannya, sudah kesekian kalinya. Lidahnya selalu kelu setiap menatap mata lelaki itu, dan itu sebabnya sampai sekarang ia belum berani untuk mengucapkan terima kasihnya. Ia hanya menunduk malu. Ditundukkan kepalanya hingga ia dapat melihat baju pria yang selalu menjaganya. Angin yang masuk lewat jendela bus membuatnya dapat mencium aroma tubuh lelaki itu. Dan entah kenapa ia selalu terbayang aroma tubuhnya bau parfum pria dan keringat yang menempel di bajunya. Bau pria.

Membuatnya selalu mengkhayal memeluk erat tubuhnya yang tinggi. ia selalu membayangkannya ketika di dalam bus. Beberapa menit kemudian bus berhenti di salah satu halte dekat perkantoran dan gedung-gedung perkuliahan. Ia tahu bahwa ia harus segera turun dan ia juga tahu bahwa laki-laki itu juga akan turun bersamanya. Bukan untuk menjadi penguntit melainkan laki-laki itu memang satu arah dengannya. Ia membiarkan laki-laki itu berjalan di depannya. Jaraknya 10 meter dari dirinya. Ia perhatikan arah jalan laki-laki itu menuju sebuah gedung yang sama dengannya. Mungkin ia kakak tingkat, pikirnya sejenak.

“Berhenti disitu!” teriaknya sambil berhenti di tempatnya. Laki-laki itu menoleh ke arahnya. Memperhatikan bibirnya yang mungil berwarna merah jambu untuk mengatakan sesuatu.

“Terima kasih.” laki-laki itu tersenyum dan mendekatinya perlahan.

“Dito. Fakultas Hukum.” katanya sambil menyodorkan tangannya ke arah perempuan bersweater coklat. Ini adalah kali pertama ia melihat senyuman yang semenenangkan itu. Ia hanya terdiam dan menjabat tangannya yang lebih besar dari tangan miliknya.

“Begitu saja? Kamu tidak ingin aku tahu namamu?” tanyanya karena Maryam hanya terpaku menatapnya.

“Oh, Aku Maryam. Fakultas Keguruan” Jawabnya “Aku sudah tahu itu” katanya sambil melayangkan senyuman itu lagi.

“Ada banyak hal yang aku ingin tahu. Aku tunggu di Halte bus ini lagi. Kamu pulang jam 12 kan? Aku tunggu kamu” lanjutnya.

Mata Maryam sesegera itu terbelalak mendengarnya. Ini juga kali pertama ada seorang laki-laki begitu berani mendekatinya. Seluruh kampus tahu siapa Maryam bahkan hingga latar belakangnya. Jarang ada pria yang ingin mendekatinya karena latar belakangnya yang terbilang tak biasa. Dia bukan anak pejabat apalagi konglomerat. Tapi kehidupan keluarganya selalu penuh dengan kontroversi dan Yogyakarta adalah kota ke 10 yang ia singgahi. Tak jarang ia harus pergi ke kampus dengan muka lebam dan bekas cakaran di tangan atau bagian tubuhnya yang lain. Ia rela menerima itu hanya untuk melindungi seorang wanita yang telah melahirkannya.

Tepat pukul 12 siang ia bergegas menuju halte bus dan terang saja ada laki-laki itu disana. Membawa dua kotak teh seduh yang dingin. Dari jauh laki-laki itu tersenyum ke arahnya dan menunggu untuk dihampiri. Sejak saat itu mereka memang sering bersama. Kalau di ingat-ingat kembali pertemuan itu memang terasa lucu bahkan sedikit aneh baginya. Dia mengenal Dito dari kejauhan dan kini bersebalahan dan dekat dengannya menjadi hal yang tak biasa baginya.

Bulan ketiga setelah mereka bertemu ia jarang menemukan Dito di kampus atau bahkan Dito tak pernah menjemputnya lagi. Rasa penasaran kian mencuat ketika ia mengetahui alasan Dito tak pernah muncul lagi dihadapannya. Sebuah kenyataan yang getir dan mencambuk seluruh relung hatinya. Ia tak mampu untuk bicara. Dicegatnya sebuah taksi dan meluncur ke sebuah rumah di sebuah perumahan elite. Mendapati Dito tengah mendekap erat kedua lututnya di pojok kamarnya yang berukuran luas. Hari itu ia merasa telah dipermainkan oleh Tuhan. Dipertemukan dengan hal yang membahagiakan, namun juga dihempaskan kembali ke bagian terpuruk dalam hidup.

“To, Dito” panggilnya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dilihatnya kumpulan jarum suntik di atas ranjang pria itu. Dan dengan segera ia menarik tangan laki-lakinya ketika Dito baru saja akan menyuntikkan suntikan yang kesekian ke dalam pembuluh darahnya.

“Sudah cukup. Kamu sudah terlalu banyak memakainya. Berhentilah. Ku mohon.” katanya sambil terisak-isak. Bicaranya takkan mampu untuk menghentikan Dito. Jarum itu lebih memikat dibanding perempuan cantik di depannya. Dito tetap menusukkan jarum itu dan menembus pembuluh nadinya. Menikmati setiap aliran kenikmatan yang menjalar di sekujur tubuhnya. Ia melayang dan tertawa seakan ia yang punya dunia.

Ia masih ingat betul ketika obat-obatan itu mengambil paksa raga kekasihnya itu tanpa ampun. Di ruangan pengap dan sesak akan segala teriakan itu ia menyaksikan sendiri bagaimana kekasihnya menahan kesakitan yang berontak untuk segera diselesaikan. Wajah kekasihnya semakin lama semakin pucat. Tubuhnya semakin kering dan hanya tertinggal tulang dilapisi kulit. Semakin lama rambutnya semakin habis dan menyisakan kilatan-kilatan kulit kepala. Kulitnya makin nampak bintik-bintik merah. Tubuhnya kesakitan bukan karena obat-obatan lagi melainkan ada hal lain yang kini menggerogoti tubuhnya secara perlahan. Sel-sel di dalam tubuhnya kini sudah siaga 1, kewalahan dan kelelahan.

“Kau tahu? Aku sudah lama menginginkan mu. Tapi aku sadar bahwa aku masih belum pantas memilikimu. Sebagian otakku menyeru untuk menemuimu, pelupuk mataku selalu memintaku bahwa aku dan kamu bukan hanya sekadar berkenalan. Tapi hatiku terlalu takut menyaksikanmu melihatku dengan keadaan seperti ini.” jelasnya ketika tabir jingga menyentuh lembut pipinya yang kini bukan pipi lagi.

Ingatannya masih menjelajah detik-detik yang merenggut segala kebahagiannya. Ia terbangun dari penjelajahan masa silamnya ketika office boy tak sengaja menyentuh kakinya dengan lap pel. Di tatapnya ruangan itu lagi. Masih ada sisa-sisa kerinduan di dalamnya. Dito adalah daun yang tahu kapan ia akan jatuh dan Maryam adalah embun pagi sebelum fajar. Sesaat lalu menguap.

"Percayalah, ingatan ini masih begitu gesit saat menangkap semua tentangmu, ia juga cekatan menjagamu dalam wujud rindu. Aku sekarang rindu. Dan kucumbui kerinduanku. Tenang sayang, aku sebentar lagi akan menguap dan menjumpaimu dalam wujud angin. Akan kucumbui dirimu sekali lagi” ia terbatuk-batuk berkali-kali. Beranjak sambil menenteng berkas-berkas tanda kematiannya itu. Dimatikannya puntung rokok yang baru dihisapnya dua kali. Kemudian ia berlalu pergi.

Penulis : Yumeita Ayu Saputri