Belajar Zuhud dari H. Abdul Muthalib bin Ali : Guru Bijak Tanah Langgudu
Cari Berita

Advertisement

Belajar Zuhud dari H. Abdul Muthalib bin Ali : Guru Bijak Tanah Langgudu

Jumat, 24 November 2017

H. Abdul Muthalib bin Ali bersama Wakil Bupati Bima Drs. H. Dahlan M. Noer
Lebe Na'e (Tokoh Agama) Langgudu, H. Abdul Muthalib bin Ali merupakan tokoh panutan bagi masyarakat Langgudu. Keramahan, kearifan, dan kedalaman ilmu agama menjadikan beliau sangat dicintai dan disegani masyarakat setempat.

Guru Agama Islam dan Bahasa Arab menjadi atribut yang beliau sandang setelah menyelesaikan studi di Sekolah Menengah Islam tahun 1955. Setelah itu, beliau melanjutkan pengabdian dalam mengajarkan ilmu agama di MIS Karumbu pada tahun 1957 hingga pada akhirnya ikut andil dalam mendirikan sekolah MIS Rupe tahun 1965.

"Pendidikan agama sejak dini itu penting sebagai podasi dalam pembentukan akhlak. Jika pondasinya kuat, maka bangunan akhlak juga akan kokoh," ujar pria kelahiran 20 Juni 1935 tersebut memantapkan alasan pentingnya didirikan sekolah agama.

Setelah pensiun sebagai tenaga pengajar di MTSN Karumbu pada tahun 2004, beliau diangkat sebagai Lebe Na'e kecamatan Langgudu hingga sekarang. Namun di sela-sela kesibukan sebagai  Lebe Na'e kecamatan, beliau tetap aktif memberikan kajian keagamaan, ceramah, dan menjadi guru qira'ah serta tajwid di kediamannya Dusun Kurujanga Desa Rupe.

"Belajar bagi yang belum tahu dan mengajar bagi yang sudah mengetahui adalah salah satu perjanjian primordial antara kita dengan Sang Khaliq. Hal itu akan tetap berlanjut selama kita hidup di dunia," Jawabnya ketika ditanya tentang alasannya mengapa masih aktif memberikan palajaran agama.

"Manusia adalah hamba yang unik. Kadang kita bisa lebih buruk dari pada binatang dan terkadang kita bisa lebih mulia dari pada maqam para malaikat. Jika ingin lebih buruk dari binatang, maka berislamlah dengan kemunafikan dan jika ingin lebih mulia dari malaikat, maka berislam secara kafah dan jujur," lanjutnya.
Foto : H. Abdul Muthalib bin Ali 
Saat disinggung untuk menikmati dunia di usianya yang sudah senja. Beliau menegaskan "Ali bin Abi Thalib menanggalkan pakaian keduniawiannya dengan mengatakan 'Enyahlah engkau wahai dunia, rupamu jelek, baumu busuk, perangaimu buruk. Engkau (dunia) bukan tujuan hidupku', maka sudah semestinya kita tidak terlena pada dunia. Hal itu pula yang selalu beliau ajarkan kepada anak dan cucu-cucunya.

"Aji selalu mewanti untuk bersikap jujur, jangan meninggikan diri (sombong), dan harus selalu bersyukur dan tidak terlena pada kemegahan dunia," tutur Nur Haidah  putri keempat H. Abdul Muthalib saat ditanya tentang didikan Sang Ayah.

Reporter : Sirsulk
Editor      : Muh. Ainul B