Ahok dan Felix Siaw Berebut Eksis
Cari Berita

Advertisement

Ahok dan Felix Siaw Berebut Eksis

Selasa, 14 November 2017

Ahok dan Felix (foto : Lombok Info)
Dua orang kebetulan bermarga Tionghoa, Ahok atau Basuki Cahaya Purnama penganut Katholik taat. Sedangkan ustadz Felix Siaw mualaf simpatisan HTI yang istiqamah, militan, pekerja keras, pemberani dan sama-sama kontroversi. Keduanya mewarisi keberanian dan keuletan negeri dengan peradaban paling tua.

Basuki Cahaya Purnama gubernur Jakarta, politisi cerdik, populer karena kasus penistaan agama. Pernyataannya tentang:,"Dibohongi dengan Al Quran" membuatnya terpeleset dan kalah dalam pemilihan gubernur paling dramatis di tanah air. Sementara Felix Siaw berkata ringkas:"Pancasila thaghuts, khilafah adalah alternatif".

Menurut ustadz Felix khilafah adalah sistem alternatif ketika sistem buatan manusia mulai aus dan tak punya masa depan. Sebab itu Ia dianggap anti NKRI. Hizbut Tahrir harakahnya bahkan dibubarkan dan tak boleh hidup.

Dua sosok kontroversi menghangatkan situasi politik. Demokrasi kita menjadi lebih terbuka dan semakin dewasa. Indonesia negeri besar dapat menampung semua suku, ras, bahasa, agama dengan berbagai manhaj dan ideologi. Hanya di Indonesia negeri Islam terbesar dengan praktik demokrasi paling baik.

Mungkin kita telah dibuat sedikit gaduh dengan sesama muslim karena ulah dua orang bermarga Tionghoa: Ahok dan Felix Siaw. Satu beragama Katholik dan satunya muslim. Persamaannya keduanya membuat suhu umat Islam lebih hangat dan membuat polarisasi ideologi dan kepentingan merambat liar.

Keduanya juga menjadi simbol pergerakan sekaligus perekat. Kaum nasionalis seakan mendapat tenaga baru dengan hadirnya Ahok setelah sekian lama mati suri karena kehilangan tokoh. Sosok Basuki Cahaya Purnama menjadi alternatif ketika yang lain belum siap hadir. Kaum nasionalis menjadikan Ahok sebagai lokomotif perubahan.

Selain itu Ustadz Felix Siaw juga merupakan salah satu pengikut HTI yang selama ini kurang populer. Walaupun terbatas bergerak di ruang tertutup justru membuatnya semakin menemukan bentuknya setelah dibubarkan. Bahkan Ustadz Felix Siaw, dengan gigih mengkampanyekan gagasan khilafah di ruang publik meski banyak mendapat perlawanan. Sedangkan HTI mempunyai pengalaman panjang bagaimana cara supaya tetap bertahan dalam tekanan.

Satu tahap telah dimenangkan HTI: viral, simpati bertambah dan mendapat pembelaan dari sesama ormas Islam yang sebelumnya sempat ada selisih kecil. Ustadz Felix Siaw pun menjadi daya tarik masyarakat Indonesia.

Sebut saja sebagian warga MUHAMMADIYAH yang sebelumnya resah karena ada sebagian kadernya berpindah ke HTI dan kini berbalik terang-terangan menjadi pembela setia dengan alasan beragam. Fenomena menarik di tubuh Persyarikatan.

Basuki Cahaya Purnama dan ustadz Felix Siaw kepada keduanya kita berterimakasih, setidaknya telah membuat jagat politik kita kembali dinamis, rancak dan enak ditonton. Demokrasi atau khilafah bukan barang jadi, tapi pembelajaran untuk kita bisa menerima perbedaan dengan lapang dada.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar