Untuk Allah Swt, Orang Tua dan Para Ikhwan aku Berhijab dan Bercadar
Cari Berita

Advertisement

Untuk Allah Swt, Orang Tua dan Para Ikhwan aku Berhijab dan Bercadar

Senin, 30 Oktober 2017

Foto : Penulis
Puji syukur atas kesempatan, kesehatan, dan hidayah yg sudah Allah Swt berikan kepada saya, sehingga sampai dengan hari ini, saya masih menikmati keindahan hijrah ini. Salam tetap tercurahkan kepada baginda Muhammada Saw, Nabi besar yang telah membawa kita dari jaman kegelapan menuju jaman yang terang benderang seperti apa yang kita rasakan saat ini, yaitu Islam.

Saya ingin berbagai pengalaman saya kepada sesama, pengalaman saya dalam hijrah untuk berhijab. sekalipun pengalaman ini tidaklah seberapa, namun saya merasa perlu dan merasa wajib untuk berbagi kebaikan dan kebenaran. Bagi saya Hijrah untuk berhijab merupakan Proses yang tidak mudah. sampai saat ini pun saya masih merasa malu kepada Allah sebab, hijrahku sudah memakan waktu yang cukup lama namaun, akhlakku belum juga dapat dikatakan baik. tak sedikit cibiran yang menyakitkan datang dari orang-orang di sekitar saya, tapi ketika hina'an itu terlontar dari mulut mereka, saya sedikitpun tidak merasa marah dan jengkel namaun sebaliknya saya merasa sedih, sedih karna dunia sudah membutakan mata hatinya sehingga kewajiban dan sunnah sudah tidak mereka pedulikan lagi. 

Sejak masih kuliah sekitar tahun 2014 sampai 2017 sebelum puasa, Alhamdulillah saya sudah mulai berusaha untuk menutup aurat (seluruh tubuh kecuali muka, telapak tangan dan kaki) saat itu, mungkin cacian tidak terlalu menyakitkan sebab, cuma di bilang mirip ibu-ibu dan kelihatan tua (nggak modis). Dulu sekali, pas awal-awal hijrah saya tidak punya gamis, rok, kaos kaki dan jilbab lebar.

Saat itu saya cuma dapat kiriman uang pas-pas-an cuma buat makan dan bayar kosan. Saya tidak punya uang buat beli gamis, rok, kaos kaki dan jilbab lebar. disitu saya berfiikir keras bagaimana caranya beli keperluan itu, akhirnya saya berinisiatif menjual semua jeans saya sama teman sekosan (non muslim) dengan bayaran seikhlasnya, dengan uang itupun saya gunakan untuk membeli rok di bazar dekat kosan. Alhamdulillah dengan uang itu saya dapat 2 rok bisa buat gantian. 

Alhamdulillah kalau sudah niat yang baik Allah pasti memudahkan, asalkan jangan niat terus tanpa di realisasikan. Mungkin buat ukhti-ukhti di luar sana yang mau hijrah tapi alasannya belum baik, belum ada gamis, jilbab dan lain-lain, tolong itu jangan jadikan alasan buat kita lupa akan kewajiban sebagai seorang muslimah. Pas puasa 2017 kemarin saya memutuskan untuk becadar, sebenarnya saya dari pas kuliah sudah ada niat mau pake cadar tapi dari orang tua (ibu) belum izinin alasannya tunggu selesai nikah saja.

Saya pun tunggu selesai kuliah dan saat itu saya bekerja di sebuah perusahaan swasta di kota bima. sampai saatnya saya memutuskan untuk resign dalam pekerjaan saya.

waktu itu saya terus berfikir, harusnya dari sekarang saya bercadar sebab menunggu setelah menikah itu sama saja bohong, dari sekarang harus saya jaga untuk calon suami saya kelak. waktu itu saya di utus bibi saya antarin sepupu ke pondok pesantren dan bertemu ummi Eva (wali santri) Alhamdulillah setelah dapat pencerahan darinya Saya mantapkan pulang pakai cadar tanpa sepengetahuan orang tua dan keluarga.

Ketika sampai kampung semuanya kaget mulai dari orang-orang di jalan yang melihat saya waktu itu tidak sedikit yang menghina termasuk tetangga-tetangga saya. Sampai rumah, bapak dan ibu pun kaget tapi disini bapak saya tidak terlalu permasalahkan, dia mendukung setelah saya kasih pencerhanan, ini bukan untuk diri saya sendiri ini saya lakukan untuk bapak, untuk kakak laki-laki, dan untuk calon suami saya kelak, tapi satu-satunya orang yang tidak menerima perubahan ini cuma ibu, sampai-sampai menangis dan tidak pernah ngomong sama saya hampir 1 minggu, disini saya berpikir ini mungkin ujian, saat itu saya tidak peduli lagi pada tetangga-tetangga mau ngomong apa, saya hanya berfikir bagaimana ibu saya harus ridho atas apa yang sudah saya perbuat. Sampai akhirnya beliau sudah menyerah. Alhamdulillah setelah ridho dari orang tua dan keluarga, saya sudah tidak pedulikan cacian dan hinaan diluar.
Penulis dan seorang sahabatnya Listiana ketika menyambut pagi di Dermaga pantai Desa Sangiang kecamatan Wera Kabupaten Bima.
bismillah semoga istiqomah. Amiin. Cadar ? This is sunnah ukhti, ini sunnah yang sangat indah, bagaimana tidak! kamu terlihat cantik di dalam sana, kamu sudah membatu para ikhwan di luar sana untuk menjaga pandangannya. Wanita cuma punya dua pilihan jadi sebaik-baiknya perhiasan atau sebesar-besarnya fitnah, wajahmu itu adalah sumber fitnah terbesar ukhti.

Jadi tolong janganlah kalian yg belum paham sunnah ini jangan menghina dan mencacinya, sebab kalian tidak tau, ketika kalian sudah paham sunnah ini kalian akan menyesalinya, kita tidak tau kapan hidayah itu datang. Tolong juga Jangan Panggil kami teroris, panggilan itu sangatlah menyakitkan.

Saya, bermaksud mengajak kepada kita semua ukhti untuk membantu orang tua dan saudara laki-laki kita dari siksa api neraka serta membantu para Ikhwan untuk menjaga pandangan mereka. Mari berhijrah dan berhijab.

Penulis : Wulandari Sandu