Tokoh Politik Dari Masa Ke masa, Jendral Gatot Nurmantyo Tokoh Pujaan Masa Kini
Cari Berita

Advertisement

Tokoh Politik Dari Masa Ke masa, Jendral Gatot Nurmantyo Tokoh Pujaan Masa Kini

Selasa, 03 Oktober 2017

Presiden Joko Widodo bersama Jendral TNI Gatot Nurmantyo ketika nonton bareng Film G 30 S PKI (foto : Antara News).
Bangsa kita Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) selalu disajikan dengan kehadiran tokoh-tokoh baru, baik tokoh agama, tokoh masyarakat, lebih-lebih tokoh politik. Tokoh yang awalnya tidak kita kenal menjadi sangat kita kenal. Tokoh itu sangat terkenal, bahkan dari sabang sampai ke marauke. Entah sengaja menokohkan diri atau ditokohkan kita tidak pernah tau, yang jelas dia adalah seorang tokoh.

Salah satu tokoh yang baru-baru ini muncul adalah Gatot Nurmantyo. Dia bukan seorang tokoh politik, melainkan seorang jendral TNI. Tapi, bagaimana mungkin seseorang yang hadir sebagai tokoh yang bergerak menjaga keutuhan dan keamanan bangsa Indonesia dengan terus mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa, tidak disebut sebagai tokoh politik, misalnya tokoh politik yang bergerak diwilayah keamanan dan keutuhan Negara. Tentu harus terlibat aktif di dalam politik keamanan dan keutuhan bangsa.

Siapa yang tidak kenal dengan Jendral TNI Gatot Nurmantyo? Ketegasannya dalam berbicara, pengetahuannya tentang sejarah tak dapat diragukan lagi, ketaatanya kepada bangsa dan negara serta mengalirnya nilai-nilai islam di dalam diri jendral kebanggaan Indonesia ini benar-benar membuat warga negara Indonesia terkesimah. Lebih-lebih umat islam.

Dalam kacamata politik Indonesia, tokoh yang ditokohkan atau tokoh yang menokohkan diri sudah menjadi biasa dan biasa-biasa saja. Baru ataupun sudah lama, tetap saja dia adalah tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam proses perpolitikan bangsa kita.

Sejarah membuktikan bahwa, beberapa tokoh baru namun berpengaruh, bahkan mampu merebut kekuasaan tertinggi, tapi lambat laun tokoh itu perlahan tenggelam bahkan sangat tenggelam.

Sebut saja Ahok. siapa yang tidak kenal Ahok? orang yang benar-benar dikagumi, mantan wakil Gubernur idaman, calon Gunernur yang pernah gagal karna harus berurusan dengan hukum. Seiring berjalannya waktu, Ahok akhirnya takluk oleh lawan-lawan politiknya. Ia harus hidup dibalik jeruji besi. Dengar-dengar karna berurusan dengan umat Islam, kemudian umat bersatu menegakkan supremasi hukum.

Sekarang mana Ahok, adakah yang membicarakan Ahok? Ahok hilang, tinggal Joko Widodo sendiri. Pertanyaannya mampukah tokoh baru ini, Jendral TNI Gatot Nurmantyo mengalahkan citra dan ketokohan Joko Widodo? Mampukah tokoh baru ini merebut tonggak kekuasaan yang sekarang ada ditangan Joko Widodo? bagi saya, tidak ada yang tidak mungkin, selama sesuatu itu belum terjadi, maka masih ada kemungkinan untuk terjadi, maka terjadilah jika harus terjadi.

Sebab citra adalah perbuatan manusia, citra diciptakan begitu saja, di era politik modern yang penuh dengan kecanggihan teknologi publikasi ini, citra tercipta secara sistematis. Jika Joko Widodo dicitrakan hingga ia akhirnya berhasil menjadi Presiden RI yang ke tujuh. Kenapa jendral tidak bisa? Sekarang masanya berbeda dan setiap masa punya tokoh.

Apalagi Islam sudah menunjukan bahwa dia adalah penakluk yang paling ampuh, orang akan berhati-hati ketika islam angkat tangan dan berbicara tentang politik dengan dalil-dalil yang sangat jelas dan tegas bahwa, pemimpin tidak boleh orang kafir. Jika Jendral Gatot berjalan secara terus menerus di atas rel islam maka yakin dan percaya saja, kekuasaan yang ia inginkan akan didapatkannya. Sebab Islam membutuhkan pemimpin seperti Jendral TNI Gatot Nurmantyo. Betulkah?

Saya jadi teringat kalimat singkat, jelas, dan padat yang dikatakan oleh dosen saya dibangku perkuliahan. "Bagaiamana mungkin berpolitik tapi tidak ingin berkuasa. Pasti abal-abal". kata dosen dalam tulisannya yang berjudul Anomali Politik yang pernah di muat di media portal berita online Indikator Bima News. 

Kehadiran Jendral TNI Gatot Nurmantyo semakin menjadi-jadi. ia mulai dibicarakan dimana-mana, tidak menutup kemungkinan ia juga akan hadir sebagai perebut kekuasaan kepresidenan.

Ditengah krisis kepemimpinan seperti ini, ditengah kebutuhan umat islam akan pemimpin yang adil dan tak pandang bulu, pemimpin yang lahir dari rahim Islam. Jendral Gatot Nurmantyo hadir sebagai tokoh yang dipuja pula dipuji.

Nama Jokowi Widodo mulai berbanding sejajar dengan nama jendral Gatot Nurmantyo. Joko Widodo tidak lagi sendiri setelah sekian lama tak tertandingi citranya.

Untuk itu, saya ingin menutup tulisan ini dengan kalimat Soe Hok Gie tentang apa itu politik.

"Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah" kata Soe Hok Gie.

Penulis : Furkan