Titik Nun Sebagai Beban Hidup, Sukses Itu Bersabar
Cari Berita

Advertisement

Titik Nun Sebagai Beban Hidup, Sukses Itu Bersabar

Senin, 16 Oktober 2017

Foto : Penulis
Tuhan mendengar mimpi-mimpiku, aku sudah ingin mencapai itu, tuhan kembali mengangkatku lalu membungkukkan kepala ku ke bawah dan melemparnya,, darrr aku terjatuh dan terhempas. lalu dengan sisa2 nafas yg terengah aku mendongak ke atas, akankan ini terwujud ataukah hanya akan menjadi mimpi pelengkap baring sebelum terlelap.

Nafasku masih terengah, masih terngiang dalam benakku hantaman itu, lalu ku coba membaca dalam tafsirannya, sungguhkah aku belum cukup waktu untuk penantian suksesku. Aku bermunajat mencapai dzatmu, namun aku terjatuh jauh dalam nun, yang kian terhimpit oleh titik dalam kurungannya, namun aku belum mati hanya saja masih terpendam.

Dalam kubangan kenistaan takdir, bukanku menyalahkan kau tuhan bukan ku menyalahkan takdirku, namun nun ku belum belum menjadi ya, dan saat itu terjadi akan ku rubah titik satu menjadi titik dua di bawah kubangan.

dengan lantang suara aku berteriak, bebanku kini sudah menjadi sandaran kaki pada tiap-tiap aliran sungai yang coba menerjang suksesku pada kehancuran. Aku katakan pada diriku sendiri, bersabarlah dalam memikul beban berat batu itu, niscaya batu itulah yg akan menopangmu nanti.

Penulis : Ginanjar