Spiritualitas Poligami : Bunda Zainab binty Jahsy
Cari Berita

Advertisement

Spiritualitas Poligami : Bunda Zainab binty Jahsy

Kamis, 12 Oktober 2017

Ilustrasi (foto : Dakwatuna)
Adalah Zaid bin Haritsah anak angkat Rasulullah ini gelisah. Zainab binty Jahsy isterinya gagal dibujuk. Zaid kalah. Mukanya muram. Hatinya patah. Cintanya remuk. Zainab berontak tak lagi mau bersama. Rumah tangga putra angkat nabi saw terancam retak.

Saat dilamar Nabi saw pertama kali Zainab binty Jahsy memang sudah menampik. Wanita cantik, bangsawan lembut, berhati teguh ini bilang kepada Nabi saw: "Aku lebih baik ketimbang Zaid bin Muhammad. Budak kesayangan yang Anda jadikan anak angkat".

Rumah tangga Zaid oleng. Zainab istrinya memperlakukannya dengan kasar dan buruk. Meski telah bersabar dan mengalah tak juga membuat reda. Zaid ingin berpisah setelah berbagai cara tak juga menunjukkan hasil.

Niat Zaid berpisah sudah bulat, tak kuasa menahan prilaku kasar Zainab, Ia adukan semua perihalnya kepada Rasulullah. "Tahan beberapa waktu .. ". kata Rasulullah memberi nasehat, tapi tidak berlangsung lama. Perlakuan Zaenab semakin buruk. Keduanya berpisah.

Masa iddah berlalu, Jibril as datang berkabar membawa perintah langit: "Nikahi Zainab binty Jahsy ..". Rasulullah tersentak. Dadanya sesak hatinya bergetar. Perintah tak biasa. Terasa lebih berat dibanding melawan sepasukan berkuda di bukit Uhud. Bagaimana mungkin aku menikahi bekas isteri anak angkatku kata Rasulullah dalam hati. Apa kata orang. Aisyah ra berkata, inginnya nabi mengabaikan perintah itu dan sembunyikan ayatnya. Tapi keburu nabi diancam dipotong urat nadinya jika berani lakukan.

Berikutnya nabi perintahkan Zaid bin Muhammad (Haristah) untuk melamar Zainab binty Jahsy. Dengan mata ditutup dan tubuh berbalik karena tak kuasa memandang Zainab, Zaid bin Muhamamad (Haritsah) melamar bekas isterinya untuk junjungannya. Zaid diam beberapa saat menunggu jawaban Zainab. Dadanya bergemuruh dibakar api cemburu.

Zainab menjawab ringkas: "Aku tidak akan berbuat sesuatu tanpa perintah Allah", sejenak Zaid lega dengan jawaban Zainab. Aku akan shalat dan meminta petunjuk. Lantas turun beberapa ayat yang menegaskan bahwa Rasulullah telah menikahi Zainab. Ya .. kedua mempelai itu telah resmi dinikahkan Allah sebagaimana dalam surah Ahzhab: 37-38. Allah yang menikahkan keduanya.

Munafiqin bergolak. Sebagian sahabat juga penasaran tapi menahan diri. Bagaimana mungkin nabi menikahi istri anak angkatnya. Melawan kelaziman dan tradisi. Itulah Allah Maha Berkehendak. Dengan berbagai implikasi hukum yang menyertai, Pertama, Islam hendak menegaskan bahwa anak angkat bukan muhrim. Maka isteri anak angkat tak ada hubungan nasab dan halal dinikahi. Ke dua, anak angkat tidak diperkenankan menggunakan kun-yah bapak angkatnya, sejak itu Zaid tak lagi menyebut Zaid bin Muhammad tapi kembali ke nasab keluarganya Zaid bin Haritsah. Ke tiga, anak angkat bukan ahli waris yang dapat mewarisi. Itulah beberapa hukum yang hendak ditunjukkan Allah kepada kita. Bukannya malah fokus pada bertambahnya isteri.

Poligami bukan hanya soal berapa jumlah perempuan dinikahi. Atau seberapa berani laki-laki punya nyali. Apalagi berlindung dibalik sunah yang nabi lakukan. Kenapa kita melupakan yang substantif, semua pernikahan nabi berdasar wahyu dan perintah Allah. Bukan nafsi-nafsi atau syahwat ibadah yang lebih.

Ada etika dan akhlaqul karimah yang mesti diperhatikan, isteri adalah soal harta dan kemewahan. Memperlihatkan kemewahan di tengah kefakiran umat adalah kurang terpuji. Menahan diri jauh lebih baik. Sekedar menjaga perasaan dan hati umat. Bukan sebaliknya disebar berita tentang betapa indahnya poligami, mahar yang mahal dan cantiknya madhu. Sementara sebagian besar umat hidup berkekurangan, dibelit soal hidup rumit dan pekerjaan yang makin sulit di dapat. Sementara panutan umat justru sibuk membahas poligami .. Ada apa ini".

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar