Spiriritualitas Poligami : Umul Hafsyah Binty Umar Ibnu Khatthab
Cari Berita

Advertisement

Spiriritualitas Poligami : Umul Hafsyah Binty Umar Ibnu Khatthab

Kamis, 12 Oktober 2017

Ilustrasi (foto : Dakwatuna)
Sayidina Umar murung, anak gadis kesayangannya menjanda. Adalah suami Hafsyah syahid di bukit Uhud. Umar Ibnul Khatthab tak seberuntung sahabat lainnya. Tinggal di rumah sangat sederhana. Keluarga Umar kian berat setelah suami putri kesayangannya syahid. Hidupnya kian susah.

Nabi sangat bersedih. Umar yang gagah perkasa di medan perang itu tampak lelah. Hari-harinya penuh dengan kesedihan dan kegelisahan karena beban hidup yang berat. Umar terus berikhtiar, salah satunya meminta para sahabat karibnya: Abu Bakar, Utsman untuk menikahi putrinya. Tapi keduanya menolak.

Umar kian bersedih. Semua jalan seperti tertutup rapat. Abu Bakar palingkan muka. Utsman menampik sambil kerutkan wajah. Umar kian gundah. Hatinya getir. Umar mengadu kan perihalnya kepada Nabi saw: "ya Nabi salam, aku tawarkan Hafsyah kepada Abu Bakar karibku untuk diperistri, ia bergeming seperti batu lalu tersenyum tanpa sepatah kata pun. Lalu aku datangi Utsman aku tawarkan Hafsyah sebagai istrinya. Ia terlihat jemu dan menatap lekat wajahku .... Rasulullah tersenyum dan bersabda mengejutkan: "Umar ... Hafsyah akan diperistri dari orang yang lebih baik dari Ustman dan Ustman akan menikah dengan orang yang lebih baik dari Hafsyah".

Meski tidak dinyatakan terus terang, Umar menangkap apa yang dimaksud Nabi junjunganya itu. Umar tersenyum dan membawa kabar gembira itu hingga rumah. Ini adalah anugerah dan kehormatan luar biasa, hilang sudah semua penat dan lelah.

Perang Uhud membawa banyak duka, pelajaran dan hikmah. Nabi terluka sangat parah. Kemenangan yang sudah di tangan lenyap karena sebagian sahabat berebut ghanimah. Banyak wanita menjanda dan anak-anak menjadi yatim. Sebuah jaman sulit dan sengsara.

Menyedihkan jika poligami hanya dimaknai seperti deret hitung. Menikahlah dua, tiga atau empat. Lantas berbagai hujjah diambil untuk membenarkan. Kemudian menjejer semua perempuan yang dikawini seperti usai memenangi sebuah peperangan.

Bahwa poligami itu boleh memang ya. Sunah juga ya. Dilakukan Rasulullah dan sebagian sahabat juga benar tanpa ikhtilaf. Tapi memamerkan layaknya seorang pejantan usai memenangi sebuah lomba mungkin tidak. Sebab Nabi begitu hati-hati memperlakukan perempuan apalagi sengaja mengenalkan di depan publik. Itu soal lain.

Substansi poligami bukan soal berapa jumlah perempuan berhasil disanding. Juga bukan soal sekedar lampiaskan syahwat. Lihat semua pernikahan nabi adalah berdasar wahyu dan iman yang kukuh. Uswah Nabi tentang pertemanan dan ketulusan dan semangat membantu karibnya yang susah, kuat terlihat saat menikahi Hafsyah. Dan Penghapusan hukum anak angkat pada ibunda Zainab binty Jahsy. Agar poligami tak belok arah. Wallahu a'lam.

Penulis : @nurbaniyusuf: Ketua PDM Kota Batu, Penggiat Komunitas Padhang Makhsyar