Sastra Sebagai Dunia Ekspresif
Cari Berita

Advertisement

Sastra Sebagai Dunia Ekspresif

Selasa, 10 Oktober 2017

Foto : Penulis
Sastra sampai pada hari ini belum ada definisi secara permanen, tetapi banyak definisi dari berbagai perspektif ilmuan maka dari itu silakan pembaca mendefinisikan sastra sesuai kapasitas pengetahuan dan intelektual yang dimiliki hasil dari pada pengembaraan dan petualangan yang dilakukan dalam bidang keilmuan.

Dunia sastra adalah dunia dalam kata. Kemampuan pengarang menghipnotis pembaca melalui karyanya menjadi tolak ukur tersendiri bagi pengarang dan itu tidak terlepas dari medium bahasa.

Sebuah karya sastra merupakan hasil dari pada kemampuan pengarang berimajinasi yang kemudian dipadukan dengan realitas yang ada sehingga menghasilkan interpretasi berbeda daripenikmat karya sastra. Karya sastra merupakan wujud ekspresi ide dan gagasan pengarang yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

Dalam perjalanannya pengarang menghasilkan suatu karya disebabkan pengembaraan konflik batin yang gelisah. Gelisah terhadap kondisi yang tidak berpihak, kondisi yang menyenangkan lebih-lebih kondisi suatu peradaban.

Pengarang menyadari kegelisahan itu bisa terobati ketika dia melakukan aktivitas literasi dan hasilnya dia mampu menginformasikan kepada khalayak umum melalui karya yang dia suguhkan.

Sebuah karya sastra tidak mampu lepas dari pengarang, pembaca, dunia sekitar, bahasa dan karya sastra itu sendiri. Kemampuan pembaca menjiwai atau memasuki dunia pengarang melalui karya yang disuguhkan disebabkan suatu karya memiliki nilai-nilai kehidupan.

Karya yang memiiki nilai keindahan, penggunaan bahasa yang plastis, padat dan berisi memberikan daya jual yang tinggi kepada pembaca.

Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam penulisan sebuah karya sastra agar pembaca tetap berada dalam dunia kata yaitu pembukaan cerita yang merangsang keingintahuan pembaca untuk mengikuti cerita, tema dan plot yang jelas, mengandung suspence dalam artian sebuat cerita tidak datar harus menanjak dan menarik sehingga membuat pembaca merasa ada permainan psikologis di dalamnya, mengandun sebuah kejutan (surprise), adanya suatu kesatuan dan masalah yang dibina karena suatu cerita yang menarik perhatian selalu ditutup dengan pengakhiran yang memberikan tekanan khusus pada jiwa dan batin pembaca serta ada pesan, kesan dan amanat yang disampaikan.

Siapapun bisa mejadi pengarang, salah satunya anda yang sedang membaca karena itu merupakan proses petualangan pengetahuan yang berpijak pada suatu pengalaman. Maka dari itu berkaryalah sebagai jejak anda, sebab berkarya merupakan tanggung jawab kemanusiaan dari suatu peradaban.

Mengapa para filsuf yunani pada hari ini kita pelajari peradabaannya, karena mereka meninggalkan suatu karya. Pada hal dalam kondisi ini peradaban kita sangat jauh dengan peradaban mereka dulu. 

Penulis : Azizu Syaf