(Sajak) Adam Cinta
Cari Berita

Advertisement

(Sajak) Adam Cinta

Rabu, 11 Oktober 2017

Foto : Penulis
Awalnya hanya tanah kering, lalu dari awan kemurahan turun hujan cinta ke bumi Adam yang menyebabkan bumi menjadi tanah liat.

Embun cinta yang turun ke bumi itu timbulkan kegaduhan dan kegemparan di kancah dunia. Seperti kita menjadi gempar ketika mengetahui ada kisah cinta yang begitu dramatis.

Tetesan air cinta dari awan kemurahan itu jatuh masuk ke jantung tanah Adam itu. Dan tak seorang malaikat pun tahu sebelumnya ihwal rahasia ini.

Mereka gempar ketika melihat satu sosok unik Adam di surga dengan konfigurasi yang begitu sempurna. "Karya senirupa apa yang dibuat Allah dari tirai kegaiban ini?" Adam seperti berkata; "Meski kalian tidak mengenalku, aku kenal kalian. Tunggu saja sampai aku bangun dari tidur nyenyakku ini, akan kusebut nama kalian satu demi satu". Ya sebab hanya Adam, dan hanya di dalam dan kepada dirinyalah Tuhan mengajarkan tentang segenap nama nama. Adam ini sangat berbeda dari ciptaan yang lain. Hanya dia saja yang disebut citra Tuhan, yang di dalam dirinya mengandung seluruh kualitas sifat sifat Tuhan.

Iblis " si mata satu" yang iri pada Adam itu selalu berusaha mencari rahasia Adam, dia kepo. Penipu ini bahkan menyinggung-nyinggung bahwa dirinya lebih mulia karena berasal dari api, sementara Adam hanya tanah. Oh dasar "bermata satu" selalu memandang apapun dengan "sebelah mata". Penglihatannya bodoh karena hanya mampu melihat segi lahiriah Adam. Ya, begitulah Iblis, jiwa rendah, jiwa amarah, yang selalu menyuruh pada kejahatan, memahami hanya "bentuk" dari segala sesuatu, bukan "makna". Dia tidak memiliki cahaya akal, melainkan hanya cerdik dan licik, dan karena itulah dia tidak bisa memahami maksud "tanda tanda Tuhan". Dia bisa melihat konteks langsung dari segala sesuatu, tapi tidak mampu memahami awal dan akhir dari segala sesuatu, termasuk tidak memahami Adam dari sejak awalnya hingga akhirnya, dari ruh Adam hingga jasadnya.

Nah kawan, sekarang saya tidak tahu, tapi tentu ada di antara manusia yang merefleksikan banyak kualitas Ilahi dan memandang sesuatu secara lengkap lahir batinnya; memandang manusia lengkap baik segi identitas maupun sisi kemanusiaannya, yang karenanya tidak menghalanginya untuk berbaur dalam perbedaan yang ada, sekaligus menghormati manusia lain menjadi pertaruhannya.

Ada pula di antara manusia yang karena kebodohan hanya melihat yang lain, apa pun itu, dengan "sebelah mata", tidak mampu melihat makna apalagi mengambil hikmah, disebabkan hanya memahami yang bersifat bungkus seperti harta, kehebatan dan ketenaran. Dia dibatasi oleh label dan atribut atribut material seperti identitas dan status, membaca yang tersurat tanpa memahami yang tersirat, membaca kata kata namun tidak menggapai pesan pesan supra inderawi di balik kata kata.

Penulis : Roni (Aktivis HMI Cabang Jember)