Ribuan Rusa dan babi Liar di Pulau Sangiang Asalnya Darimana, ada yang tau?
Cari Berita

Advertisement

Ribuan Rusa dan babi Liar di Pulau Sangiang Asalnya Darimana, ada yang tau?

Jumat, 13 Oktober 2017

Pulau Sangiang
Keberadaan Rusa atau Menjangan dan Babi liar di pulau sangiang patut dipertanyakan asal usulnya. Sebab tidak mungkin segala sesuatunya ada atau tercipta dengan sendirinya, tanpa ada yang menciptakan atau yang mengadakan. Bukan apa-apa, semata demi kepentingan ilmu pengetahuan tentang sejarah, pengetahuan tentang sejarah juga sangat penting untuk kehidupan masa kini dan masa mendatang.

Selama ini tidak banyak orang yang tau tentang asal-usul keberadaan rusa/menjangan dan babi hutan (liar) yang ada di pulang sangiang. Bahkan masyarakat setempat ketika ditanya kebanyakan menjawab tidak tahu, mereka hanya tau rusa/menjagan dan babi hutan itu ada jauh sebelum mereka lahir.

"Saya tidak tahu, yang jelas Rusa dan babi-babi itu ada jauh-jauh hari sebelum saya lahir" kata Amar salah satu warga Desa Sangiang.

Keberadaan Rusa/menjangan dan babi-babi hutan di pulau sangiang memang aneh dan misterius, pasalnya pulau sangiang terletak ditengah laut lepas, tidak mungkin rusa dan babi-babi hutan itu berenang dari Selatan Makassar ke pulau sangiang, atau dari Selat bali, atau dari kampung flores ke pulau sangiang. Jangankan dari daerah yang jauh-jauh itu. Dari Seberang Pesisir wera yang jaraknya paling dekat dengan pulau sangiang (kurang lebih satu jam jika ditempuh dengan perahu mesin nelayan) rasanya tidak mungkin mereka kuat berenang menuju pulau sangiang, mengingat arus menuju pulau sangiang sangat deras tak menentu.

"Mereka bukan hewan darat kalau kuat berenang sejauh itu, tapi iblis laut" lanjut Amar.

Menurut informasi yang digalih oleh reporter indikator Bima dari cerita masyarakat setempat (orang-orang terdahulu), salah satunya datang dari Halidah (98), ia mengatakan bahwa, asal usul rusa/menjangan dan babi-babi hutan yang ada di pulau sangiang tersebut, merupakan muatan kapal yang karam di dekat pulau sangiang.

Diceritakan telah terjadi perang laut antara dua kapal yang masing-masing memuat Rusa dan babi, kapal yang satunya dinahkodai oleh Safiri Sango datang dari arah barat memuat babi, sementara kapal yang satunya lagi dinahkodai oleh Safiri Gadi memuat rusa/menjangan datang dari arah timur.

Dalam cerita tersebut nyatanya perang laut tersebut juga merupakan perang antara saudara. Safiri Sango dan Safiri gadi rupanya saudara yang terpisah sejak kecil.

"Ini hanya cerita, kapal Safiri Sango dan Safiri Gadi membawa Rusa dan Babi, Safiri Sango datang dari arah barat bawa babi, Safiri Gadi datang dari timur bawa Rusa. Keduanya perang ditengah laut, ternyata mereka beraudara" katanya bercerita.

Masyarakat Pulau Sangiang yang sekarang ini telah berdomisili di Desa Sangiang Kecamatan Wera Kabupaten Bima, tepatnya disebelah utara pulau sangiang mempercayai cerita tersebut sebagai sumber pengetahuan tentang keberadaan Rusa/menjangan dan Babi hutan. Bahwa, rusa/menjangan dan babi-babi hutan tersebut dibawa oleh kapal Safiri Sango dan Safiri Gadi yang karam akibat berperang disekitar pulau sangiang.

Sampai dengan hari ini rusa dan babi-babi hutan tersebut masih berkeliaran di pulau sangiang dan berkembang sangat pesat, mungkin sudah ribuan ekor. namun masyarakat setempat tidak jarang melakukan perburuan terhadap babi hutan ketika mengganggu kebun mereka. Rusa juga menjadi objek perburuan liar.

Pulau Sangiang juga sangat sering dikunjungi oleh wisatawan luar negeri menggunakan kapal pesiarnya. Kedatangan mereka tidak hanya melihat keindahan pulau sangiang, mereka juga kadang bertanya tentang sejarah dan kekayaan alam di pulau sangiang.
Puluhan turis dari berbagai negara ketika berkunjung di pulau sangiang
Jika anda berkunjung ke pulau sangiang dan bermalam dipinggir pantai, maka anda akan di kagetkan dengan aktivitas babi hutan yang mencari makan atau sekedar minum di pinggir pantai pada pagi harinya, begitupun di sore harinya.

Penulis : Furkan S.A