Pribumi : Cara Cerdas Anies Kelola Isu
Cari Berita

Advertisement

Pribumi : Cara Cerdas Anies Kelola Isu

Jumat, 20 Oktober 2017

Gubernur Anis Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno (foto : Tribun Sumsel - Tribunnews.com)
American First dan semangat anti Cina yang diusung Trump berhasil menggilas Hillary untuk memenangi Pilpres Amerika. Siapa sangka Trump seorang pengusaha dengan kredibilitas moral yang diragukan itu berhasil menarik simpati pemilih Amerika yang dikenal rasional dan cerewet dalam memilih.

Semangat anti China menjadi isu menarik ditengah pengangguran tinggi. Trump membuat bangsa Amerika kembali bangkit. Semangat "pribumi" Amerika riuh bergelora, Amerika yang dikenal cerdik itu tiba-tiba menjadi melankolis, romantis dan rindu masa lalunya.

Trump melenggang ke gedung putih. Isu American First berperan penting mempengaruhi pemilih. Bukan Trump sesungguhnya yang mereka pilih tapi sentimen anti China yang menguasai ekonomi strategis yang dibidik. Bangsa Amerika "cemburu". Amerika harus nomor satu. Dan Trump mendapat bola liar itu.

Pribumi menjadi trading topic dan viral dimana-mana, terbukti ampuh menaikkan elaktabilitas Anies Baswedan gubernur Jakarta yang barusan dilantik. meski Anies juga bukan pribumi tapi WNI keturunan Arab.

Tapi Anies punya pidato yang sangat cerdas dan terukur. Pidato politik dalam pelantikan itu bahkan lebih dahsyat dibanding pidato Presiden saat dilantik, apalagi dibanding pelantikan gubernur lainnya yang standard dan terkesan adem ayem. Seakan ia mewakili pribumi yang lama ditindas. Anies menjadi ikon baru. Konstelasi Peta politik pun berubah dan Anies sedang di pusat episentrum perubahan itu: pribumi kata kuncinya. 

Diakui bahwa pilgub DKI Jakarta milik Ahok dan Habib Rizieq. Dua aktor penting yang bersaing dan bertarung. Mulanya Anis hanya suplemen pelengkap penderita. Kemenangannya hanya menerima bola liar. Isu penistaan agama menguntungkan Anis dan prilaku pemilih Islam. Dan Anis menjadi alternatif, itu pintarnya. Jangan remehkan Anis. Dia bukan kader sebuah partai tapi memenangi pertarungan paling riuh.

Anis berhasil mengolah isu menjadi sebuah bola api yang terus membakar. Seperti istilah "proletar" saat pertama kali dikenalkan oleh Marx, atau Marhain yang di ucap Soekarno.

Di tengah keterpurukan, Pribumi menjadi kata penuh daya magis. Pribumi adalah simbol orang miskin yang ditindas. Yang tanahnya diambil, yang rumahnya di duduki, yang airnya dikotori, yang dibodohi, yang ditindas dan yang dizalimi dan dipinggirkan.

Itulah pribumi. Yang di gusur, yang hidup di gang sempit dan kumuh di bawah tiang beton yang angkuh. Yang kalah di meja pengadilan karena tak kuat bayar pengacara. Yang tak mampu menebus resep obat di apotek. Di bantaran kali, beratap kardus atau rumah susun yang pengap, itulah pribumi asli. Yang terus di hisap. 

Maka tak heran jika pidatonya bercita rasa lain. Bukan pidato seorang gubernur biasa, tapi pemanasan menjelang Pilpres 2019. Pribumi menjadi trading topic yang terus membesar, tinggal bagaimana menjadikan isu bersama. Menanggalkan baju agama, ras dan suku. Kita adalah pribumi yang senasib melawan ketidak adilan dan ketimpangan sosial dan ekonomi. Pribumi melawan ... ".

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar