Politik itu Kotor, Manusianya juga Kotor, lalu Siapa yang Bersih?
Cari Berita

Advertisement

Politik itu Kotor, Manusianya juga Kotor, lalu Siapa yang Bersih?

Selasa, 03 Oktober 2017

Ilustrasi (foto : Cari Blog Ini - blogger)
Kata orang, Politik itu bersih, Tapi orangnya yang kotor. Ada juga yang bilang, Orangnya Bersih, tapi politiknya yang Kotor. Politik tidak jahat, manusianya yang jahat. Yang benar yang mana? Tapi saya bilang keduanya sama saja "sama-sama jahat dan kotornya".

Kotoran politik dan kotoran manusia sama saja "sama-sama kotor" bedanya, kotoran politik itu tidak selalu bau tapi tetap menjijikan, sedangkan kotoran manusia selalu bau dan selalu menjijikan. Sama-sama kotorkan? Maaf bahasa saya juga ikutan kotor, tapi apa mau dikata. Kata-kata kotor itulah yang sanggup mengungkapkan sebuah makna, bahwa manusia dan politik itu sama-sama kotor.

Perilaku dan partisipasi politik manusia semakin menjadi-jadi. Tidak jarang pelaku dan partisipan politik memanfaatkan segala kesempatan dalam kesempitan, menghalalkan segala cara, bahkan mengharamkan cara yang halal.

dimata politik, teman seperjuang, teman makan sepiring berdua, teman tidur bersama, dapat saja menjadi musuh bebuyutan yang harus dimusnahkan. Begitupun sebaliknya, musuh bebuyutan dapat menjadi teman yang harus dilindungi bahkan taruhannya nyawapun tak apa demi seorang teman yang katanya baik dan setia.

Dimata manusia yang berpolitik, semuanya wajar-wajar saja, kan sama-sama jahat dan kotornya. Jangan salahkan politik, tapi salahkan manusianya. Apa benar demikian?.

Ada yang mengatakan bahwa seseorang sedang iklas mengabdi, dia tidak punya kepentingan apa-apa selain melakukan apa yang harus ia lakukan. Sepertianya yang mengatakan hal semacam itu sangat polos dan lugu. Saya jadi teringat kata dosen pembimbing II saya (pembimbing skripsi), dalam tulisannya yang berjudul "Anomali Politik". Iya mengatakan bahwa sangat tidak mungkin orang yang berpolitik tapi tidak ingin berkuasa.

"Bagaiamana mungkin berpolitik tapi tidak ingin berkuasa. Pasti abal-abal." Kata Dosen.

Kemudian saya juga teringat pendapat Soe Hok Gie, Aktivis orde lama yang meninggal di gunung Semeru ini mengatakan bahwa politik itu kotor, lumpur-lumpur yang kotor, tapi suatu saat kita akan terjun kedalamnya apabila kita sudah tidak bisa mengindarinya lagi.

"Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah" kata Soe Hok Gie. Tapi salah satu pengagum Soe Hok Gie tidak setuju dengan pernyataan Soe Hok Gie ini bahwa, bukan politik itu sendiri yang kotor tapi orang-orangnya.

"Di sisi ini saya ingin mengkritik. Saya beda pandangan soal politik dengan Gie. Politik itu tidak kotor. Yang kotor adalah orang-orangnya. Tapi, Gie saat itu lebih memilih di luar sistem dengan kritikan tulisannya,\\\" kata Fadjroel kepada detikcom, Ahad (15\/12) kemarin.

Lepas dari sikap politik tersebut, Fadjroel tetap mengagumi Gie. Bagi dia Soe Hok Gie telah memberi inspirasi saat dia harus mengkritik kebijakan pemerintahan yang keliru. Menurut dia, Gie adalah legend yang punya kelengkapan intelektualisme, advokasi, dan bisa menggerakkan massa. 

Sementara itu, saya berpendapat berbeda dengan keduanya, saya juga ingin mengkritik pernyataan keduanya bahwa, Politik dan orangnya itu sama-sama kotornya.

Bayangkan saja, seorang ustad atau kiyai, tokoh politik, atau anak shaleh dan shaleha yang awalanya taat kepada tuhan dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangannya, serta berbakti kepada orang tua menjadi kotor dan jahat ketika terjun kedunia politik. Misalnya terpidana korupsi Hambalang, Korupsi pengadaan Al-Qur'an, korupsi daging sapi, dan masih banyak korupsi-korupsi lainnya. itu nyata! Pelaku Korupsikan penjahat negara. 

Bayangkan saja, mereka hidup dan berkembang di negara yang penuh dengan sistem politik, makanannya adalah kebijakan-kebijakan politik. Bagaimana mungkin mereka bersih? Mungkin mereka bukan pelaku politik, atau bukan partisipan, bahkan mungkin saja mereka anti dan sangat benci pada politik serta isinya. Tapi menurutnya saya, anti dan benci kepada politik dan pelakunya itu juga kotor. Mereka membiarkan begitu saja dan tak perduli dengan kotoran yang bertebaran disekitarnya. Dia mencium baunya, dia melihatnya, mendengarnya, dan merasakannya, tapi dia diam tak berbuat apa-apa, sekali lagi itu juga kotor bahkan sangat kotor dan munafik.

Menurut saya, manusia-manusia yang suci nan bersih sekalipun mereka nakal adalah bayi-bayi dan anak-anak kecil yang tidak pernah tau apa itu politik. Sekalipun mereka hidup dan berkembang di negara yang penuh dengan sistem politik, kebijakan-kebijakan politik, dan perilaku politik. Tapi mereka tidak pernah tau apa dan bagaimana itu politik.

Penulis : Furkan S.A