Pemimpin Kita Perlu Turun Ke jalan
Cari Berita

Advertisement

Pemimpin Kita Perlu Turun Ke jalan

Selasa, 10 Oktober 2017

Foto : Ketika rakyat bekerja disetiap jalan dengan berbagai profesi seperti tukang becak
Dijalanan kita disuguhi dengan berbagai profesi yang beragam, mulai dari loper koran, pengemis, tukang becak. Potret kehidupan rakyat yang sebenarnya di kota-kota metropolitan ada di jalanan.

Disana menggambarkan mata pencaharian mereka dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Bekerja dibawah panasnya terik matahari yang panas membuat kulit terasa terbakar dengan penghasilan yang tak seberapa dan tak menentu.

Kondisi ini amat jauh berbeda yang dirasakan pemimpin mereka yang sedang asik duduk dengan kursi empuk dan ruangan yang ber-AC, belum lagi persoalan gaji dan tunjangan yang macam-macam diperolehnya. Kadangakala dalih kunjungan kerja ke luar negeri padahal cuma jalan-jalan yang nampak.

Sejauh ini dari kegiatan tersebut belum mampu memberikan perubahan yang signifikan untuk rakyat. Ketika ditanya rakyatnya apa perubahan yang sudah kalian berikan kepada kami? Sederhana mereka menjawab, merubah Indonesia tidak semudah membalikkan telapak tangan karena wilayahnya sangat luas. Jawaban itu tampak sebagai pembelaan yang tidak memiliki rasa tanggung jawab sebagai seorang pemimpin.

Pemimpin kita seharusnya perlu untuk turun ke jalan untuk melihat bagaimana kondisi dan penderitaan rakyat yang sebenarnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Bukan hanya sekedar kunjungan formalitas untuk mengambil hati rakyat demi kepentingan politik semata.

Turun ke jalan menjadi perlu agar mata, pikiran dan hatinya terbuka supaya memiliki nurani untuk mensejahterakan rakyat. Dengan melihat kondisi rakyat secara langsung, harapannya mampu memberikan formulasi kebijkan yang mengungkan rakyat, bukan menguntungkan golongan-golongan tertentu.

Entah sampai kapan rakyat akan terus menunggu pemimpin mereka yang benar-benar peduli terhadap nasibnya dari peliknya kehidupan. Penantian rakyat tak pernah berujung, tetapi hati nurani pemimpin mereka tak berujung pula. 

Penulis : Salahudin