Para Proletar
Cari Berita

Advertisement

Para Proletar

Sabtu, 14 Oktober 2017

Ilusrtasi (foto : puk spl fspmi pt taiyo toshin indonesia - blogger)
Di dunia yang sedih, tak ada yang sempurna, selalu saja harus ada orang bertanding dengan akhir yang tak selamanya tenteram, untuk setiap pemenang harus ada yang kalah dan para pemenang hanya dapat ada bila ada yang kalah." pernyataan Lester G Thurow ekonom terkenal Amerika dari MIT, ketika melihat kemiskinan kian merajalela ditengah pembangunan yang gencar.

Pembangunan tak selamanya baik bahkan cenderung meninggalkan yang tidak mampu bertanding lalu tertinggal dan menjadi sampah, dan setiap pemenang selalu ada pengurbanan dari si kalah. Kemewahan para borju adalah hasil kerja keras dan pengurbanan para proletar, begitulah seterusnya.

"Wong cilik" hanya ingin tertawa setelah penat yang tersisa, tidak ada ruang untuk sekedar bisa berkata bahkan berdoa pun dibatasi dengan birokrasi oleh orang-orang yang mengaku dekat dengan langit. 

Semuanya diambil bahkan tertawa saja dibatasi, nonton televisi tak boleh, bepergian katanya pemborosan, makan di warung dibilang hedon bahkan meniup terompet saja dibilang Yahudi, kami tidak punya apa-apalagi.

Masuk masjid pun harus berpikir dua kali karena celana dan jas dianggap mirip Eropa, meski mereka pakai minyak wangi penuh gelatine, beberapa menyebut kami pencuri shalat karena punggung kami tak bisa datar saat rukuk. Mereka picing mata karena sarung dan celana melorot hingga mata kaki. Dan sebut kami onta menderum karena lutut kami duluan menyentuh tanah saat hendak bersujud.

Para politisi dan bandar datang lima tahun sekali. Mereka beli suara kami dengan recehan, diimbuh dengan janji yang kami tidak mengerti. Tiba tiba semua sesak, kami bertemu dengan orang-orang yang tidak kenal, menggarap dan membangun sawah dan kebun kami menjadi mall, kantor dan gedung tinggi menjulang, mereka juga menghisap air dan menebangi pohon tempat kami biasa berteduh makan bekal sehabis mencangkul seharian.

Kami tak bisa lagi leluasa berjalan semua sudah berganti aspal dan sesak orang berjualan, dunia memang kian mengkerut, tempat tinggal kami makin menyempit.

Mereka ambil semua, makanan, minuman, pakaian bahkan suara kami. Mereka datang atas nama tuannya, memberi petuah dan regulasi kemudian membawa pergi semua yang kami punya dan kami hanya bisa menunduk karena tak ada kemampuan untuk sekedar bertanya.

Inilah kami sekumpulan tanpa perlindungan, hak kami diberangus. Kami adalah proletar dari aspek manapun. Bahkan mimpi saja kami tak boleh.

Kami tak punya hari raya bahkan sekedar hendak shalat Ied setahun sekali, tak ada keberanian karena sarung dan peci bau apeg, belum lagi Khutbah ustadz yang selalu menyudutkan, kami memilih berdiam di rumah. Lalu apa yang tersisa.

Penulis :@nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar