Muhammadiyah Mainstream
Cari Berita

Advertisement

Muhammadiyah Mainstream

Senin, 09 Oktober 2017

Ilustrasi (foto : Layar Cerita : Review Film Film - blogger)
Ditanya santrinya apakah MUHAMADIYAH itu, Kyai Dahlan menjawab ringkas: "Islam Kemadjoean". Dua kata pendek dan padat. Konsep itu demikian menarik meski sudah banyak dilupakan. Betapa susahnya memaknai itu ditengah kelimun ambigu. 

Tak banyak yang paham meski telah mencapai kedudukan puncak di Persyarikatan ini. Tidak juga saya, yang kerap gagal paham memahami pemikiran dan sikap sebagian pengurus. Mungkin saya saja yang kuno dan Ortodoks sehingga tak lagi layak berlayar di kapal besar bernama MUHAMADIYAH itu.

Ibarat Dzun Nun saya harus melompat. Agar kapal kembali tenang dan tidak karam. Bedanya saya tak ditelan ikan hiu karena saya bukan nabi. Substansinya tetap sama saling menyelamatkan. Agar layar kembali tegak.

"Boleh .. ", jawab Kyai Dahlan tegas, saat ditanya Soegarda Poerbakawatja (Prof). Salah seorang muridnya di Kweek School itu bertanya apakah boleh shalat dengan menggunakan bahasa melayu atau bahasa yang di mengerti. Kyai Dahlan hanya ingin menunjukkan betapa mudahnya beragama. Meski kemudian dia menimpali. dengan bahasa aslinya jauh lebih baik.

Tak hanya itu, modernisasi Kyai Dahlan terus berlanjut. Dicap kyai kafer karena banyak menggunakan cara kafer dalam membangun peradaban baru yang diimpikan. Dasi dan pentalon bahkan motor harley kerap menemani.

Dikenalkan pula pembelajaran model klasikal, ada meja, bangku dan papan tulis mirip sekolah paroki milik Belanda. Kyai Dahlan dilawan bahkan diusir. Sebab ajarkan tentang kemiripan dengan orang kafer. Kemoderenan terus berlangsung, termasuk menterjemah Al Quran yang awalnya diharamkan. Pemahaman keberagama-an tak lagi jumud. Banyak hal dilakukan termasuk tidak sedikit yang kaget dan gagal paham.

Satu hal lagi. Kyai Dahlan adalah orang dekat Sri Sultan, penasehat spiritual sekaligus guru bagi putra putri Sri Sultan. Beliau hidup di lingkaran kekuasaan. Kyai Dahlan menganggap kekuasaan adalah lahan dakwah, bukan sesuatu yang harus dijauhi apalagi dimusuhi. Kyai Dahlan juga tak pernah memusuhi gouverment Belanda meski jelas-jelas kafir. Sebaliknya menjadikannya mitra.

Banyak gagasan dan pemikiran cemerlang, awalnya dimusuhi dilawan bahkan dinafikkan, tapi di tiru dan dibenarkan kemudian. Biasa disebut kemenangan dialektik. Dan Gus Dur mengakui itu. 

Kontribusi MUHAMADIYAH tak bisa disebut satu-satu. Inilah gerakan pemikiran paling memukau sepanjang sejarah pergerakan Islam di Indonesia bahkan kawasan Asia. Banyak meng-inspirasi pergerakan Islam yang tumbuh di kemudian hari. MUHAMADIYAH mainstream tak harus ngantor, punya nomor baku atau PIN bersimbol MUHAMADIYAH.

Biarkan amal usaha berkembang sesuai tracknya. Dan gerakan pemikiran kita tumbuh kembangkan sebagai ruhnya. Keduanya tak harus saling menafikkan. Tapi saling menggenapi. Dua mata pedang: gerakan pemikiran dan gerakan amal. Inilah gerakan pemikiran Kyai Dahlan .. harakah yang membanggakan. 

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar