Muhammadiyah Cap Stempel
Cari Berita

Advertisement

Muhammadiyah Cap Stempel

Senin, 09 Oktober 2017

Ilustrasi (Foto : ImajinasiMedia - blogger)
Kyai Dahlan sempat kawatir saat ada usulan dari beberapa santrinya yang hendak menjadikan MUHAMADIYAH sebagai organisasi. Pertimbangan diambil setelah diskusi dengan beberapa santri terdekatnya, sebab perkumpulan pengajian semakin besar dan banyak urusan pelik. 

Kebesaran MUHAMADIYAH diikuti dengan berbagai banyak masalah. Regulasi dan aturan hukum yang harus ditaati, hal ini tak bisa dinafikkan. Implikasi teologi Al Maa'un yang digagas di awal pergerakan, menjadikan MUHAMADIYAH sebagai satu-satunya organisasi dengan ribuan amal usaha. Lembaga pendidikan, rumah-sakit, bait amal dan banyak lagi lainnya.

Dua mainstream besar di MUHAMADIYAH berebut pengaruh. Sebagai gerakan pemikiran dan gerakan amal. Jangan lupa, dua mainstream itu kerap bersinggungan bahkan cenderung saling mengalahkan. Saya merasakan betul bagaimana keduanya bergumul dan bertarung di tubuh Persyarikatan.

Di awal pergerakan Kyai Dahlan begitu leluasa. Beliau adalah pemikir besar dengan gagasan brilian sepanjang sejarah pergerakan Islam. Kyai Dahlan adalah salah seorang simbol modernis, pembaharu sekaligus penganjur purifikasi. Kyai Dahlan gelisah ketika melihat banyak prilaku jumud (mandeg). Al Quran hanya dihafal tapi miskin realisasi.

Kyai Dahlan adalah seorang penghulu Keraton. Sangat dekat dengan Sultan. Dan berada di pusat kekuasaan tanah Jawa, tepatnya Sri Sultan Hamengkubuwana VIII. Yang banyak menyokong bahkan melindungi Kyai Dahlan dari "serangan" ulama tradisional yang berseberangan. Kyai Dahlan juga salah seorang penghulu keraton yang sangat disegani.

Salah satu bukti otentik adalah diserahkannya masjid Kauman kepada Kyai Dahlan sebagai pusat gerakan perubahan setelah sebelumnya atas nasehat Sri Sultan diperintah pergi haji. Sepulang dari haji itulah Kyai Dahlan yang sebelumnya bernama Muhamad Darwisy giat bertukar pikir, melakukan safar dan mengunjungi berbagai daerah untuk berdakwah.

Di awal berdiri MUHAMADIYAH begitu lincah bergerak. Lentur dan fleksibel. Berdiskusi untuk berubah. Banyak hal dicapai. Nusantara "geger". Para ulama bangkit melawan pergerakan yang mengancam kemapanan ini. Gerakan pemikiran: perubahan, kemoderenan dan ke-Indonesia-an begitu menarik, banyak mendapat simpati dan pengikut.

Namun masa itu kelihatannya perlahan tenggelam dan berganti dengan birokrasi yang kental. Gerakan amal lebih dominan. Rapat menjadi kegiatan rutin. Kop surat, cap stempel, administrasi dan segala hal yang bersangkut dengan itu. Kita lebih suka membangun kantor dan gedung pertemuan daripada ngurus pembaharuan pemikiran. Kita telah mundur ke belakang. Mulai Banyak yang meragukan sebagai pembaharu.

MUHAMADIYAH menjadi lamban bergerak, tak ada lagi terobosan pemikiran dan tajdid. Tak urung Prof Mitsuo Nakamura juga sempat cemas saat pendulum gerakan pemikiran yang pernah memukau ini terpuruk. Sementara Prof Malik Fadjar menyebut godal-gadul seperti gajah gemuk. Saya menyebutnya lamban berpikir. Diadakanya Majelis tajdid dan pemikiran Islam adalah upaya untuk menjawab itu. Banyak yang gelisah dengan kondisi mandeg ini, tapi tak tahu bagaimana harus mengurai.

Pada sisi lain purifikasi semakin mengental cenderung mengeras. Islam yang dipahami menjadi hitam putih. Makna kemoderenan pun perlahan menghilang. Anti budaya. Tak heran kemudian ada yang curiga. Disebutkan bahwa MUHAMADIYAH fundamentalis, radikal, agen wahaby dan masih banyak lagi. Itu kritik baik, kenapa marah kalau memang benar, bahwa sebagian kita ada yang demikian.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar