Misteri Karombo Wera, Tempat Persembunyian dan Jalur Rahasia "Bawah Laut" Menuju Pulau Sangiang
Cari Berita

Advertisement

Misteri Karombo Wera, Tempat Persembunyian dan Jalur Rahasia "Bawah Laut" Menuju Pulau Sangiang

Rabu, 11 Oktober 2017

Foto : Seorang pemuda sedang bersemedi di dalam Karombo Wera (foto : Sandy Bimantara
Indikatorbima.com - Misteri di kecamatan Wera memang tiada habisnya, selain cerita tentang legenda pulau ular sebagai pulau kutukan dan keanehan oi Sola (Air Solar), Air yang hanya mengalir di musim kemarau sedangkan di musim hujan malah mengering, ada juga cerita misterius tentang Karombo (Goa) sebagai pintu masuk jalur rahasia (Bawah laut) menuju pulau Sangiang. Karombo (Goa) Merupakan sebuah goa tua yang terletak di ujung bagian timur Desa Sangiang Kecamatan Wera Kabupaten Bima Propinsi Nusa Tenggara Barat.

Posisi karombo yang sangat dekat dengan bibir pantai membuatnya mudah dijangkau oleh para pengunjung musiman. Pintu masuk karombo terdiri dari dua pintu, yaitu pintu di bagian barat dan timur. Untuk dapat masuk ke dalam karombo, para pengunjung harus dalam posisi merayap dan jongkok, hal itu di karnakan pintu masuk dibagian barat sangat kecil, sementara untuk pintu dibagian timur mengharuskan para pengunjung untuk naik sedikit kemudian terjun kebawah pada hamparan lantai Karombo.

Namun tahukah anda, setelah beberapa meter kedalam anda akan menyaksikan betapa luasnya karombo dengan segala kegelapannya. Tuhan seolah menciptakan karombo sebagai tempat persembunyian dan peristirahatan terbaik untuk masyarakat pulau sangiang jaman peperangan blBelanda dan Jepang dulu. 

"Kata bapak saya itu tempat persembunyian saat perang, dan didalamnya ada jalan bawah laut menuju Wera dan ke Pulau" ujar Halidah (98) warga Desa Sangiang yang pernah hidup pada masa peperangan Belanda dan Jepang. 

Selain itu, salah satu keanehan karombo adalah alat penerang ketika berada di dalam Karombo. Karombo hanya bisa diterangi oleh obor, selain itu tidak akan berfungsi dengan baik seperti senter dan lainnya. Hanya oborlah yang bisa menerangi kegelapan karombo.

Konon katanya ketika berada didalam karombo, rombongan pengunjung laki-laki harus mengumandangkan Adzan tidak boleh tidak, didalam karombo terdapat sebuah tempat khusus untuk mengumadangkan Adzan. Selain itu, dilarang keras ketika pengunjung laki-laki dan perempuan melakukan hal-hal yang berbau mesum didalam karombo, jika hal itu terjadi maka pengunjung tersebut tidak akan dapat keluar dari karombo.

Kemudian mengenai jalur bawah laut, masyarakat setempat masih menyimpan sejuta cerita tentang karombo. bahwa, karombo memiliki ratusan lubang dan setiap lubang tersebut masing-masing bercabang yang sampai saat ini belum ada seorang pun mencoba memasuki lubang-lubang tersebut sampai ke ujung-ujungnya.

Menurut cerita masyarakat setempat, terdapat sebuah lubang yang memiliki cabang, cabang yang menjadi jalur menuju pulau sangiang. Namun cabang tersebut tidak dapat diketahui oleh banyak orang, melainkan hanya orang-orang tertentu saja.
Pernah suatu waktu dulu sekali (puluhan tahun), seseorang mencoba menggunakan jalur bawah laut untuk menuju pulau sangiang, namun sampai dengan hari ini seorang tersebut tidak dapat ditemukan atau tidak pernah kembali, hingga akhirnya seorang yang dipercaya dan yang tau tentang karombo akhirnya menututup jalur tersebut agar menghindari korban-korban yang lebih banyak.

Bagi masyarakat pulau sangiang, Karombo merupakan sebuah tempat persembunyian yang paling aman ketika perang berkecamuk antara Belanda dan Jepang. Baik pihak Belanda dan Jepang tidak pernah mengetahui bahwa di Wera ada karombo yang dijadikan sebagai tempat persembunyian oleh masyarakat pulau sangiang.

Sementara itu, pemerintah Desa setempat harusnya mampu memanfaatkan karombo sebagai Ikon Wisata atau tempat berkemah. Minimal menjadikan Karombo sebagai bagian dari sejarah yang tak boleh dilupakan. Bahwa karombo adalah tempat yang pernah melindungi masyarakat pulau sangiang yang kini hidup di Desa Sangiang. Karombo harusnya bernilai sejarah, karna memiliki cerita misterius, unik, sekaligus anehnya adalah nyata.

Sampai dengan hari ini, Karombo masih dalam keadaan yang sama, yaitu misterius, unik, aneh, dan kesepian. Biasanya para pengunjung hanya mengunjungi Karombo sebagai tempat berlibur hanya sekali dalam setahun yaitu, pada hari raya Idul Fitri atau Idul Adha. Kebanyakan anak-anak Muda saja yang menjadikan Karombo sebagai tempat pariwisata.

Reporter : Furkan S.A