Menimbang Cagub-Cawagub Ideal Untuk NTB
Cari Berita

Advertisement

Menimbang Cagub-Cawagub Ideal Untuk NTB

Selasa, 10 Oktober 2017

Foto : Penulis
Mencari pemimpin daerah yang ideal bisa jadi gampang-gampang susah. Pertama, karena kita menyadari tidak ada manusia yang sempurna, demikian dengan calon kepala daerah. Kedua, sistem politik kita bisa jadi hambatan sendiri bagi lahirnya pemimpin yang (mendekati) ideal. Meski demikian ikhtiar untuk mendapatkan pemimpin yang ideal tidak pernah surut bahkan menjadi kebutuhan sejalan dengan harapan untuk menghadirkan perubahan di daerah. Kondisi semacam ini terjadi di semua daerah tak terkecuali di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Jika tak ada aral melintang, NTB akan menghelat pilkada pada tahun 2018 untuk meneruskan estafet kepemimpinan dua periode yang ditinggalkan oleh TGB Zainul Majdi. Di tangan TGB, NTB tumbuh menjadi provinsi yang menjanjikan--dengan segala keterbatasan dan kekurangannya. Pun, TGB menjadi gubernur NTB yang mendapatkan kepercayaan luas dari masyarakat NTB dengan perolehan suara dominan periode kedua kepemimpinannya (44,63%). Ini menandakan kepemimpinan TGB memberikan kepuasan pada masyarakat NTB di samping kharismanya yang tak terbantahkan.

Pertanyaannya kemudian siapa pasangan cagub-cawagub yang ideal menggantikan kepemimpinan TGB? Tulisan ini tidak ingin mengawang-awang dan tidak berpijak pada realitas karena nyatanya sudah ada dua pasang calon yang mendeklarasikan diri (berikut parpol pendukungnya) plus dua pasang potensial yang akan muncul. Dua pasang pertama: Akhyar Abduh-Mori Hanafi dan Muh. Suhaili-Muhammad Amin. Sementara dua pasang potensial akan muncul dari PDIP (Ali Bin Dachlan-Putu Selly Andayani?) dan dari Partai Demokrat (Farouk Muhammad-Sitti Rohmi Djalilah?).

Siapa Paling Ideal?

Sejumlah survei yang sempat dirilis memang menempatkan nama-nama di atas pada posisi lima besar, meski secara persentase belum ada yang bisa dikatakan aman. Selain belum ada yang mencapai angka 20%, masyarakat yang belum menentukan pilihan ( _undecided voters_ ) masih terlampau besar. Justru posisi ini menjadikan analisa komparatif pasangan calon ideal menjadi menarik.

Akhyar-Mori punya modal komparatif yang baik terutama pada Akhyar-nya. Sebagai incumbent Walikota Mataram sejak 2005 tentu ia punya pengalaman yang relatif memadai di birokrasi daerah. Pasangan yang baru saja deklarasi ini didukung penuh Partai Gerindra hingga Prabowo Subianto (Ketum Gerindra) sendiri hadir dalam deklarasi keduanya.

Suhaili-Amin juga bukan orang baru dalam birokrasi pemerintahan daerah. Suhaili adalah incumbent bupati Lombok Tengah, sementara Amin incumbent wakil gubernur NTB saat ini. Berangkat dari Partai Golkar, pasangan ini telah pula mendeklarasikan diri meski sayang deklarasinya dianggap orang tidak pada waktu dan tempat yang tepat (acara resmi pemerintahan).

Setali tiga uang, Ali BD-Putu Selly juga punya modal awal yang cukup baik. Didukung PDIP, plus pengalaman Ali BD sebagai Bupati Lombok Timur menjadi _leverage_ tersendiri bagi proses pencalonannya.

Ketiga pasang cagub-cawagub di atas memang cukup menjanjikan dari sisi dukungan parpol dan 'kepastian tiket' pencalonan mereka hingga saat ini (sudah deklarasi). Hanya saja pertimbangan konfiguratif tiga pasangan ini tidak terlalu istimewa dari aspek-aspek pengalaman, kepemimpinan, gender, ikatan primordial (kesukuan), keterwakilan wilayah, pendidikan, dan afiliasi lainnya.

Pun, hadirnya ketiga pasangan sejatinya tidak terlampau istimewa dan berefek "wow" bagi pemilih. Kinerja dan kharisma mereka selama menjadi kepala daerah juga "begitu-begitu" saja (tidak istimewa). Bandingkan dengan TGB misalnya yang punya posisi elektoral sendiri di mata publik NTB.

Lain halnya dengan poros pasangan keempat yang dipastikan muncul dari Partai Demokrat. Demokrat dipastikan mengusung Sitti Rohmi Djalilah yang hingga kini masih belum memutuskan pasangannya. Tapi santer terdengar yang akan dipilih adalah Farouk Muhammad karena hingga proses akhir seleksi di Demokrat praktis hanya Farouk yang menunjukkan keseriusan plus modal popularitas-elektabilitas yang baik (kompetitif) berdasarkan sejumlah survei. Bahkan, berdasarkan hasil survei PolMark Agustus lalu simulasi pasangan Farouk-Rohmi meraih elektabilitas tertinggi dibandingkan pasangan lain.

Jika terwujud, duet pasangan ini jujur diakui akan lebih menarik dan punya efek "wow" dari sisi elektoral. Profil dan portofolio masing-masing menarik dan saling melengkapi. Dalam pilkada kekuatan figur sangat menentukan, apalagi kekuatan itu saling melengkapi di antara cagub dan cawagub.

Farouk Muhammad putera asli NTB kelahiran Bima, purnawirawan polisi bintang dua, pernah jadi Kapolda NTB, Guru Besar Ilmu Kepolisian dan pernah menjabat sebagai Gubernur PTIK. Kiprahnya di level nasional dikenal luas. Jabatannya sebagai pimpinan DPD membuatnya punya jaringan nasional yang mumpuni. Gagasan kebangsaan dan pembangunan daerah dapat diikuti melalui tulisan-tulisannya di media. Ia ikut menyusun _grand design_ reformasi TNI-Polri saat reformasi 1998, integritasnya dinilai baik hingga ia pernah didaulat sebagai anggota Timsel untuk menyeleksi calon pimpinan KPK.

Sementara itu, Sitti Rohmi Djalilah, pernah menjadi Ketua DPRD Kabupaten Lombok Timur 2009-2013. Perempuan kelahiran Pancor ini saat ini lebih dikenal sebagai pegiat pendidikan dan sosial. Pendidikannya mumpuni bergelar Doktor dan saat ini menjabat Rektor Universitas Hamzanwadi di Selong. Latar belakang dan dukungan penuh dari Ormas Nahdatul Wathon Pancor menambah bobot elektoral tersendiri. Apalagi ia juga adalah kakak kandung TGB.

Dus, pasangan Farouk-Rohmi adalah kombinasi yang pas dari berbagai sisi: kematangan usia "senior-penerus", level kiprah "nasional-lokal", gender "laki-perempuan", citra kepemimpinan "tegas wibawa-lembut", representasi wilayah "pulau sumbawa/timur-pulau lombok/barat", representasi etnis "sasak-bima", kharisma dan keterwakilan sosial "PII/ICMI-NW", citra terpelajar "Profesor-Doktor."

Pasangan tersebut bukan saja ideal dari segi keserasian tapi juga menjanjikan kemenangan. Hitung-hitungannya, kalau saja Farouk Muhammad dengan dukungan suara DPD yang hampir mencapai 5 % dari pemilih dan bisa menguasai basis suara dari Bima/Dompu di tambah dari Sumbawa/KSB mencapai 60 % suara; sementara Rohmi dengan basis suara NW khususnya Pancor yang bisa mencapai  25 % suara dari Pulau Lombok; dapat diprediksi pasangan ini bisa meraih suara signifikan melampaui suara pasangan lain. Bahkan, tidak ada pasangan lain yang mampu mengimbangi penguasaan basis suara seperti kedua figur ini.

Alhasil, pasangan Farouk-Rohmi di atas kertas memiliki kombinasi yang paling pas (ideal) sebagai cagub-cawagub NTB. Meskipun demikian kita tentu tak bisa mendahului takdir dan pilihan masyarakat NTB. Siapa yang akan terpilih tergantung suara mayoritas masyarakat dan itu semua telah tertulis di _Lauhul Mahfuz_.

Penulis : Iskandar, S.Pd adalah Ketua Bidang Kajian West Nusa Tenggara Development Center ( WNTDC).