Mantan Kades Rite Divonis 1 tahun Penjara, Kades Yang Lain (Wera) Kapan?
Cari Berita

Advertisement

Mantan Kades Rite Divonis 1 tahun Penjara, Kades Yang Lain (Wera) Kapan?

Selasa, 17 Oktober 2017

Usai mempertanyakan perkembangan kasus yang merekan laporkan, Furkan (kemeja Biru) dan Hendra (Kemeja Kotak) melakukan foto bersama dengan Anggota Polisi Polres Bima Kota (Baju Merah) di kantor Unit Tipikor.
Indikatorbima.com - Majelis hakim tindak pidana korupsi (Tipikor) Mataram telah memutuskan bahwa, Abdul Wahid Mantan Kepala Desa Rite, Kecamatan Ambalawi, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat dalam perkara/Kasus Pungutan Liar dalam pelaksanaan Program Nasional Agraria (Prona) tahun 2016. Dinyatakan terbukti dan secara meyakinkan bersalah. Majelis Hakim memvonis Abdul Wahid 1 tahun Penjara dan pidana denda 50 Juta dengan subsider 2 bulan kurungan.

Berkaitan dengan hal itu, Beberapa pelapor yang pernah melaporkan kasus dugaan tindak pidana pungutan liar dalam pelaksanaan Program Nasional Agraria (Prona) di Kabupaten Bima seperti Furkan S.A (Desa Sangiang) dan Hendra Kurniawan (Desa Hidirasa) mempertanyakan Proses hukum pungli di Desa masing-masing termasuk Seluruh Desa yang ada di Kecamatan Wera yang diduga juga terlibat dalam pelaksanaan prona. 

"Mantan kades Rite Sudah Divonis bersalah, Kasusnya sama kok. Nah Laporan saya kapan diproses?" Ujar Furkan selaku pelapor pada kasus dugaan tindak pidana pungutan liar dalam pelaksanaan Prona di Desa Sangiang.

Lebih lanjut, Furkan mengatakan bahwa, dirinya masih menunggu penyidik dalam bersikap. Selama dua tahun lebih dirinya bersama korban pungutan liar menunggu kepastian hukum.

"Kita tunggu sikap dan tindakan penyidik, apakah kasus kita akan dilanjutkan atau akan dihentikan. Kalaupun dihentikan kita lawan di praperadilan" tegasnya.

Sementara Hendra Kurniawan mengatakan bahwa pihaknya tetap menunggu kinerja penyidik Polres Bima Kota unit tipikor, ia pun mengatkan bahwa, penyidik telah mengeluarkan surat panggilan sebanyak dua kali, setelah itu berhenti di tengah jalan.

"Kita tetap menunggu sampai kapanpun, sudah dua kali dikeluarkannya surat panggilan, tapi sampai saat ini tidak ada tindak lanjut" ujar pelapor kasus dugaan pungutan liar di Desa Hidirasa ini.

Diketahui, Kasus dugaan pungutan liar di Desa Sangiang sudah dilaporkan sejak tahun 2015 lalu, sedangkan laporan untuk kasus dugaan pungli di Desa Hidirasa Sudah dilaporkan sejak tahun 2016 namun sampai dengan berita ini ditulis, kedua kasus yang sama tersebut masih belum ada tindak lanjut yang jelas dari penyidik. 

Sebelumnya, Baik dari pihak Furkan dan pihak Hendra Kurniawan masing-masing sebagai pelapor sudah melakukan audiensi dengan pemerintah Desa Sangiang dan Pemerintah Desa Hidirasa, bahkan kedua pelapor tersebut pernah melakukan audiensi dengan seluruh kepala Desa Se-kecamatan Wera di Aula kantor Kecamatan Wera yang di hadiri oleh pihak kapolsek Wera dan Pihak BPN Kabupaten Bima. 
Kepala Desa Tawali (Berdiri), Suyu ketika menanggapi Tuntutan Mahasiswa Wera bersama pelapor pada saat audiensi di kantor Kecamatan Wera terkait Prona.
"Memang benar, kami memungut biaya, tapi semuanya didasarkan pada kesepakatan bersama masyarakat dan peraturan desa yang disetujui oleh BPD" ujar Kepala Desa Tawali di depan forum Audiensi di aula kantor kecamatan Wera.

Menanggapi pernyataan kepala Desa tawali yang berhasil di Video oleh pihak Furkan dan Hendra tersebut, Furkan mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh kepala Desa Tawali tersebut adalah momok tersendiri bagi para pelaku Pungli prona. 

"Hirarki hukum kita jelas bahwa, peraturan terendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan tertinggi, apa yang dikatakan Kades Tawali itu adalah momok bagi dirinya sendiri" ujar Furkan ketika usai menonton kembali Video Audiensi tersebut.

"Kesepakatan, dan perdes yang mereka buat akan dibatalkan demi hukum karna bertentangan dengan hukum yang ada di atasnya. Mari kita uji nanti" tambahnya menegaskan.

Diketahui, hampir seluruh Desa yang ada di Kecamatan Wera Kabupaten Bima diduga pernah melakukan penarikan (Pungutan Liar) dalam pelaksanaan Prona di Desanya masing-masing.

Reporter : Fuad Hamdani