Luar Biasa, Hasil Laut dari Bima Tembus Ratusan Milyar Rupiah Setiap Tahun
Cari Berita

Advertisement

Luar Biasa, Hasil Laut dari Bima Tembus Ratusan Milyar Rupiah Setiap Tahun

Castello
Rabu, 11 Oktober 2017





Salah satu potensi alam dari Kabupaten Bima adalah perikanan laut. Nilai ekonominya setiap tahun mencapai ratusan milyar rupiah. Namun tidak banyak yang tahu soal ini. Apakah kehebatan hasil laut ini berdampak pada kesejahteraan rakyat di Kabupaten Bima? Rasanya masih perlu kajian lebih mendalam. Karena tidak semua berasal dari hasil tangkapan nelayan setempat.

Besarnya potensi kelautan Kabupaten Bima dapat dipantau dari BKIPM (Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan) Bima, lembaga formal dibawah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia.

Data tentang hasil laut yang dilalulintaskan melalui BKIPM Bima terdiri dari berbagai jenis hasil laut yang dikonsumsi dan non konsumsi, baik yang hidup dan non hidup. Jenis hasil laut untuk konsumsi yang dominan, yaitu Lobster, Kerapu, Kakap, Lobster Kipas dan Kepiting Bakau. Nilainya mencapai Rp 14,3 Milyar selama periode triwulan dua tahun 2017 saja. Jumlahnya secara fisik mencapai 61.686 ekor. Porsi terbesarnya adalah lobster, sebanyak 38,55%. Sedangkan ikan konsumsi yang dikirim non hidup (mati) meliputi tongkol, ikan layang, gurita, cakalang, dan kerapu segar. Nilainya mencapai Rp 39,8 Milyar, dengan volume 1.087 ton. Bagian terbesarnya berupa tongkol segar, sebanyak 27,95%.

Sementara untuk hasil laut non konsumsi non hidup, antara lain kulit kerang, karang lunak, dan biji mutiara. Nilainya lebih fantastis, mencapai Rp 81,2 Milyar, dengan volume fisik sebanyak 53,2 ton.  Hasil laut non konsumsi yang dikirim hidup, antara lain spat mutiara, kelomang dan anemon. Nilainya mencapai Rp 705,2 juta, dengan volume 530.736 ekor. Yang terbanyak berupa spat mutiara, sebesar 88%.


Jumlah keseluruhan nilai hasil laut selama triwulan kedua 2017 tersebut ternyata menembus angka ratusan milyar, yaitu Rp 136 Milyar ! Tiga hasil laut utama yang meningkat secara signifikan pada tahun 2017 yaitu Lobster, naik 24,9 %, Kepiting naik 55,1 % dan Rajungan naik  64,2% dibandingkan tahun 2016.

Hasil laut tersebut dikirim melalui pengawasan Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas II Bima. Stasiun ini beralamat di Jalan Raya Lintas Sumbawa, Talablu, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima. Tujuan pengiriman hasil laut tersebut, sebagian besar menuju kota-kota besar seperti Mataram, Denpasar, Surabaya, Makasar, Jakarta dan Sumba.

BKIPM Bima ini merupakan badan bentukan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI yang bertugas untuk melaksanakan pencegahan masuk dan tersebarnya Hama dan Penyakit Ikan Karantina (HPIK) dari/ke/di/keluar wilayah Negara Republik Indonesia, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan, serta penerapan sistem manajemen mutu.

Tentu menjadi pertanyaan menarik bagi kita. Dari manakah hasil laut tersebut berasal? Siapakah yang menghasilkan, nelayan atau pengusaha dengan kapal besar? Ada yang tertarik untuk menelitinya?

Reporter : Kontributor Malang