Lembo Ade "Maknamu Tak Seindah Dulu"
Cari Berita

Advertisement

Lembo Ade "Maknamu Tak Seindah Dulu"

Minggu, 15 Oktober 2017

Foto : Penulis
Sejarah masyarakat Bima adalah sejarah peradaban yang luhur, ramah dan penuh dengan kesantunan. Nilai dan norma dijunjung tinggi dalam kehidupan sehari-hari, terinternalisasi dengan sangat baik, inilah masyarakat Bima yang budi luhur. Tapi ini adalah kondisi dulu, sekarang masyarakat Bima bukan lagi dikenal dengan keramahan dan kesantunannya melainkan konflik, bentrok, kekerasan atau bahkan perang antar suku, kelompok, maupun ras. Hal ini sudah pasti berpengaruh pada pembangunan daerah. Kerugian dari segi materi maupun non-materi akan menjadi akibat dari konflik tersebut.

Konflik yang sering muncul dikalangan masyarakat Bima harus sama-sama carikan solusinya. Salah satu hal yang bisa dioptimalkan yaitu membangkitkan kembali makna keramahan masyarakat dengan merekonstruksi hikmah kata Lembo Ade sebagai upaya untuk meredam konflik. Makna Lembo Ade sangat dalam dan menyentuh, ini merupakan warisan peradaban masyarakat Bima yang harus senantiasa dijaga dan dirawat oleh generasi selanjutnyasehingga hikmah dari makna Lembo Ade ini bisa mendarah daging dalam setiap jiwa masyarakat Bima yang ramah dan penuh toleransi.

Kalembo Ade bukanlah ungkapan baru yang muncul dengan tiba-tiba, kata ini penuh dengan makna filosofi, seperti seorang pujangga yang membacakan syair pada kekasihnya, indah dan syarat makna.Kalembo Ade telah menyelam dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Bima sejak berabad-abad silam. Kalembo Ade telah menjadi sikap dan semangat hidup masyarakat Bima yang dikenal ulet, gigih, dan pantang menyerah dalam berusaha dan berjuang.

Di tanah rantau, spirit Kalembo Ade telah melahirkan generasi Bima yang cerdas dan disegani. Begitupun dalam kehidupan masyarakatnya, semangat Kalembo Ade telah melahirkan generasi masyarakat yang bekerja keras disertai sikap sabar dan lapang dada dalam menghadapi berbagai cobaan dan ujian kehidupan. Namun saat ini, Sikap Kalembo ade terus mengalami degradasi dan erosi makna.

Generasi masyarakat yang Kalembo ade sudah tidak lagi berlapang dada sesuai filosofi namanya. Reduksi dari makna Lembo Ade menjadikan amarah dan benci, diluapkan dalam bentuk kekerasan, pembunuhan sadis, perkelahian antar desa, tawuran dan saling menyalakan antara satu dengan yang lainnya.

Ungkapan Kalembo Ade yang dititipkan para founding father kesultanan Bima,untuk saling menngingatkan, sabar dan tabah serta menjadi manusia yang saling memaafkan, telah digantikan dengan rasa benci dan dendam yang membara, bagaikan air dan minyak yang saling menggoda antara yang satu dengan yang lainnya, padahal kita sama rasa, sama rata, untuk Bima yang berkemajuan.

Kalembo Ade yang telah menjadi panutan serta tauladan masyarakat Bima pada masa lalu hendaknya diaktualisasikan kembali pada saat ini untuk meredam sikap dan tindakan destruktif yang menimbulkan benih-benih konflik yang dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat yang memang secara pendidikan masih rendah.

Kalembo Ade yang telah lama menjadi tata krama pergaulan dalam masyarakat, perlu terus disosialisasikan dalam berbagai kesempatan, sehingga ungkapan dan sikap Kalembo Ade ini bisa mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Bima untuk kini dan nanti.

Masyarakat Bima akan terus maju dan berkembang, peradaban dan budayanya harus tetap dijaga dan dilestarikan. Memang benar bahwa hikmah dari makna Lembo Ade tak seindah dulu, makna Lembo Ade diduakan dan diselingkuhi dengan makna-makna baru yang kurang mendidik dan kotor, maknanya tereduksi melalui nyala api yang tiada henti.

Kini makna Lembo Ade hanya diindahkan dengan tulisan, dimuliakan dengan kata-kata tapi dikhianati dalam tindakan, begitu menyakitkan.Mari Menjadi Manusia Yang Lembo Ade, baik sikapnya, ucapanya, budinya, semuanya, demi masyarakat bima yang beradab dan berkemajuan.

Penulis : Taufik Rahman, S.Pd