Legenda Pulau Ular : Pulau Keramat Yang dikutuk Oleh Sang Raja
Cari Berita

Advertisement

Legenda Pulau Ular : Pulau Keramat Yang dikutuk Oleh Sang Raja

Senin, 09 Oktober 2017

Pulau Ular (foto : lombokatraktif.blogspot.com)
Salah satu Surga dunia yang tersembunyi, mungkin kata itulah yang cocok untuk mengungkap keberadaan pulau ular yang terletak di Desa Payi kecamatan Wera Kabupaten Bima Propinsi Nusa Tenggara Barat.

Pulau ini dipenuhi oleh ratusan ular laut yang jinak dan ramah membuat pulau ini disebut sebagai pulau terunik sekaligus aneh di mata para Wisatawan. Bagaimana tidak? Ular laut yang dikenal ganas dan berbisa mematikan menjadi ramah dan tak sedikitpun mengganggu para pengunjung, malah pengunjung dibuatnya aman dan nyaman.

Tidak hanya itu, Pulau ini menyimpan sejuta sejarah pada masa kejayaan kerajaan Sang bima, (Raja pertama bima yang di ambil namanya menjadi nama daerah bima). Dari kisah inilah yang menjadi nilai history yang logika kita tidak akan percaya dengan keramatnya pulau ini.

dikisahkan Pada jaman kepemimpinan raja indra kumala, terjadi peperangan antara Kerajaan Bima dengan Kerajaan Flores, dalam peperangan tersebut kerajaan Bima berhasil menaklukan kerajaan Flores. Akhirnya seluruh wilayah dan peraturan kerajaan Flores di pegang penuh oleh kerajaan Bima.

Setelah sekian tahun tunduk dan takluk pada pemerintahan kerajaan Bima, Kerajaan Flores membangun kembali kekuatan pasukannya dan berniat untuk membebaskan wilayah kerajaannya dari semua aturan kerajaan Bima. Guna untuk meluruskan niatnya tersebut, kerajaan Flores melakukan perjanjian kerjasama dengan pemerintahan Belanda, dengan syarat kerajaan Flores harus membayar upeti kepada pemerintahan Belanda dan seluruh hasil SDA (Sumber Daya Alam), harus di jual kepada Pedagang Belanda. Namun rencana pemberontakan dan perjanjian kerja sama antara Kerajaan Flores dengan pemerintahan Belanda di ketahui oleh Kerajaan Bima melalui Kabar dari mata-mata yg di kirim khusus oleh kerajaan Bima, Karena melihat kejanggalan aktivitas pemerintahan Belanda terjadi pada wilayah Flores.

Mendengar berita yang di sampaikan oleh mata-mata tersebut, Raja Bima (Indra Kumala), kemudian Mempersiapkan pasukan perang guna untuk menghacurkan bibit-bibit pemberontak bersama antek-antek Belandanya.

Setelah pasukan Kerajaan Bima siap, Mereka menghadang musuh yg ingin melakukan pemberontakan di wilayah timur Bima (Wera dan Sape), Terjadilah perang yg dahsyat, Pasukan Kerajaan Bima berhasil menaklukan musuh dan menggiring semua tahanannya ke sebuah pulau, pulau yang saat ini dikenal dengan nama Gili banta (Giling bantai), untuk di hukum mati, menggiling semua tahanan kemudian di bantai. itulah sejarah asal muasal nama pulau Gili Banta (giling Bantai).

Sementara kapal Yang memuat Raja Flores dan para petinggi pemerintahan Belanda di tawan/tahan oleh pasukan armada Kerajaan Bima. Kemudian Raja Bima dengan Kemurkaannya Mengutuk seluruh Awak kapal dan Raja Flores beserta para petinggi Belanda menjadi Hewan melata (ular) dan Kapal nya menjadi batu yang membentuk sebuah pulau, dan, tiang kapal tersebut menjadi pohon Kamboja yang sampai sekarang masih hidup dan tidak pernah tumbuh besar.

Karena batu besar yang membentuk pulau tersebut berpenghuni ular. Akhirnya Masyarakat setempat menyebutnya Nisa (pulau ular).

Namun demikian, tidak banyak banyak yang tahu tentang sejarah pulau ular, bahkan pulau ular masih banyak tidak tersentuh oleh para wisatawan, hal itu disebabkan karna akses transportasi yang cukup memprihatinkan. Jalan menuju pulau ular ini masih sangat rusak yang hingga saat ini tak kunjung di perbaiki. 

Penulis : Ginanjar