Korelasi Rezim Jokowi dan Bangkitnya Komunisme
Cari Berita

Advertisement

Korelasi Rezim Jokowi dan Bangkitnya Komunisme

Selasa, 03 Oktober 2017

Ilustrasi (foto : Berita Islam Terkini - blogger)
Isu kedekatan dengan China menjadi bahan bincang menarik, bukan hanya soal ekonomi tapi juga politik kekuasaan. Bagaimanapun kita pernah punya pengalaman pahit saat Soekarno membentuk poros Jakarta - Peaking, setelah kunjungannya ke Amerika berbuah frustrasi karena dihinakan.

Poros Jakarta-Peaking inilah yang kemudian banyak dituding sebagai biang bangkitnya paham komunis di negara kita. Pendulum politik luar negeri kita berubah signifikan. Lebih dekat ke China ketimbang sebelumnya. Ada pertimbangan strategis dilihat dari sisi geopolitik dan perdagangan, negeri China jauh lebih memikat ketimbang barat yang sudah jenuh dan sesak.

China adalah pasar yang luas. Produk maksimal dengan harga murah. Siapa tidak tergiur bahkan Amerika dan Eropa. Kalah produktif dibanding China. Pertimbangan ekonomi inilah yang kemudian merubah politik luar negeri kita bergeser ke China. Meski diikuti dengan ongkos politik tinggi.

Import ideologi tak bisa dihindari, termasuk ekspansi budaya (culture ekspansion) dan mobilisasi sosial (social mobilization). Sebagaimana McLeland pernah mengingatkan. Dan China tentu tak ingin memberi pinjaman gratis. Pintu diplomasi dibuka. Dan China tahu betul bagaimana memanfaatkan situasi dengan cermat.

Tidak ada penjelasan akurat, apakah komunis bangkit. Apa indikatornya. Dan lebih lagi siapa orangnya atau apa kumpulannya. Kontroversi pun menggelinding cepat seiring menjelang tahun politik, berbagai isu diangkat untuk menaikkan atau sekedar kampanye hitam. Termasuk isu tentang komunis yang ditabalkan pada rezim Jokowi.

Tak ada yang bisa dijelaskan selain isu-isu yang dibangun untuk kepentingan kelompok atau partisan dan itu menariknya. Isu PKI menjadi bola liar tidak jelas siapa yang paling dirugikan atau diuntungkan. Terus menggelinding tanpa kendali, mungkin bakal ada yang dilindas atau ada penumpang gelap dan kaum upportunis yang menunggu situasi tepat untuk bertindak.

Lepas apakah PKI berbahaya bagi eksistensi NKRI karena paham meniadakan Tuhan. PKI memiliki banyak kelebihan yang dirindukan rakyat kecil yang lapar dan tertindas. PKI menjadi harapan dan salah satu alternatif di jalan buntu. 

Bagaimanapun Simbol palu dan arit jauh lebih merakyat dibanding simbol matahari atau tali jagat yang eksklusif. Keadilan Komulatif sama rata sama rasa menjadi pilihan ketika kapitalisasi dan modernisasi tak terbendung.

PKI adalah rakyat yang dibendung haknya. Yang dimiskinkan dan dipatahkan semangatnya. PKI adalah harapan dan mimpi orang tertindas yang remuk karena rezim represif. PKI bukan partai yang dibangun para borjuis untuk mempertahankan diri.

Setidaknya PKI memberi rakyat kecil mimpi indah meski tak pernah nyata. Dan itu sudah cukup. Lalu apa korelasinya dengan Jokowi atau siapapun, sebab PKI hanya bakal tumbuh jika kesenjangan sosial terus melebar. kapitalisme menggurita, korupsi tumbuh subur. tidak penting siapa rezim berkuasa. 

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar