Inilah Suka dan Duka 7 Perempuan Asal Bima Ketika Berhijab
Cari Berita

Advertisement

Inilah Suka dan Duka 7 Perempuan Asal Bima Ketika Berhijab

Selasa, 31 Oktober 2017

Ilustrasi
Indikatorbima.com - Hijrah dan berhijab serta bercadar rupanya bukan perkara yang mudah bagi mereka yang sekarang sedang berjuang memperbaiki diri untuk berpakaian sesuai dengan anjuran islam. Di jaman yang modern dengan segala pernak-pernik, gaya/style pakaian yang berwarna-warni ini, ada saja hinaan, cemoohan, bahkan cacian yang kerap diterima oleh mereka yang hijrah untuk berhijab.

Suka dan duka seperti yang di alami oleh beberapa perempuan asal bima ini merupakan pukulan keras bagi mereka yang sukanya menilai orang dengan sebelah mata, padahal belum tentu mereka benar. Namun demikian, beberapa perempuan asal Bima ini tetap kuat beristiqomah di jalan Allah Swt, teguh pendirian mereka dalam menegakkan kebenaran Allah Swt di atas muka bumi ini.

Suka dan duka mereka terima dengan tetap bersyukur kepada Allah Swt. Padahal sesungguhnya mereka sedang berjuang untuk kedua orang tuanya, untuk saudara laki-lakinya, untuk membantu para Ikhwan dalam menjaga pandangannya. Bagimana suka dan duka mereka para perempuan asal Bima ini dalam hijrah dan berhijab? Berikut hasil wawancara Indikator Bima dengan mereka.
Foto : Siti Hajar
1. Siti Hajar, Mahasiswa kelahiran 16 Mei 1995 Desa Campa, Kecamatan Madapangga, Bima ini merasa aman, nyaman dan sangat dihargai oleh kaum laki-laki ketika menggunakan hijab. Mahasiswa Jurusan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang Angkatan 2013 ini tak mengapa dibilang hijabnya hanya mengikuti tren kekinian. Ia hanya meyakini usahanya tidak akan sia-sia.

"Sukanya, hijab memberi saya kekuatan yang tidak diduga kepada saya. Banyak dari kaum laki-laki yang lebih menghargai saya. Saya merasa terlindungi dan aman dengan jilbab besar saya. Dukanya, yah gitu terkadang banyak yang menganggap kalau saya memakai jilbab besar hanyalah sebuah tren (ikut-ikutan) atau pengen kekinian," tuturnya kepada Indikator Bima. 
Foto : Jaitun
2. Jaitun, Mahasiswa kelahiran 16 September 1997 Desa Ntori, Kecamatan Wawo, Bima ini kadang dibilang sok alim ketika menggunakan hijab. Mahasiswa Jurusan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang Angkatan 2015 ini tak jarang dipandang sebelah mata, bahkan di bilang ribet.

"Suka dukanya ketika memakai hijab terkadang orang memandang dengan sebelah mata, ada juga yg beranggapan untuk apa berhijab sedangkan tabia'atnya masih jelek. ada juga sebagian dari masyarakat yang menganggap kalau memakai hijab itu sok alim dan ribet. Banyak orang yang menanyakan apakah kamu nggak gerah memakai hijab seharian," ujarnya.
Foto : Lilis Agustina
3. Lilis Agustina, Mahasiswa kelahiran 12 Agustus 1997 Kelurahan Tanjung Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima ini sering mendapat kritikan dan pertanyaan-pertanyaan yang kadang membuatnya sakit hati. namun mahasiswa Jurusan luar biasa, Universitas Negeri Makassar angkatan 2015 ini tetap sabar dan tabah, meski sesekali ia menanggapi pertanyaan-pertanyaan tersebut.

"Sukanya terlihat lebih anggun, kelihatan gemuk, tapi niat yang utama itu karna ingin muhasabah diri terus dukanya itu kalau ada yg comen kaya gini, ih udah berubah, udah jadi ukhti, sejak kapan? Yakin mau seperti itu li? gak tergoda sama pakaian jaman sekarang yang banyak tren? Kamu gak mau bergaya dulu nikmati masa mudamu? Kata-kata itu yang terkadang bikin sakit hati," terangnya.

"Sama ada yang bilang kerudungmu terlalu panjang dikurangin dikit dong li, sakit banget rasanya kaya tidak di hargai, karna merubah diri itu susah, tapi pernah lili bilang sama teman lili kalau seandainya saya salah dan berprilaku tidak sesuai dengan pakaianku jangan salahkan hijabku tapi salahkan diriku," tambahnya.
Foto : Listiana
4. Listiana, Perempuan kelahiran 17 September 1993 Desa Tawali, Kecamatan Wera, Bima ini merasa bahagia dan jatuh cinta pada hijabnya. Alumni mahasiswa Jurusan Manajemen Perpajakan Kampus Bina Sarana Informatika, angkatan 2013 ini hampir setiap hari jatuh cinta pada hijabnya.

"Suka duka dalam hijab itu kalau di bahas sebenarnya nggak ada habisnya sih, selalu ada aja sisi untuk diamati. karena mungkin memang hijab ini bentuk cinta kasih Allah terhadapku. dengan segala macam pernak pernik pandangan dan anggapan orang-orang disekitar yang berbeda beda. suka nya bisa saya contohkan seperti kehidupanku yang berubah drastis dari sebelumnya, merasa lebih percaya diri. dan tentunya ada kebahagiaan yang luar biasa. tak habis jika diutarakan lewat kata-kata. Intinya setiap harinya selalu saja jatuh cinta dengan hijabku," ungkapnya. 

"Sedangkan dukanya mungkin lebih dominan ke kehidupan ditengah masyarakat, dimana aku kadang dipandang beda, dianggap terlalu fanatik dan kaku. Membatasi pergaulan, dianggap sombong, bertemu teman laki-laki jika tak direspon jabat tangannya dibilang berlebihan," tambahnya.
Foto : Wulandari Sandu
5. Wulandari Sandu, Perempuan kelahiran 7 Mei 1994 Desa Sangiang, Kecamatan Wera, Bima ini kadang di bilang ibu-ibu. Alumni mahasiswa Bina Sarana Informatika ini memulai hijabnya sejak tahun 2014 dengan modal menjual semua celana jeansnya demi membeli gamis dan rok untuk berhijab.

"Sejak masih kuliah sekitar tahun 2014 sampai 2017 sebelum puasa, Alhamdulillah saya sudah mulai berusaha untuk menutup aurat (seluruh tubuh kecuali muka, telapak tangan dan kaki) saat itu, mungkin cacian tidak terlalu menyakitkan sebab, cuma di bilang mirip ibu-ibu dan kelihatan tua (nggak modis). Dulu sekali, pas awal-awal hijrah saya tidak punya gamis, rok, kaos kaki dan jilbab lebar," ucapnya.
Foto : Nurmalasari
6. Nurmalasari, Mahasiswa kelahiran 20 Juli 1995 Desa Campa, Kecamatan Madapangga, Bima ini memiliki pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidupnya. mahasiswa Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian dan peternakan Universitas Muhammadiyah Malang Angkatan 2014 ini menganggap Hijabnya adalah pelindung baginya.

"Memakai hijab sangat di hormati, saya pernah pulang sangat larut malam sekali dari kampus dengan teman perempuan saya, saat kami berjalan menuju kost ada 3 cewek dengan pakaian yang cukup terbuka melewati beberapa cowok yang duduk di persimpangan jalan mereka digoda dengan perkataan yang tidak pantas, kami pu takut melewati jalan itu, tapi dengan bissmillah saya dan teman saya mencoba jalan melewati gerombolan cowok tadi, allhamdulillah kami tidak di ganggung ataupun di goda," tuturnya.

"dengan perlindungan Allah kami merasa nyaman, apalagi saya kan disini adalah anak rantau jilbab atau jibab perupakan pelindung diri bagi saya pribadi," tambahnya.
Foto : Nurul Inayati Permata Sari
7. Nurul Inayati Permata Sari, Mahasiswa kelahiran 23 November 1996 Kecamatan Pekat, Dompu ini menganggap hijabnya adalah mahkota. mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Indra Prasta PGRI Angkatan 2014 ini sering kali dicemo'oh dengan sapaan ibu haji orang arab, namun ia sangat ikhlas lilahitallah.

"Saya semakin merasa bahwa Ini memang pakaian terbaik seorang akhwat. mahkota terbaik dan pelindung terbaik. Saya merasa beruntung karna Allah sentuh hati saya untuk kembali dan tau cara berbusana sesuai syari'at. merasa Beruntung bahwa Allah masih melimpahkan saya hidayahnya. saya harus semangat menjadi mensyiarkan Ini semua kepada Akhwat-Akhwat lain. itu dia sampai sekarang saya masih semangat, meskipun kadang saya sering di panggil ibu haji orang arab dan lain-lain. Tapi saya Ikhlas Lillahi Taala," tuturnya.

Itulah suka dan duka mereka, perempuan-perempuan hebat pejuang kebenaran Allah dalam menjaga dan melindungi aurat sebagai seorang muslimah. Mereka tegar dan tetap semangat meski harus dihina, dicaci dan maki bahkan direndahkan, mereka ikhlas dan tetap bersyukur atas suka dan duka yang mereka alami. Bagi penulis mereka adalah garda terdepan dalam sebuah perjuangan melindungi orang tua dan suadara laki-laki dari siksa api neraka, mereka telah membantu para ikhwan dalam menjaga pandangan mereka.

Sejujurnya penulis sangat bangga dan terharu melihat perjuangan mereka. Subhanallah, Bima nyatanya memiliki aset yang sangat berharga. Penulis ingin mengajak pada kita semua untuk menghargai dan menghormati pengorbanan mereka bahka bila perlu membantu mereka dengan dukungan moral untuk tetap semangat dan istiqomah dijalan Allah. Tidak menutup kemungkinan mereka dapat dijadikan sumber semangat dan panutan bagi yang lain untuk berhijrah dan berhijab.

Semangat amancawa-amancawa (Saudara-saudara perempuan). Sekarang kami tau betapa besar perjuanganmu untuk kami kaum laki-laki. Terimaksih, semoga Allah selalu melindungi dimanapun kalian berada. Amiin.

Penulis : Furkan