Imawati Sebagai Gerakan Liberasi
Cari Berita

Advertisement

Imawati Sebagai Gerakan Liberasi

Minggu, 29 Oktober 2017

Foto Penulis Harmoko memakai Jas alamamater IMM Warna Marah 
Batasan tentang feminisme dan para feminismenya sudah dikenal di lingkungan dunia muslim di berbagai wilayah di Asia dan bukan-Asia, di dunia Timur pada umumnya, apa lagi muslim di dunia Barat.

Pengertian feminisme menjadi cukup "bervarian" ketika feminisme masuk dalam wacana yang mengaitkan fitrah fungsi serta peran perempuan, terlebih setelah dibatasi kalangan agama tertentu yang terekspresikan dalam berbagai karya mereka.

Umumnya, feminisme mempunyai artian sebagai "suatu kesadaran akan penindasan dan pemerasan terhadap perempuan dalam masyarakat, baik itu di tempat kerja ataupun dalam keluarga, serta tindakan sadar oleh perempuan dan laki-laki untuk mengubah keadaan tersebut". Artian feminisme sedemikian ini biasanya tidak pilah dari artian gender; yaitu "kesadaran akan ketidakadilan gender yang menimpa para perempuan baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat, dan tindakan sadar oleh perempuan ataupun laki-laki untuk mengubah keadaan tersebut".

Kalau kita telisik kondisi jender atau pada kontek ikatan mahasiswa muhammadiyah (IMM) yang biasa disebut sebagai immawati.

Immawati merupakan bagian khusus atau bidang khusus yang ada di IMM sebagai pilar gerakan perempuan, sebelum kita membahas lebih jau tentang immawati maka penulis nantikan mencoba mendevinisakan dulu apa itu immawati? Pengertian Immawati Immawati merupakan bidang khusus yang ada di ikatan mahasiswa muhammadiyah yang arah perjuangan lebih fokus pada pembinaan perempuan.

Secara teoritis immawati merupakan perempuan tauladan bagi perempuan lainya itu devinisi secara sederhananya. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah organisasi kader yang menegaskan diri sebagai “pelopor, pelangsung, penyempurna” amal-usaha persyarikatan, ummat, dan bangsa; dengan kompetensi gerak dalam bidang “spiritualitas, intelektualitas, moralitas dan humanitas”, serta berpegang teguh kepada Al-Qur’an, As-Sunnah. Nilai pengabdian yang menjadi norma utama.

Organisasi inilah yang senantiasa dimanifestasikan sebagai wujud kesalehan Illahiah dan sosial di seluruh ranah hidup dan kehidupan, bagi seluruh kader IMM, baik secara personal maupun keorganisasian. Sejarah telah menulis peran dan konstribusi besar IMM termasuk didalamnya eksistensi IMMawati sebagai bagian kekuatan, pendobrak dan pencetus gerakan perempuan dewasa ini.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, perempuan sebagai agen perubahan (agent of change) harus mampu melahirkan ide, pikiran dan strategi baru sebagai bentuk kontribusi dalam membangun dan mendidik diri untuk lebih aktif, kreatif, dan inovatif. Isu-isu k-perempuanan sampai hari ini masih disambut dengan gegap gempita oleh mereka yang memiliki sensitifitas tentang dunia perempuan.

Lahirnya teori feminisme dengan berbagai latar belakang ideologi sebagai kekuatan penggugat atau seluruh sistem yang dianggap menghegemoni ruang gerakan perempuan.

Dalam praksis gerakannya, IMMawati sebagai salah satu bagian dari bangunan gerkan perempuan berupaya meliberasi perempuan dari suatu budaya yang menghegemoni, setelah itu perlu adanya penanaman nilai-nilai ideologi dan kemanusianaan yang menghumanisasi perempuan didasarakan atas nilai transendental atau keimanan kepada Allah SWT sehingga terwujud IMMawati Yang berbudi pekerti luhur dan berakhlaq mulia.

Hal ini tidak lepas dari proses panjang yang di lewati kader-kader IMM adalah IMMawati dengan semangat “kepeloporan” untuk mendorong perubahan dari masa lalu yang kelabu ke arah masa depan yang bersinar, sebagai bentuk pengabdian dan kecintaannya terhadap agama, bangsa dan negara. Kepeloporan yang dimaksud adalah interpretasi dari sebuah cita-cita ideal yang akan diwujudkan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah termasuk IMMawati dalam “Mewujudkan masyarakat Islam yang di ridhoi Allah SWT”.

Penulis : Harmoko (Demisioner  Ketua Umum IMM Cabang Bima Periode 2016/2017).