Di persimpangan Jalan
Cari Berita

Advertisement

Di persimpangan Jalan

Selasa, 17 Oktober 2017

Ilustrasi (foto : Hipwee)
Semakin hari semakin kesini, semakin sadis hidup dalam upayanya menuntut manusia untuk mandiri. Kadang, ketika kita memiliki teman seperjalanan yang tepat, tempat yang nyaman, sudah berjalan cukup jauh bersama-sama, namun kemudian kita bertemu dengan sebuah persimpangan. Mau atau tidak, siap atau tidak, ikhlas, rela atau tak sanggup sekalipun, kita akan memilih pada persimpangan itu. Bukan memilih tepatnya tapi menerima pilihan. Dan sedihnya , pilihan itu berbeda dengan apa yang selalu kita semogakan.
Lagi-lagi, perpisahan! 
Tentu saja akan ada teman yang baru dalam langkah kita kedepan. Dengan rasa dan sensasi yang pasti berbeda, tapi berada di persimpangan dengan menyaksikan bahwa kita akan mengambil langkah yang berbeda padahal kita sudah berjalan bersama sepanjang jalan, cukup membuat hati getir.
Kita sebagai manusia akhirnya hanya pasrah saat dihadapkan pada keharusan untuk memilih. Akhirnyapun kita akan menemukan dan berjalan pada jalan kita masing-masing. Mengantarkan kita pada babak baru, perjalanan kita dengan orang-orang baru dan mulai beradaptasi lagi, sebelum akhirnya bertemu persimpangan selanjutnya. Bertemu kembali dengan sebuah siklus abadi yang kejam. Berpisah lagi, bukan?
Apa daya, manusia tidak pernah diciptakan bebas dari perpisahan dan pilihan. Paling tidak, kita bisa memaknai betapa indahnya sebuah pertemuan atas terjadinya sebuah perpisahan.
Karena selalu ada alasan di balik sebuah perpisahan. Bersyukurlah bagi kita yang telah menemukan alasan itu.