Harga Bawang Anjlok, Petani Bawang di Wera Merugi
Cari Berita

Advertisement

Harga Bawang Anjlok, Petani Bawang di Wera Merugi

Sabtu, 21 Oktober 2017

Petani Bawang Merah ketika merawat bawang di sawahnya.
Indikatorbima.com - Harga bawang merah di Kabupaten Bima khusunya Kecamatan Wera anjlok hingga 70 persen dalam dua musim panen terakhir. Selain hama ulat dan obat-obat insektisida yang harganya cukup mahal, Kurangnya pembeli juga menjadi faktor kerugian petani di Kecamatan Wera Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Sabtu, (21/10/17).

Harga obat yang cukup mahal serta kurangnya pesrsediaan obat-obat hama tersebut di toko-toko terdekat membuat petani bawang merah kesulitan dalam bertani.

"Harga obat-obatan insektisida bawang merah begitu mahal, serta tak adanya persedian obat-obat tersebut di toko-toko terdekat membuat kami para petani resah dan harus turun ke kota untuk membelinya" ujar Nujlan (28) warga Desa Pai kepada Indikator Bima.

Disamping itu, Kurangnya investor (Big Bos) sebagai pembeli bawang merah menjadi faktor utama anjloknya harga bawang sehingga membuat petani bawang merah merugi.

"Jangankan harga bawang yang kami ketahui, pembelinya saja belum ada yang melihat untuk membeli hasil bawang kami" tuturnya Hanjairin (25) warga desa Tawali Kepada Indikator Bima.

Hal serupa juga di ungkap oleh Odin (27) Warga Desa Pai yang mengatakan bahwa harga bawang untuk panen kali kedua sangat anjlok dibanding dengan panen kali pertama.

"Dua kali musim panen harga bawang merah anjlok, dari kali pertama harganya 2 juta lebih, kali kedua 1 jutaan, Hingga panen terakhir 800 rb" ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat Bur (29) warga Desa Pai Kecamatan Wera kabupaten Bima, memilih untuk tidak menjual dan menyimpan bawangnya untuk di jadikan bibit di masa tanam berikutnya.

Reporter : Ginanjar