Generasi Bima Multi Profesi (Guru Jadi Petani, Petani Jadi Guru)
Cari Berita

Advertisement

Generasi Bima Multi Profesi (Guru Jadi Petani, Petani Jadi Guru)

Minggu, 01 Oktober 2017

Foto : Penulis
Bima adalah wilayah yang banyak memiliki generasi cerdas, generasi yang sekolah, generasi yang sarjana. Dari berbagai jurusan dan gelar akademik.

Bayangkan saja satu rumah jika mempunyai 4 saudara maka tak jarang empat orang itu menjadi sarjana walaupun profesi orang tua mereka petani, nelayan bahkan buruh bangunan. Tapi semua itu tidak sepadan dengan instansi yang ada di bima atau lahan buat mereka bekerja selesai tamat kuliah. Baik itu instansi swasta maupun instansi negeri. Jadi seorang yang honorer atau pegawai suka rela di instansi-instansi di Bima itu bagaikan tidak ada harganya di bandinkan penjual koran di kota-kota besar.

Seorang guru dengan jurusan agama misalnya, bisa mengajar di beberapa sekolah, padahal masih banyak guru-guru yang memiliki profesi yang sama mengantri di belakang guru agama itu.  Dan di bima juga seorang guru katakanlah berprofesi sebagai guru matematika bisa mengajar menjadi guru muatan loka atau guru (TIK) tekhnik ilmu komputer.

Coba kita bayangkan di tengah banyaknya profesi guru ada saja sekolah yang mengijinkan satu guru bisa mengajar di 2 bahkan sampai 4 sekolah.  Padahal tenaga pengajar di bima itu sudah banyak, bahkan menumpuk.

Seorang guru matematika tapi harus ngajar muatan lokal atau yang lainnya. Nyambung dari mana ilmunya profesi yang lain ngajar yang lain.  Bukankah akan hancur sesuatu itu kalau bukan di tangani langsung oleh ahlinya.

Terkadang merasa kasihan juga pada mereka yang honorer atau pengajar suka rela, terima gaji triwulan ( tiga bulan sekali)  yah palingan di hargai Rp 200.000 - 300. 000. Dan tak jarang juga bagi sebagian guru mereka juga mengalih profesi jadi petani, penjual air tuak,  penjual obat tramadhol dan profesi lainnya dari pada mengajar karna kebutuhan atau gaji tidak seimbang dengan lelahnya mereka mengajar. Ini bukan terjadi di instansi sekolah saja tapi di instansi lain.

Di tengah banyaknya orang-orang sarjana, cerdas ini mereka belun mampu membuat bima itu baik dari segala sistem dan perilaku, baik dari membuat usaha sendiri maupun berkarya atau berkontribusi dengan masyarakat. Karna mereka tidak di beri gerak tidak di beri modal dan tidak di beri waktu untuk proses mebangun daerahnya masing-masing. Dan tak jarang mereka mengambil solusi untuk keluar dari bima, untuk merantau. Tak jarang juga banyak yang sudah besar di rantauan, kaya raya, hidup mewah bahkan jadi bejabat di rantauan dan ada juga yang lebih di hargai dan menpunyai nilai di rantauan di bandingkan di negeri sendiri (Bima).

Bukankah generasi emas itu lebih tinggi harganya di bandingkan dengan profesi korupsi dan maling. Tapi mau berkarya bagaimana sedangkan orang tua kita,  masyarakat kita,  bahkan pemimpin kita tidak mendengar dan memberi ruang untuk kita bisa memberikan yang terbaik untuk bima dan generasinya. Apakah generasi yang salah, rumah mereka yang salah atau pemimpin mereka?? Jika semua salah jangan di persalah Jika semua benar mari saling membenarkan.

Saran saya biarkan generasi cerdas dan sarjana di bima berperan dengan keahlian dan profesi mereka dan sepadang dengan nilai dan harga sebagai seorang yang sarjana.

Instansi-instansi harus di perbaiki lagi sistemnya dan di bangun lebih banyak lagi.  Dengan banyaknya generasi cerdas, sarjana dari berbagai jurusan seharusnnya bima sudah menjadi daerah yang maju dan berkembang.

Bung Karno (presiden peratma indonesia pernah bilang). pernah berkata "Berikan aku 10 pemuda makan akan ku guncang dunia." Nah di bima bukan lagi 10 pemuda tapi ribuan". Aku juga ingin berkontribusi buat bima minimal lewat tulisan ini semoga saja ada yang sadar.

Penulis : Tri Sutrisno