(Diary Naima 2) Sebatas Rindu yang Tak Sempat Terucap
Cari Berita

Advertisement

(Diary Naima 2) Sebatas Rindu yang Tak Sempat Terucap

Minggu, 08 Oktober 2017

Foto : Penulis
Matahari kian beranjak ke peraduannya, pada sinar terangnya mencoba membuka harapan baru Ia pun perlahan pudar menuju arah barat, entah apa yang terjadi tanpa sinarnya, galap pun mulai menyapa dengan sinar redup dari sang bintang yang bermesraan dengan awan, harapan akan tetap ada walaupun dengar sinar redupnya. Ssttttt... Heheheh. Kok jadi sok puitis seperti ini, padahal malam tetap melukiskan gelap walaupun ada rembulan dan sang bintang.

Jarum jam berputar begitu cepat, aku pun bergegas menuju acara festival. Dalam perjalan entah kenapa ada sesosok wajah yang tidak begitu asing ku lihat, dengan dua lekukang senyum dibibirnya, hatiku pun bertanya siapakah sosok laki-laki yang menyapa ini, ahhh palingan dia menyapa orang yang berada di belakang ku, dengan cepatnya aku pun menoleh, tak ada orang disekitar ini, akhirnya kualihkan lagi pandangan ku pada sosok laki-laki itu, dengan rona senyum yang membuat hati ini begitu tenang, dia pun menyapa ku kembali. Apakah ini mimpi? Laki-laki ini begitu ramah dan baik. Dia tersenyum pada ku (dalam hatiku bergumang), kemudian aku menyadari bahwa laki-laki ini bertanya padaku. "Nanti kamu mau menampilkan jenis pentas seni apa?" tanya ia kepadaku. Aduhh malu nya aku, (sembari memukul jidat). "Mohon maaf mba, sampean daftar pentas apa?" lanjutnya, kembali dengan suara dan senyum yang indah. Sambil memperhatikannya aku merasa begitu gugup dan aku menjawab pertanyannya dengan suara terbata-bata. “ss sa a ya mendaftar untuk menceritakan donggeng.” kemudian laki-laki itu sedikit tersenyum dengan dua lekukan senyum dibibirnya, dengan ramah berkata "iya silahkan lewat sini" aku pun senjenak terdiam dan aku dalam hati berkata apa ini sesosok jiwa yang sering aku perhatikan tiap waktu?. Lukisan senyum diwajahnya yang indah dengan bibir yang tipis membuatku sejenak gugup dan bodoh, Tuhan apa ini takdir yang telah digariskan oleh mu?, benarkan dia sesosok jiwa yang sering aku perhatikan tiap waktu??. Bahkan kali ini aku behadapan dengannya, saling menyapa dan berbincang. Ah, entalah!. Prtttttt, suara dari belakang, ternyata dia temanku. Sontak membangunkanku dalam mimpi indah membayangkan sosok jiwa idaman tambatan hati, Ehhh kok berdiri diluar saja, Itu loh bukanya no urutan penampilan mu??” Sahut dia dengan muka manja.

Terdengar suara selanjutnya penampilan dari nomor urut 54 akan menceritakan sebuah dongeng, mari kita sambut Nurul Naima Attunnisa, aku tak menyangka bahwa itu nomor urut penampilanku, akhirnya aku bergegas menuju panggung, tanpa menghiraukan temanku, "Mimi semangattt, mi jangan lupa berdoa dan jangan gugup yahh," suara teriaknnya karena aku tidak mengkiraukannya. Sambil jalan hati ini bertaya, sejak kapan aku berdiri kayak tadi, kenapa waktu begitu cepat apa aku sedang mimpi?. Kenapa bisa berdiri seperti tadi tanpa memperhatiakan sekitar. sssstttt entah apa yang sedang aku pikirkan, sudahlah sekarang fakus, huuuuhuuuuu tarikan napas panjang untuk mengembalikan kesadaranku dan mencoba untuk fokus.

Bersambung ke (Diary Naima 3)

Penulis : Nurmalasari