Budaya ‘’Kalei Bunti’’ Masyarakat Desa Bolo Tetap Lestari
Cari Berita

Advertisement

Budaya ‘’Kalei Bunti’’ Masyarakat Desa Bolo Tetap Lestari

Muh Ainul Al-Basyir
Selasa, 31 Oktober 2017

Seorang pengantin perempuan sedang di usung oleh masyarakat secara gotong royong (foto : Kampung Media)
Kalei Bunti (usung pengantin) Pengantin yang di usung pun yakni pengantin perempuan. Budaya ini masih dilestarikan oleh warga Desa Bolo sampai sekarang.

Budaya Kalei Bunti ini sudah melekat dan tak bisa dipisahkan dari kehidupan warga masyarakat, khususnya di saat acara-acara pernikahan. Kalei Bunti ini ada di Desa Bolo Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima-NTB. Budaya yang menjadi palaksanaan rutin warga ketika ada hajatan pernikahan ini sangatlah menarik, selain melestarikan budaya yang sudah turun temurun, Kalei Bunti juga menjadi suatu nilai keairifan lokal yang patut dilestarikan.

Pelaksanaan acara ini diawali dengan pengantin perempuan akan diusung keliling desa, hingga berakhir di tempat kediaman pengantin itu sendiri.

Adapun tempat dilaksanakanya acara Kalei Bunti ini, yakni berlangsung di jalan raya dan dimulai sekitar jam 22:30 wita (malam) hingga selesai.

Sebelum dimulai, pihak keluarga  pengantin  perempuan melaksanakan acara rembungan besama dengangan tokoh masyarakat, tokoh agama dan warga setempat, kemudian diikuti pembacaan ayat-ayat Al-qur’an dan ceramah agama. Usai mengikuti berapa acara tersebut, pihak keluarga pengantin menentukan tempat dimulainya acara Kalei Bunti tersebut.

Setelah ditentukan, pengantin perempuan pun berjalan kaki diikuti rombongan, bisa juga dibawa (di gonceng) menggunakan sepeda motor  menuju lokasi start. Warga lain pun ikut merapat ke lokasi tersebut. Termasuk juga kelompok rebana (hadrah), pelaku dzikir serta kelompok pemuda yang ditugaskan untuk pengamanan jalan raya. 

Setelah semuanya sudah dipersiapkan, pengantin perempuan ini dipersilahkan duduk di kursi,  atau ibratnya sang ratu naik tahta yang siap diusung oleh empat orang laki-laki. Acaranya pun mulai dilangsungkan.

Pengantin perempuan terlihat bahagia dengan wajah ayu dan senyum ramah kepada para warga yang menonton disepanjang jalan, bagaikan sang ratu yang manis di singgasana, itulah khiasan tradisi budaya Kalei Bunti di Desa Bolo Kecamatan Madapangga. Pada saat acara  berlangsung rombongan kalei bunti berjalan kaki mulai dari tempat star. Lantunan shalawat dan dzikir, seakan menjadi nuansa sakral. Pukulan rebanah pun membuka memori akan terlestarinya musik tradisiaonal di Desa Bolo.

Adapu pihak kelurga pengantin juga masuk dalam barisan rombongan kalei bunti, termaksud warga lainya. Mulai dari usia tua, muda, remaja maupun anak-anak. Semua yang diperlihatkan mereka adalah sebuah kebersamaan. Begitupun tidak ada perbedaan status sosial lainya sehingga tradisi budaya kalei bunti di Desa Bolo Madapangga, masih melekat dan dilestarikan meski dihadapkan oleh perkembangan zaman pada saat sekarang.

Penulis : Arifudin