Alangkah Bahagianya Orang-orang Yang Ummi
Cari Berita

Advertisement

Alangkah Bahagianya Orang-orang Yang Ummi

Minggu, 22 Oktober 2017

Ilustrasi (foto : ssclive.org)
Nabi Muhammad saw dijadikan tidak bisa membaca bukan karena beliau malas atau jahil. Tapi Allah taala berkehendak lain. Ada rencana yang matang. Di tangan orang ummi ini perintah membaca pertama kali diturunkan. Iqra' .. bacalah ..". Jibril as memeluk erat dan memaksa Muhammad bin Abdullah yang tidak bisa baca tulis. "Aku tidak bisa membaca .. ". Kata Nabi saw gemetar, keringatnya bercucuran karena tegang yang sangat.

Hidup di tengah masyarakat yang sangat pintar. Banyak penyair dan sastrawan tangguh. Muhammad bin Abdullah justru ummi. Tidak bisa membaca, menulis apalagi berhitung. Antitesis dari realitas masyarakat hedonis dan materialistis.

Ibnu Taymiyah berkata:"Karena umminya itu Nabi saw terhindar dari tuduhan mengarang Al Quran. Beliau juga di protek dari berbagai informasi hoax. Semua informasi yang beliau terima berdasar wahyu. Lingkungannya tak berpengaruh sama sekali dengan kondisi kejiwaan Nabi saw.

Nabi Saw dibuat Allah steril dari informasi dan pengaruh lingkungan buruk. Beliau juga tidak pernah membaca kitab-kitab sebelumnya demikian Qatadhah dan Ibnu Katsier menjelaskan. Beliau sangat cerdas dan alim, penghulunya para Nabi, mendapatkan ilmu pengetahuan tidak dari membaca, menulis apalagi berhitung.

Ketika dunia kian menyempit, berbagai informasi dan pengetahuan tak lagi jelas. Semua orang merasa menjadi pakar. Menjadi pengadil dan hakim atas perbuatan orang lain yang dia sendiri juga tak paham.

Semua merasa paling pintar dan paling tahu. Kemudian menghakimi siapapun yang berbeda. Lantas dimana kebenaran berada. Menuduh, memfitnah dan membuat stigma negatif tanpa tabayyun. Membunuh karakter tanpa sesal karena merasa benar sendiri.

Menyesal aku bisa membaca dan menulis. Aku banyak tahu dari tulisan dan bacaan penuh benci dan permusuhan. Andai aku ummi seperti Nabi saw. Tidak banyak tahu tentang keburukan dan rupa-rupa fitnah. 

Mungkin ada sedikit ketenangan dan kebahagiaan. Seperti tetangga ku. Berangkat pagi pulang petang. Di ladang itu ia menghabiskan seluruh waktunya. Mencangkul dan shalat di 'belek' sungai. 

Aku cemburu melihatnya. Ia yang disebut Nabi sebagai para penghuni surga. Orang-orang yang tawakkal berhati tipis layaknya burung. Berangkat pagi dengan perut kosong pulang sore setelah kenyang. Tidak pernah menyimpan makanan. Uang tabungan apalagi ATM dan kartu kredit.

Dia pasrah dan menghamba hanya kepada yang Maha Memberi.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar