Aku, Perjalanan Hijrah, dan Hijabku
Cari Berita

Advertisement

Aku, Perjalanan Hijrah, dan Hijabku

Senin, 30 Oktober 2017

Foto : Penulis
Aku seperti ini bukan karena aku merasa diriku sudah baik, bukan karena merasa diri paling sempurna, bukan merasa diri sok alim, dan bukan pula merasa diriku sudah lebih paham tentang agama, Tidak! aku seperti ini karena aku sudah merasa lelah, yah aku lelah bermaksiat, aku lelah berada dijalan yang salah, aku tak ingin menjadi seseorang yang munafik.

Aku pun pernah menyatukan hati diantara 2 manusia yang kita sebut dengan cinta. Karena aku tidak tahu banyak tentang agamaku, aku merasa aku butuh perhatian, aku butuh kedamaian, aku butuh kasih sayang yang aku pikir bisa dan ada dari seseorang. Tapi semua itu justru membuatku semakin terpuruk, semakin jauh dan tersesat dari kebenaran, justru disinilah aku merasa sakit, ketika sebuah penghrapan yang aku pikir itu tulus, justru dikhianatin.

Sampai pada suatu hari aku bertemu dan berteman dengan orang-orang sholehah, orang-orang yang lebih paham tentang agama dan disitulah aku belajar bersama-sama dengan mereka tanpa mereka mencelaku. ya aku yang jauh dari kata sholehah.

Perlahan aku maulai merasakan kedamaian yang luar biasa, aku berfikir inilah yang aku cari selama ini, dan akhirnya aku memutuskan untuk berjilbab sesuai perintah Allah, karena aku sayang bapakku, aku tak ingin memperberat hisab bapakku, aku tak ingin bapakku masuk kedalam api neraka karena aku mengumbar-umbarkan auratku.

Perubahan yang sangat drastis, sehingga membuat semua orang tercengang melihatku. Yah bagaimana tidak, aku yang dulunya setiap kali kemana-mana selalu mengenakan jeans ketat, jilbab pendek dan baju yang bisa dikatakan ngepres body, dan yang lain-lainnya.

Aku mulai terpuruk lagi, aku merasa tidak pantas untuk mengenakan pakaian syar’ih, dan akhirnya Allah memberiku hidayah melalui sebuah mimpi.

Malam itu tanpa sadar, seperti ada secercah cahaya yang masuk dalam hati ini, dan tak ada pintu keluar sebelum aku dan hijrahku. Hijrah? Kata yang sering terdengar. Hijrah mungkin sebagian mengatakan itu mudah. Namun bagiku itu seperti proses yang cukup sulit. Bagaimana tidak? Menunggu 22 tahun umurku baru cahaya itu datang. Jika hijrah dikatakan mudah, itu tidak mungkin bagiku.

Aku memulainya dengan menggunakan rok pengganti jeans ketatku, jilbab yang biasanya ku angkat sudah mulai kujulurkan sampai menutupi dada, ku ubah secara perlahan pakaianku, banyak sekali komentar sana sini ada yang positif dan ada juga yang negatif. Kalimat positif itu misalnya saja “Alhamduillah, semoga tetap istiqomah yah, Ja” dan ketika komentar negatif datang “sumpah loh Ja, kamu beneran hijrah? Gak pengen pakek jeans?”. Pada saat komentar itu muncul rasanya hatiku sudah bergetar. Nah ada satu lagi komentar yang menurutku sangat-sangat waow, ketika aku mulai menggunakan gamis panjang yang sampai kebawah kaki “Penampilan kamu udah kayak ibu-ibu sekarang yah, kelihatan tua banget, hahahaha”, oh tidak Ja, kamu hidup dijaman kapan? katanya.

Salahkah ketika aku menggunakan pakaian sepanjang ini ? bukankah jilbab itu kewajiban bagi setiap perempuan yang mengaku dirinya muslim.?

Hari demi hari kulalui dengan perjalanan yang semakin rumit, semakin menyita banyak waktuku, menyita pikiranku, menyita segalanya yang ada pada diri ini. Banyak orang yang pergi, menghilang, dan tak kembali. Entah apa yang sedang ia rencanakan. Namun aku hanya bisa menguatkan diri melalui berdoa. Ya, hanya doa sumber kekuatanku saat itu. Saat aku belum paham apa makna dari kata Hijrah yang sesungguhnya,. Aku belum paham dan jauh sekali dari kata itu. Hingga akhirnya, kau kembali menguatkanku dalam ayat-ayat-Mu. Membuatku paham dan mengerti apa sesungguhnya yang sedang engkau persiapkan untukku.

Akupun perlahan mengasingkan diri sejenak dari lingkungan yang terkadang membuatku rapuh, bahkan jatuh sejatuh-jatuhnya. Mencari dan terus mencari apa yang semestinya aku lakukan, dan hingga pada akhirnya aku dibuat sibuk, bahkan sesibuk-sibukanya oleh amanah yang beberapa waktu lalu yang membuatku merasa kacau, membuat aku merasa lelah. Hingga akhirnya ia jawab kegundaanku secara perlahan, amanah ini bukanlah menyita banyak waktumu, bukan pula menyita banyak hartamu, hanya saja Allah sedang mengarahkan waktu, harta dan pikiranku melalui amanah ini, yaitu “manghadiri majelis ilmu”. Ya, majelis inilah yang sedang mengarahkan segalanya yang ada pada diri ini agar lebih bermanfaat dijalan-Nya.

Karena demi Allaha, aku tidak lelah, karena demi Allah apapun akan aku lakukan agar kelak aku menjadi hambanya yang layak melihat keindahan cahaya yang terpacar dari-Nya. Hingga aku kini berada pada puncak kesadaran yang sesungguhnya, aku sadar dan mengerti dengan kondisi yang Allah berikan untukku, yaitu kepada Hambanya yang sedang berhijrah, hambanya yang sedang berusaha menjadi sebaik-baiknya manusia yang Allah sangat cintai. “jangan pernah menyerah, jangan pernah lelah. Karena sesungguhnya tempat istrahat kita bukanlah di dunia, melainkan kelak di Syurga-Nya”, Aamiin, Insya Allah.

Bismillah, ya Allah bantulah aku menjadi muslimah yang engkau ridhoi, bantulah aku untuk tetap menjaga hijabku, bantulah aku tuk menjadi muslimah yang selalu takut kepadamu, bantulah aku tuk dapat selalu beristiqomah. Amiin... “Jangan menghakimi AKU karena masalaluku, tapi rangkullah AKU dalam penghijrahan mulia ini” Doakan aku mudah-mudah tetap ISTIQOMAH sahabat.

Penulis : Siti Hajar (Mahasiswa UMM Prodi Biologi Asal Bima Kecamatan Madapangga Desa Campa).