Tradisi Antar Mahar (Wa'a Co'i) yang Akan Hilang
Cari Berita

Advertisement

Tradisi Antar Mahar (Wa'a Co'i) yang Akan Hilang

Minggu, 17 September 2017

Foto : Rombongan Pengantin laki-laki sedang melakukan tradisi antar mahar (waa coi) dengan berbagai tarian dan musik (Foto : Kampung Media Bolo)
Ditengah Jaman Yang Disibukkan Dengan Hiruk Piruk Perkembangan Jaman Dan Teknologi Yang Semakin Canggih, Budaya Dan Adat Istiadat Semakin Dikikis Oleh Jaman Dan Mensulitkan Generasi-Generasi Muda Untuk Mengetahui Bentuk Dan Bagaimana Budaya Yang Dulu Digunakan Oleh Orang-Orang Sebelum Mereka Dalam Kehidupan Sehari-Hari.

Bima Adalah Salah Satu Daerah Yang Memiliki Banyak Budaya Dan Adat Istiadat Yang Unik Dan Menarik Bahkan Layak Untuk Dilestarikan Tetapi Di Era Globalisasi Ini Sangat Kurang Inisiatif Bagi Para Muda-Mudi Untuk Melestarikan Apa Yang Dimiliki Oleh Daerahnya ,Padahal Ini Bisa Menjadi Salah Satu Daya Tarik Bagi Daerah Bima Sendiri Dan Bisa Menjadi Nilai Jual Kepada Para Penikmat Budaya Diluar Sana, Ini Bisa Mejadi Salah Satu Sumber Pemasukan Bagi Daerah Kalau Benar-Benar Diperhatikan.

Salah Satu Adat Yang Mungkin Sebagaian Orang Lupa Atau Bahkan Tidak Tau Yaitu Prosesi “Wa’a Coi” Atau Bahasa Indonesianya “Antar Mahar” Tapi Yang Menariknya Adalah Sesaat Ketika Keluarga Dari Mempelai Wanita Menunggu Mempelai Pria Dan Keluarganya Yang Mengantar Mahar Atau “Wa’a Coi” ,Sebelum Mereka Diterima Atau Dipersilahkan Mempersunting Salah Satu Anak Gadis Dari Keluarga Mempelai Watina, Konon Dulu Mereka Harus Saling Melempar Pantun Sebagai Salah Satu Sarat Agar Bisa Mempersunting Anak Perempuan. Sedangkan Dijaman Globalisasi Ini Sudah Sangat Jarang Dan Bahkan Sulit Untuk Melihat Prosesi Yang Sanggat Unik Dan Menarik Seperti Itu.

Tidak Hanya Berhenti Sampai Disitu Pada Saat Mempelai Laki-Laki Dan Keluarga Menuju Kediaman Mempelai Wanita, Sepanjang Jalan Mereka Akan Diiringi Dengan Musik “Hadora” Atau Bahasa Indonesianya Yaitu Hadrah, Mungkin Disebagaian Daerah Lain Alunan Musik Hadrah Juga Ada Tetapi Dibima Pemain Tidak Hanya Memaikan Alat Musik Tetapi Juga Diiringi Oleh Nyanyian Khas Daerah Dan Tarian-Tarian Yang Unik Dan Menarik, Penarinya Pun Bukanlah Para Anak Perempuan Akan Tetapi Para Lelaki Yang Sudah Tidak Mudah Lagi, Nah Bayangin Bapak-Bapak Menari Dengan Usia Yang Tidak Muda Lagi Hehe Pastinya Seru. 

Sesampainya Dikediaman Mempelai Wanita Pun Masih Ada Proses Yang Masih Harus Dilakukan, Akan Tetapi Bukan Lagi Mempelai Laki-Laki Yang Melakukanya Melaikan Mempelai Wanita Itu Sendiri Yang Melakukanya Yaitu Proses “Raho Nika” Atau “Minta Restu” Kepada Ayahnya Atau Sodara Laki-Lakinya Apabila Ayahnya Sudah Tiada (Meninngal), Proses Ini Tidak Kalah Menegangkan Dengan Proses “Lafa” Atau “Akad Nikah” Yang Dilakukan Oleh Mempelai Laki-Laki Karna Proses Ini Juga Menentukan Diijinkan Atau Tidak Nya Mempersunting Anak Perempuanya Dan Setelah Diijinkan Barulah Proses Akad Nikah Berlangsung.

Semua Daerah Memiliki Keutikan Tradisinya Masing –Masing Tidak Perlu Sungkan Untuk Mengekspos Apa Yang Daerah Kita Miliki Siapa Tau Akan Menjadi Suatu Ketertarikan Buat Orang Lain Dan Suatu Saat Apa Yang Kita Ekspos Bisa Bermanfaat Bagi Generasi Selanjudnya.

Penulis : Nur Kurniati (Peserta lomba menulis artikel Bima dan Dompu tempoe doeloe).