Terkait Kasus DO 22 Mahasiswa UP 45, Berikut Rilis Aksinya
Cari Berita

Advertisement

Terkait Kasus DO 22 Mahasiswa UP 45, Berikut Rilis Aksinya

Minggu, 24 September 2017

Puluhan Anggota Aliansi Mahasiswa Proklamasi sedang long march menuju kantor kepatihan Yogyakarta pada 22 sepetember 2017. 
Kampus adalah rumah bagi mahasiswa untuk.mengembangkan diri dan pikirannya. Sebagai rumah yang mendidik, seharusnya kampus menyelenggarakan pendidikan dengan transparan dan demokratis. Sungguh mencoreng dunia pendidikan ketika kampus diselenggarakan dengan tidak transparan dan melawan demokrasi.

Seperti yang terjadi di Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta, pada periode Maret-Mei 2017, mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Proklamasi (AMP) mewakili mahasiswa/i Universitas Proklamasi (UP) 45 Yogyakarta melakukan aksi menuntut transparansi pengelolaan kampus. Tuntutan mahasiswa tersebut terjadi tentu karna kurang transparannya pengelola kampus. Sehingga menimbulkan gejolak dalam kalangan mahasiswa untuk menuntut transparansi.

Lebih disayangkan ketika mahasiswa kritis dan peduli dengan keadaan kampus, mereka diasingkan dan berusaha disingkirkan. Sebanyak 22 mahasiswa Universitas Proklamasi 45 di drop out pasca melakukan aksi menuntut transparansi pengelolaan kampus. Berbagai macam tuduhan dan kriminalisasi ditujukan kepada mahasiswa-mahasiswa tersebut untuk memojokkan mereka.

Setelah berbulan-bulan dibuat terkatung-katung oleh rektor, nasib 22 mahasiswa tersebut menuai simpati dari mahasiswa berbagai organisasi ekstra maupun intra kampus. Berbagai gerakan rakyat dan mahasiswa bersatu membentuk Aliansi Solidaritas Mahasiswa Proklamasi untuk memperjuangan pencabutan drop out terhadap 22 mahasiswa Universitas Proklamasi 45 dan memperjuangan demokrasi kampus.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh 22 mahasiswa yang d drop out bersama dengan Aliansi Solidaritas Mahasiswa Proklamasi. Mulai dari jalur-jalur lobi, mediasi dan negoisasi sudah dilalui. Namun rektor tetap kokoh mendrop out 22 mahasiswa tersebut.

Menyikapi kerasnya hati sang rektor, mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Solidaritas Mahasiswa Proklamasi melakukan aksi di halaman kampus UP45 pada 18-19 September 2017. Namun betapa mirisnya ketika mahasiwa melakukan aksi damai malah diadu dengan aparat. Pihak kampus menggunakan aparat sebagai tameng. Mahsiswa di represi dan ditekan agar berhenti melakukan aksi.

Mendapati kenyataan tersebut, Aliansi Solidaritas Mahasiswa Proklamasi melakukan aksi damai di kantor kepatihan Yogyakarta pada 22 sepetember 2017. Harapannya, pemerintah daerah dapat menyikapi permasalahan ini yang membuat Yogyakarta sebagai kota pendidikan menjadi gaduh. Pukul 08.00 WIB, mahasiswa telah berkumpul di parkiran Abu Bakar Ali kemudian melakukan long march menuju depan kantor dewan pendidikan. Sesampainya di kantor dewan pendidikan, 5 perwakilan dipersilahkan masuk ke dalam ruangan untuk kemudian dimediasi dengan yayasan UP 45 oleh sekda DIY.

Dalam pertemuan tersebut dihasilkan keputusan, yayasan diminta untuk berkoordinasi dengan rektor agar rektor dapat memberikan diskresi sehingga mahasiwa dapat kembali kuliah di UP45. Rektor diberi batas waktu hingga 27 September 2017 untuk melakukan diskresi.

Adapun mahsiswa diminta untuk tidak melakukan aksi hingga tanggal 29 september 2017. Kedua belah pihak berkomitmen untuk menjaga Daerah Istimewa Yogyakarta agar tetap kondusif.

Melihat begitu besarnya peran pemerintah daerah dan dewan pendidikan dalam mediasi tersebut dan mengingat pentingnya menjaga DIY agar tetap kondusif, mahasiwa yang tergabung dalam Aliansi Solidaritas Mahasiswa Proklamasi telah berkoordinasi dan dihasilkan keputusan :

1. Akan mematuhi komitemen bersama untuk menjaga Yogyakarta agar tetap kondusif.
2. Akan menunggu keputusan rektor hingga tanggal 29 sepetember 2017.
3. Apabila hingga tanggal 29 Sepetember 2017 rektor tetap mendrop out mahasiswa-mahasiswa tersebut, maka Aliansi Solidaritas Mahasiswa Proklamasi akan menggalang massa sebesar-besarnya untuk melakukan aksi massa.

Reoorter : Muhammad Akhir