Takbir - Sapi Kurban Dan Rohingyae
Cari Berita

Advertisement

Takbir - Sapi Kurban Dan Rohingyae

Jumat, 01 September 2017

Ilustrasi penderitaan muslim di Rohingya ( Foto : Sang pencerah)
Ratusan ribu sapi dan kambing bergelimpangan. Darah bercucuran. Diiringi takbir dan tahmid. Makan bersama. Daging ditimbang dan dibagi. Tersenyum puas dan duduk bergerombol di masjid atau lapangan.

Saya tak bisa bayangkan apa yang ada di pikiran saudara kita lain iman. Sapi yang disucikan orang Hindhu itu bersimbah darah dipotong dan mati. Orang Kresten anggap kita pesta pora. Makan dan minum sehari tasyrik penuh.

Beberapa malah menyebut kita persembahkan binatang kurban untuk Tuhan. Kita disebut penganut pagan alias musyrik. Bagaimana mungkin Tuhan butuh kurban dan sesembahan.

Saudara kita di Rohingyae. tak tahu apakah masih bisa shalat Ied atau sekedar ucap takbir diantara desing mesiu. Anak-anak yang kehilangan ibu dan bapaknya.

Rumah dan ladang yang dibakar dan ditinggal karena takut. Para bhikku dengan jubah dan tongkat di tangan. Menggebuk dan membunuh atas nama Budha. Syarat untuk mokhsya barangkali.

Mengusir siapapun yang berbeda Tuhan. Tak hirau pada tangis dan darah. Mungkin sang Budha sedang murka. Gampang tersinggung dan marah.

Pada takbir dan tahmid. Kita rendahkan hati. Jernihkan pikiran dan hati. Saatnya memenggal ego. Kesombongan merasa paling baik dan paling benar. Saatnya melepas status sosial. Manhaj, aliran atau perkumpulan. Rehat sejenak. Tautkan hati. Duduk bersama dalam satu shaf. Menghamba pada Tuhan pemilik semesta. Tak ada lagi aku dan kamu. Tapi kita. Merapat tanpa hijab.

Kita adalah anak-anak Ibrahim. Telanjang tanpa alas kaki. Belum dikhitan. Berkedudukan sama tak ada tinggi dan rendah. Kita hanya bertanggungjawab terhadap apa yang kita kerjakan.

Bukan berapa kilo daging sapi atau kambing di dapat yang sampai kepada Tuhan. Tapi iman yang ada di dada. Berkurban adalah perintah Tuhan. Simbol taat dan kepatuhan. Itu saja. 

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar